JAKARTA, KOMPAS.com - Fluks atau aliran gas metana (CH4) dari tempat pemrosesan akhir (TPA) Suwung di Bali dan TPA Sarimukti di Jawa Barat meningkat lebih dari 20 kali lipat pada musim kemarau dibandingkan musim hujan.
Temuan tersebut diperoleh tim peneliti Methane Emission Reduction Initiative for Transparency (MERIT) melalui pengukuran emisi gas rumah kaca (GRK) menggunakan instrumen Closed Flux Chamber (CFC).
Tenaga ahli MERIT Didin Agustian Permadi mengatakan, pengukuran dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh pada musim hujan 2024 dengan pengukuran pada periode kemarau.
Baca juga: Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Menurut dia, pemetaan fluks metana dilakukan di sejumlah zona TPA untuk mengetahui tingkat emisi pada lokasi yang berbeda.
"Kalau kami lihat, bisa memetakan data dari pengukuran fluks di setiap zona di TPA. Kalau kami melihat di Sarimukti, di zona yang baru, itu juga mengukur cukup tinggi fluks metananya," ujar Didin dalam MERIT Conference 2026, Selasa (22/9/2026).
Hal serupa ditemukan di TPA Suwung. Fluks metana yang tinggi terukur di zona aktif B dan C.
Pengukuran tersebut kemudian dikaitkan dengan perhitungan menggunakan model First Order Decay (FOD) dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC). Model tersebut digunakan untuk menghitung emisi berdasarkan riwayat timbulan sampah sejak TPA mulai beroperasi.
Menurut Didin, pengukuran langsung di tingkat TPA masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama jika data tersebut akan digunakan untuk pelaporan emisi pada tingkat nasional.
Kapasitas pengelola TPA perlu diperkuat karena pengukuran secara berkala membutuhkan sumber daya manusia, peralatan teknis, serta pembiayaan.
Selain itu, diperlukan mekanisme penjaminan mutu dan verifikasi untuk memastikan hasil pengukuran dapat dipertanggungjawabkan.
"Kalau kita fokus di level TPA, maka diperlukan metode verifikasinya. Bagaimana hasil pengukuran yang dilakukan ini valid dan juga didukung oleh data-data yang bersifat spesifik lokasi," kata Didin.
Ia mengatakan, proses penjaminan kualitas idealnya dilakukan oleh pihak yang tidak terlibat langsung dalam pengukuran emisi metana.
Baca juga: Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Hal tersebut diperlukan untuk menjaga independensi proses verifikasi sebelum data digunakan lebih lanjut, termasuk untuk kepentingan pelaporan emisi.
Didin mengatakan, emisi metana dari TPA memiliki karakteristik berbeda dibandingkan sejumlah sumber emisi lainnya karena dapat berlangsung terus selama masih terdapat sampah organik yang mengalami proses penguraian.
"Di TPA ini bersifat terus-menerus. Artinya, selama masih ada sampah organik yang masuk ke TPA, maka emisi ini akan tetap keluar ke atmosfer," ujarnya.
Metana merupakan gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Di atmosfer, metana juga berperan sebagai prekursor pembentukan ozon di permukaan atau ozon troposferik yang merupakan pencemar udara.
Karena itu, menurut Didin, pengurangan emisi metana dari TPA tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga berhubungan dengan pengendalian pencemaran udara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya