Penulis
KOMPAS.com - Sektor pertanian dan perikanan Indonesia saat ini dihadapkan pada serangkaian tantangan berat, mulai dari dampak perubahan iklim, risiko gagal panen, kenaikan biaya produksi, hingga ketidakpastian harga pasar dan pembiayaan.
Menjawab persoalan tersebut, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) menggelar Rembug Paripurna KTNA Nasional 2026 sekaligus KTNA Agro Expo 2026 di Kota Batu, Jawa Timur, pada 18–21 September 2026.
Dalam forum yang diikuti sekitar 2.500 delegasi se-Indonesia tersebut, dibahas berbagai solusi atas tantangan teknis maupun struktural yang dihadapi para pelaku usaha tani dan nelayan.
Beberapa persoalan yang dibahas dalam rembug nasional kali ini di antaranya:
Penerapan Smart and Integrated Farming
Pemerintah Kota Batu dan KTNA mendorong integrasi teknologi meningkatkan efektivitas kerja, produktivitas, serta menjaga kualitas hasil panen di tengah ancaman perubahan iklim dan penuaan lahan. Pemanfaatan teknologi ini tetap memadukan pengalaman langsung para petani di lapangan.
Mitigasi Iklim dan Infrastruktur
Menghadapi dampak fenomena iklim seperti El Niño, KTNA menyoroti krusialnya pembangunan infrastruktur air serta penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang memadai melalui koordinasi erat dengan Kementerian Pertanian.
Regenerasi dan Perlindungan Lahan
Forum ini meniscayakan pentingnya regenerasi pelaku usaha tani serta perlindungan keberlanjutan lahan pertanian agar ketahanan pangan nasional tidak terancam di masa depan.
Baca juga: Menkop Dorong Petani Sawit Bentuk Koperasi hingga Bangun Pabrik CPO
Kesejahteraan dan Kepastian Pasar
Wali Kota Batu Nurochman menegaskan bahwa swasembada pangan tidak cukup hanya diukur dari angka produksi, melainkan dari kepastian harga dan nilai layak yang diterima petani serta nelayan dari hasil usahanya.
Guna menjawab tantangan akses pasar, pembiayaan, dan adopsi teknologi, KTNA menyelenggarakan KTNA Agro Expo 2026. Pameran ini menghadirkan 40 booth dari30 perusahaan dan 10 UMKM, serta menarik sekitar 5.000 pengunjung.
Pameran ini menjadi ruang interaksi nyata antara petani-nelayan dengan pelaku industri, BUMN (seperti Perum Bulog dan Pupuk Indonesia), penyedia sarana produksi, lembaga riset, serta sektor perbankan/keuangan.
Materi pameran mencakup produk olahan pertanian, perikanan dan kehutanan; sarana produksi seperti benih, pupuk dan pakan; alat dan mesin pertanian; hasil riset; teknologi tepat guna; hingga jasa keuangan bagi pelaku agribisnis.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya