Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027

Kompas.com, 11 September 2026, 19:24 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Biaya untuk menggunakan alat kecerdasan buatan (AI) terbaru kini makin mahal, dan banyak pimpinan keuangan diperkirakan tidak melihat kondisi ini bakal berubah dalam waktu dekat.

Meski begitu, banyak dari mereka yang juga tidak berniat menghentikan investasi perusahaannya pada teknologi baru ini.

Melansir ESG Dive, Kamis (10/9/2026) dalam survei terbaru Deloitte terhadap 1.434 pemimpin keuangan, sebanyak 60 persen responden memperkirakan biaya dan kerumitan AI akan melonjak tajam hingga tahun 2027.

Akibatnya, persentase yang sama menyatakan mereka perlu menerapkan praktik pengelolaan biaya AI yang lebih canggih.

Namun tidak semua orang sependapat. Sekitar 35 persen responden berencana tetap menggunakan cara pengelolaan biaya yang ada saat ini karena mereka menganggap kenaikan biaya dan kerumitan AI bakal tetap terjangkau.

Baca juga: Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan

Survei yang melibatkan para CFO dan pejabat tinggi keuangan dari 26 negara pada musim semi ini hadir di tengah kekagetan para tim keuangan saat melihat tingginya harga alat-alat AI berskala perusahaan.

Setelah sempat mendorong karyawannya memakai alat seperti ChatGPT dan Claude, kini banyak pimpinan bisnis justru meminta pekerja untuk membatasi penggunaan AI hanya pada tugas-tugas tertentu saja.

Survei baru berjudul “Finance Trends 2027” ini merupakan langkah yang relatif baru bagi Deloitte. Survei ini sendiri menjangkau jumlah responden yang jauh lebih banyak daripada laporan CFO Signals milik Deloitte yang sudah lama berjalan.

Perusahaan tetap akan gunakan AI

Survei terbaru Deloitte ini juga menunjukkan bahwa meskipun para pimpinan keuangan memiliki keraguan terkait biaya AI, mereka tetap merasa terdorong untuk terus mencoba mengintegrasikan teknologi baru tersebut ke dalam alur kerja mereka.

Ketika diminta menyebutkan tiga prioritas utama untuk membantu keberhasilan organisasi, sebanyak 43 persen responden menyatakan berencana untuk menerapkan AI dan teknologi canggih guna mengotomatiskan operasional.

Sebagaimana umumnya pandangan para CFO, 34 persen responden menyebutkan upaya mendorong efisiensi biaya perusahaan sebagai salah satu dari tiga prioritas utama mereka, dan 33 persen menyebutkan optimasi alokasi modal dan keputusan investasi.

Ed Hardy, Pemimpin Layanan Keuangan Deloitte AS, mengatakan survei ini memperlihatkan adanya kesadaran makin sering menggunakan sesuatu, makin besar pula biaya yang harus dibayar.

Ia menyebutkan para pimpinan keuangan bersedia terus membayar untuk alat AI jika alat tersebut memungkinkan perusahaan melakukan hal-hal baru atau membuat pekerjaan saat ini jadi lebih efisien. Namun, tetap ada batasnya.

Baca juga: Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI

"Perusahaan terus berdiskusi dan mencoba berbagai model AI di internal untuk menentukan mana penggunaan yang paling masuk akal, lalu mengukur seberapa besar keuntungan (ROI) yang mereka dapatkan," kata Hardy.

"Bakal ada saatnya di mana penggunaan AI untuk tugas tertentu tidak lagi efisien, dan justru lebih hemat jika dikerjakan secara manual oleh manusia," tambahnya.

Lebih lanjut, di saat para pimpinan keuangan dihadapkan pada tanggung jawab yang makin besar, beberapa responden mulai bersiap melakukan perubahan besar pada tim mereka sendiri.

Sebanyak 43 persen peserta survei menyatakan berencana untuk mengubah cara kerja di bagian keuangan, baik dengan merestrukturisasi tim maupun bekerja sama dengan pihak luar.

"Pimpinan keuangan makin memiliki suara dalam menentukan strategi teknologi karena keahlian utama mereka sangat penting untuk meningkatkan pengembalian modal (ROI) dari investasi AI," tulis laporan tersebut.

Hardy menunjuk bidang perkiraan dan analisis keuangan sebagai salah satu contoh di mana para pimpinan keuangan memanfaatkan AI untuk mengubah cara kerja departemen mereka sendiri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau