KOMPAS.com - Survei terbaru menemukan bahwa hampir 7 dari 10 eksekutif kini memprioritaskan adaptasi iklim demi memperkuat ketahanan bisnis mereka, di tengah meningkatnya gangguan iklim terhadap operasional dan rantai pasokan.
Temuan ini berasal dari laporan terbaru Capgemini Research Institute, yang mewawancarai 2.100 eksekutif dari 701 organisasi berpendapatan di atas 1 miliar Dolar AS yang tersebar di 13 negara dan 12 industri.
Melansir Edie, Kamis (17/9/2026) hampir 68 persen eksekutif yang disurvei menyatakan bahwa organisasi mereka secara aktif memprioritaskan adaptasi iklim, naik dari 56 persen pada tahun 2025.
Hampir 9 dari 10 organisasi melaporkan bahwa peristiwa terkait iklim telah mengganggu rantai pasokan mereka.
Strategi keberlanjutan bisnis kini juga semakin dipengaruhi oleh kekhawatiran terkait akses ke energi, air, dan sumber daya penting lainnya. Lebih dari 7 dari 10 organisasi menyatakan bahwa mengamankan akses ke sumber daya ini memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap keputusan keberlanjutan mereka dibandingkan target pengurangan emisi.
Baca juga: Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Sementara itu, hampir 61 persen eksekutif memperkirakan bahwa kelangkaan air akan menjadi penghambat pertumbuhan bisnis yang lebih besar dibandingkan ketersediaan energi dalam lima tahun ke depan.
Sekitar 83 persen eksekutif menyatakan bahwa organisasi mereka berencana meningkatkan pengeluaran untuk adaptasi iklim dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.
Meskipun demikian, banyak perusahaan masih kesulitan mengukur dampak keuangan dari risiko iklim.
Hanya 15 persen perusahaan yang mengaku telah menghitung secara menyeluruh dampak kerugian finansial akibat gangguan iklim.
Hanya sedikit lebih dari satu dari empat eksekutif yang menyatakan bahwa organisasi mereka telah memetakan risiko iklim di seluruh rantai pasokan mereka atau menggunakan alat analisis risiko iklim.
Riset ini menemukan pula adanya sedikit peningkatan dalam hal kesiapsiagaan. Jumlah eksekutif yang merasa organisasinya kurang siap menghadapi dampak iklim turun dari 54 persen pada tahun 2025 menjadi 44 persen pada tahun 2026.
Peningkatan fokus pada adaptasi ini terjadi di saat banyak organisasi kesulitan mempertahankan kemajuan target emisi mereka.
Hampir 85 persen organisasi menyatakan telah menetapkan target berbasis sains, naik dari 81 persen pada tahun 2025. Namun, hanya 42 persen yang mengaku masih berada di jalur yang benar untuk mencapai target tahun 2030 atau target jangka pendek mereka.
Jumlah perusahaan yang melaporkan tertinggal dalam pencapaian target net-zero melonjak menjadi 11 persen pada tahun 2026, dibandingkan hanya 1 persen pada tahun 2025.
Proporsi perusahaan yang menunda target net-zero mereka juga meningkat drastis, mencapai 29 persen dari yang sebelumnya hanya 8 persen di tahun lalu.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya