KOMPAS.com - Google dan Jet Propulsion Laboratory milik NASA telah mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) yang dapat memantau emisi gas metana global dari luar angkasa.
Melansir ESG Dive, Kamis (17/9/2026) Model AI yang dinamai MAPL-EMIT ini memanfaatkan alat EMIT milik NASA, yaitu sebuah instrumen pemindai canggih yang terpasang di bagian luar Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Google dan NASA memperkenalkan model AI ini dalam sebuah studi ilmiah yang diterbitkan di jurnal PNAS awal bulan ini.
Dalam siaran persnya, mereka menyatakan bahwa teknologi ini akan mempermudah pelacakan sumber emisi metana secara luas serta memungkinkan langkah penanganan iklim yang lebih cepat dan tepat sasaran.
Baca juga: Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Alat ini bertujuan untuk mengatasi hambatan utama dalam menemukan sumber emisi metana. Caranya adalah dengan melacak dan menentukan lokasi titik kebocoran gas metana secara otomatis menggunakan teknologi AI tingkat lanjut.
Google dan NASA melatih model AI MAPL-EMIT menggunakan 3,6 juta simulasi semburan metana yang terlepas ke udara. Latihan ini membantu AI mengenali kebocoran meskipun berada di area pemandangan yang rumit atau padat.
Hasilnya, AI ini mampu mendeteksi 50 persen lebih banyak kebocoran metana dibanding tenaga ahli manusia dan menemukan lebih dari 23.000 sumber emisi tersembunyi di seluruh dunia, termasuk 24 dari 25 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah terbesar di dunia.
Menurut Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA), TPA sampah kota merupakan penyumbang emisi metana terbesar ketiga dari aktivitas manusia di Amerika Serikat.
"Model AI ini digunakan untuk mengukur peningkatan emisi, memetakan bentuk sebaran gas, serta menentukan titik sumber kebocoran secara otomatis, bahkan ketika ada beberapa sebaran gas yang saling menumpuk," jelas studi tersebut.
Baca juga: Google, McKinsey, dan Tencent Investasi di Sektor Penyerapan Karbon Indonesia
Kerja sama dengan NASA ini memperkuat langkah Google dalam mengendalikan gas pencemar tingkat tinggi (superpollutants) seperti metana yang dampaknya jauh lebih berbahaya dalam memanaskan atmosfer dibandingkan karbon dioksida per tonnya.
Awal tahun ini, Google juga mengumumkan kemitraan dengan AMP, perusahaan pemilah dan daur ulang sampah berbasis AI.
Kerja sama ini memberi Google kredit karbon melalui proyek daur ulang serta memungkinkannya mengurangi 200.000 ton karbon dioksida hingga tahun 2030, di samping menekan emisi metana yang dihasilkan dari sampah TPA.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya