Puji menyebut terdapat fenomena Death Valley inovasi, ketika hasil riset berhenti sebagai karya tulis ilmiah dan tidak berlanjut menjadi produk atau teknologi yang digunakan masyarakat.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, BRIN menerapkan prinsip By Design Fit to Market. Artinya, kebutuhan pasar dan industri dipertimbangkan sejak tahap awal perancangan riset pemuliaan.
Dengan pendekatan tersebut, karakter varietas tidak hanya dinilai berdasarkan produktivitas di lahan, tetapi juga kestabilan performanya hingga tahap perbenihan massal dan kebutuhan industri.
Baca juga: BPOM Siapkan Rp 509 Miliar Awasi Keamanan Pangan MBG 2027
Puji mencontohkan pengembangan ubi kayu. Varietas ubi kayu tidak cukup hanya dirancang untuk menghasilkan produktivitas lebih dari 30 ton per hektar, tetapi juga perlu mempertimbangkan karakter pati yang dibutuhkan industri, termasuk untuk Modified Cassava Flour (MOCAF) dan produk pangan olahan lainnya.
"Untuk ubi kayu, ternyata tidak hanya produktivitas. Tetapi bagaimana kami (memenuhi kebutuhan) industri pati, MOCAF, ataupun pangan olahan lainnya. Kami bikin lanjut. Jadi, tidak hanya hulu yang di lapangan, tapi juga ke arah hilirisasinya," kata Puji.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan varietas diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan hasil produksi di tingkat lahan, tetapi juga menghubungkan karakter genetik tanaman dengan kebutuhan pangan, industri, dan kondisi lingkungan tempat tanaman dibudidayakan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya