TANGERANG, KOMPAS.com - Skala lahan yang kecil dan pola usaha tani yang masih individual menjadi salah satu tantangan pengembangan hortikultura di Indonesia.
Kondisi tersebut membuat petani sulit mengatur produksi secara seragam sekaligus memperkuat posisi tawar dalam rantai pasok.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Freddy mengatakan, mayoritas petani hortikultura masih mengelola lahan di bawah 5.000 meter persegi secara individual dan terpencar.
Baca juga: FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
Kondisi tersebut, menurut dia, menyulitkan penerapan jadwal tanam yang seragam dan membuat rantai pasok hortikultura rentan. Petani juga cenderung bergantung pada pengepul dalam pemasaran hasil panen.
"Jadi memang tantangan terbesar di hortikultura itu di hulunya. Kita banyak petani yang skala produksinya kecil-kecil, lahannya masih di bawah 5.000 meter persegi, kecil, terpencar-pencar, terus individu," ujar Freddy dalam acara "Masa Depan Pertanian Tropis; Huluisasi dan Hilirisasi untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi", Rabu (16/9/2026).
Menurut Freddy, konsolidasi petani melalui Kelompok Tani (Poktan), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), atau koperasi diperlukan untuk mengatasi persoalan tersebut.
Melalui kelembagaan bersama, lahan dan produksi petani dapat dikelola secara lebih terkoordinasi. Petani juga dapat menyusun jadwal tanam, mengatur volume produksi, serta membangun hubungan langsung dengan pembeli.
Kelembagaan tersebut juga dapat mempermudah pemerintah dalam menyalurkan bimbingan teknis, bantuan sarana dan prasarana, hingga proses sertifikasi mutu untuk kebutuhan ekspor.
Selain persoalan skala usaha, perubahan iklim menjadi tantangan lain bagi sektor hortikultura. Komoditas hortikultura memiliki sensitivitas terhadap ketersediaan air sehingga efisiensi penggunaan air menjadi bagian penting dalam modernisasi pertanian.
Freddy mengatakan, penerapan smart farming dan irigasi tetes (drip irrigation) berbasis sensor dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi penggunaan air.
Menurut dia, perkembangan teknologi tersebut sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan dan penerapannya di tingkat petani.
Di sisi pasar, Freddy melihat peluang pengembangan hortikultura masih terbuka, baik untuk kebutuhan konsumsi segar maupun produk setengah jadi dan produk olahan.
Ia mencontohkan ekspor bawang merah dari Brebes ke Thailand sebagai salah satu gambaran adanya pasar bagi komoditas hortikultura Indonesia.
Baca juga: Hilirisasi Perkebunan dan Hortikultura, Mentan Target Serap 1,6 Juta Pekerja dalam 2 Tahun
"Artinya, peluang bagi generasi muda ini masih besar. Khususnya hortikultura itu banyak sekali, sayuran, buah, yang konsumsi segar, semi olahan, olahan penuh. Itu masih terbuka luas," tuturnya.
Mantan Menteri Pertanian periode 2000-2004 Bungaran Saragih mengatakan, pengembangan industri hilir pertanian tidak dapat dipisahkan dari penguatan sektor hulu.
Menurut dia, *huluisasi* mencakup penguasaan sumber daya genetik, pemuliaan tanaman, industri benih dan bibit, kesehatan tanah, pupuk hayati, alat dan mesin pertanian, data, teknologi budidaya, hingga pengorganisasian produsen.
Karena itu, pengembangan hulu dan hilir perlu dirancang secara bersamaan.
"Kualitas industri hilir sesungguhnya telah ditentukan sejak di hulu. Pabrik modern tidak akan efisien jika bahan bakunya tidak seragam, tidak cukup, tidak berkelanjutan, atau tidak dapat dilacak," kata Bungaran.
Sebaliknya, menurut dia, peningkatan produktivitas di tingkat petani juga tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan apabila tidak disertai kepastian pasar, pengolahan, dan harga yang wajar.
Baca juga: Belanda Tawarkan Teknologi Hortikultura ke Indonesia
Bungaran mengatakan, hilirisasi tidak sebatas pembangunan pabrik. Proses tersebut mencakup peningkatan kemampuan seluruh ekosistem pertanian, mulai dari komoditas dan teknologi hingga kekayaan intelektual dan pengembangan industri baru.
Ia mencontohkan industri kelapa sawit yang telah berkembang dari produksi komoditas menjadi berbagai produk pangan, oleokimia, kosmetik, dan bioenergi.
Namun, pengembangan tersebut masih menghadapi sejumlah pekerjaan, antara lain peningkatan produktivitas kebun rakyat, percepatan peremajaan, perbaikan legalitas dan ketertelusuran, penanganan penyakit tanaman, peningkatan efisiensi pabrik, serta pemanfaatan limbah menjadi energi, pupuk, dan biomaterial.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya