KOMPAS.com - Biaya untuk menggunakan alat kecerdasan buatan (AI) terbaru kini makin mahal, dan banyak pimpinan keuangan diperkirakan tidak melihat kondisi ini bakal berubah dalam waktu dekat.
Meski begitu, banyak dari mereka yang juga tidak berniat menghentikan investasi perusahaannya pada teknologi baru ini.
Melansir ESG Dive, Kamis (10/9/2026) dalam survei terbaru Deloitte terhadap 1.434 pemimpin keuangan, sebanyak 60 persen responden memperkirakan biaya dan kerumitan AI akan melonjak tajam hingga tahun 2027.
Akibatnya, persentase yang sama menyatakan mereka perlu menerapkan praktik pengelolaan biaya AI yang lebih canggih.
Namun tidak semua orang sependapat. Sekitar 35 persen responden berencana tetap menggunakan cara pengelolaan biaya yang ada saat ini karena mereka menganggap kenaikan biaya dan kerumitan AI bakal tetap terjangkau.
Baca juga: Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Survei yang melibatkan para CFO dan pejabat tinggi keuangan dari 26 negara pada musim semi ini hadir di tengah kekagetan para tim keuangan saat melihat tingginya harga alat-alat AI berskala perusahaan.
Setelah sempat mendorong karyawannya memakai alat seperti ChatGPT dan Claude, kini banyak pimpinan bisnis justru meminta pekerja untuk membatasi penggunaan AI hanya pada tugas-tugas tertentu saja.
Survei baru berjudul “Finance Trends 2027” ini merupakan langkah yang relatif baru bagi Deloitte. Survei ini sendiri menjangkau jumlah responden yang jauh lebih banyak daripada laporan CFO Signals milik Deloitte yang sudah lama berjalan.
Survei terbaru Deloitte ini juga menunjukkan bahwa meskipun para pimpinan keuangan memiliki keraguan terkait biaya AI, mereka tetap merasa terdorong untuk terus mencoba mengintegrasikan teknologi baru tersebut ke dalam alur kerja mereka.
Ketika diminta menyebutkan tiga prioritas utama untuk membantu keberhasilan organisasi, sebanyak 43 persen responden menyatakan berencana untuk menerapkan AI dan teknologi canggih guna mengotomatiskan operasional.
Sebagaimana umumnya pandangan para CFO, 34 persen responden menyebutkan upaya mendorong efisiensi biaya perusahaan sebagai salah satu dari tiga prioritas utama mereka, dan 33 persen menyebutkan optimasi alokasi modal dan keputusan investasi.
Ed Hardy, Pemimpin Layanan Keuangan Deloitte AS, mengatakan survei ini memperlihatkan adanya kesadaran makin sering menggunakan sesuatu, makin besar pula biaya yang harus dibayar.
Ia menyebutkan para pimpinan keuangan bersedia terus membayar untuk alat AI jika alat tersebut memungkinkan perusahaan melakukan hal-hal baru atau membuat pekerjaan saat ini jadi lebih efisien. Namun, tetap ada batasnya.
Baca juga: Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
"Perusahaan terus berdiskusi dan mencoba berbagai model AI di internal untuk menentukan mana penggunaan yang paling masuk akal, lalu mengukur seberapa besar keuntungan (ROI) yang mereka dapatkan," kata Hardy.
"Bakal ada saatnya di mana penggunaan AI untuk tugas tertentu tidak lagi efisien, dan justru lebih hemat jika dikerjakan secara manual oleh manusia," tambahnya.
Lebih lanjut, di saat para pimpinan keuangan dihadapkan pada tanggung jawab yang makin besar, beberapa responden mulai bersiap melakukan perubahan besar pada tim mereka sendiri.
Sebanyak 43 persen peserta survei menyatakan berencana untuk mengubah cara kerja di bagian keuangan, baik dengan merestrukturisasi tim maupun bekerja sama dengan pihak luar.
"Pimpinan keuangan makin memiliki suara dalam menentukan strategi teknologi karena keahlian utama mereka sangat penting untuk meningkatkan pengembalian modal (ROI) dari investasi AI," tulis laporan tersebut.
Hardy menunjuk bidang perkiraan dan analisis keuangan sebagai salah satu contoh di mana para pimpinan keuangan memanfaatkan AI untuk mengubah cara kerja departemen mereka sendiri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya