TANGERANG, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan varietas tanaman yang tidak hanya memiliki produktivitas tinggi, tetapi juga mampu menghadapi berbagai tekanan lingkungan akibat perubahan iklim.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN Puji Lestari mengatakan, varietas unggul untuk masa depan perlu memiliki karakter yang sesuai dengan kondisi agroekosistem Indonesia, termasuk tahan terhadap banjir, kekeringan, salinitas, serta serangan hama dan penyakit.
Menurut dia, pemuliaan tanaman juga perlu diarahkan untuk menghasilkan varietas yang lebih efisien dalam penggunaan input, seperti pupuk dan air.
Baca juga: Bukan Cuma Rasa, Ini Beda Kandungan Gula Buah Matang dan Mengkal
"Bagaimana kita mulai bergerak, orientasi kita bukan hanya basis tonase, tidak hanya basis produksi, tapi bagaimana produktivitas ini juga diikuti dengan efisiensi input. Bagaimana varietas unggul ini juga tahan terhadap krisis iklim," ujar Puji dalam acara "Masa Depan Pertanian Tropis; Huluisasi dan Hilirisasi untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi", Rabu (16/9/2026).
Selain ketahanan terhadap cekaman lingkungan, pengembangan varietas juga diarahkan pada peningkatan kandungan nutrisi.
Puji mencontohkan pengembangan tanaman dengan kandungan senyawa tertentu yang lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Salah satunya adalah pengembangan kangkung dengan kandungan antosianin tinggi yang diarahkan untuk mendukung penanganan persoalan stunting.
Untuk menghasilkan varietas dengan berbagai karakter tersebut, BRIN mengembangkan pendekatan pemuliaan berbasis bioteknologi.
Teknologi yang digunakan antara lain genome editing, Marker Assisted Selection (MAS), serta multi-omics yang mencakup genomik, transkriptomik, dan metabolomik.
Teknologi tersebut digunakan untuk mempercepat proses seleksi tanaman. Melalui pemetaan genom dan identifikasi marka fungsional, peneliti dapat menyeleksi karakter tertentu sejak fase awal berdasarkan informasi genetik tanaman.
"Teknologi ini merupakan akselerator, bukan tujuan akhir," kata Puji.
Salah satu riset yang dikembangkan adalah genome editing pada apel lokal atau Apel Malang. Riset tersebut diarahkan untuk mempertahankan karakter rasa manis dan ukuran buah ketika tanaman menghadapi kondisi suhu yang lebih tinggi.
Puji mengatakan, perubahan kondisi suhu dapat memengaruhi karakter Apel Malang, termasuk rasa dan ukuran buah.
Baca juga: Inilah Satu-Satunya Buah Langka Berwarna Biru di Dunia Ada 2 Negara Ini
"Apel Malang, tanaman yang tadinya dengan arsitektur yang sama, itu manis, buah besar. Sekarang manisnya berkurang, ukurannya kecil. Sekarang kami melakukan genome editing dengan menyasar satu ekspresi gen invertase," ujarnya.
Menurut dia, penelitian tersebut masih dalam tahap pengembangan dan diarahkan agar Apel Malang tetap memiliki karakter rasa manis sekaligus mampu beradaptasi pada suhu yang lebih tinggi.
Selain mempercepat pemuliaan, BRIN juga berupaya mengatasi kesenjangan antara hasil penelitian dan penerapannya di masyarakat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya