Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
CERITA LESTARI

Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam

Kompas.com, 23 September 2026, 08:13 WIB
Muhammad Rizqan Alfarisi,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

SOLOK SELATAN, KOMPAS.com – Tanah, bibit pohon, dan sejumlah tanaman menjadi bagian dari pelajaran siswa SD Yayasan Pendidikan Tidar Sungkai Sawit (YPTSS) di Solok Selatan, Sumatera Barat. Hari itu, mereka tidak duduk di dalam kelas.

Para siswa mengikuti kegiatan sekolah alam di kawasan hijau perumahan operasional PT Kencana Sawit Indonesia (KSI, Wilmar Group). Mereka belajar menanam pohon, memilah sampah, hingga mengenal flora dan fauna yang ada di lingkungan sekitar.

Bagi siswa, pelajaran tentang lingkungan tidak lagi hanya berupa gambar di buku atau penjelasan guru. Mereka dapat melihat, menyentuh, dan mencoba langsung kegiatan yang berkaitan dengan alam.

Baca juga: Cerita Satwa Liar yang Menemukan Ruang Hidup di Hutan Konservasi Solok Selatan

Kepala Sekolah SD YPTSS Giva Anis Gia mengatakan, pembelajaran mengenai lingkungan dilakukan agar siswa tidak hanya memahami materi melalui teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman secara langsung.

"Kami ingin pendidikan tidak hanya sebatas teori di papan tulis atau lembar buku teks. Melalui kegiatan sekolah alam, anak-anak diajak mengamati tumbuh-tumbuhan, belajar mengelola sampah dengan bijak, serta memahami mengapa hutan dan sungai di sekitar kita harus dijaga dengan baik," ujar Giva.

Menurut dia, interaksi langsung dengan alam dapat membantu menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sejak usia dini.

Baca juga: Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan

"Ketika anak-anak menyentuh tanah, menanam bibit tanaman, dan melihat langsung keindahan alam yang terjaga, rasa memiliki dan kepedulian itu tumbuh secara alami. Kepedulian lingkungan inilah yang menjadi benteng utama kelestarian masa depan," imbuh Giva.

Panji sedang mengenalkan salah satu bibit tanaman dan mengajarkan cara menanam serta merawatnya kepada anak-anak yang hadir di agenda sekolah alam pada Rabu (9/9/2026). Diharapkan dari agenda ini, siswa peserta sekolah alam yang hadir lebih sadar akan fungsi pohon yang dirawat di hutan lindung kawasan PT KSI bagi lingkungan mereka.KOMPAS.com/Muhammad Rizqan Alfarisi Panji sedang mengenalkan salah satu bibit tanaman dan mengajarkan cara menanam serta merawatnya kepada anak-anak yang hadir di agenda sekolah alam pada Rabu (9/9/2026). Diharapkan dari agenda ini, siswa peserta sekolah alam yang hadir lebih sadar akan fungsi pohon yang dirawat di hutan lindung kawasan PT KSI bagi lingkungan mereka.

Belajar menanam dan merawat pohon

Saat Kompas.com mengunjungi salah satu agenda sekolah alam pada Rabu (9/9/2026), para siswa mengikuti pembelajaran di ruang terbuka. Mereka diajak menanam berbagai jenis pohon buah, di antaranya bibit pohon nangka dan rambutan.

Kegiatan tidak berhenti setelah bibit ditanam. Para siswa juga mendapat penjelasan mengenai cara merawat tanaman, mulai dari memberikan pupuk organik, menyiram secara teratur, hingga menjaga area sekitar tanaman tetap bersih dari gulma.

Dari kegiatan tersebut, siswa belajar bahwa menanam pohon bukan sekadar memasukkan bibit ke dalam tanah. Tanaman perlu dirawat dan diperhatikan agar dapat tumbuh.

Pembelajaran mengenai lingkungan juga mencakup pengelolaan sampah. Para siswa diajak mengenali sampah organik dan mengolahnya menjadi kompos sederhana, sekaligus memilah sampah plastik agar tidak mencemari lingkungan sekitar.

Baca juga: Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan

Mereka juga diperkenalkan pada area bernilai konservasi tinggi (high conservation value/HCV) yang dikelola perusahaan. Kawasan tersebut menjadi salah satu lokasi bagi siswa untuk mengenal flora dan fauna yang hidup di sekitar mereka.

Dengan belajar di luar kelas, materi mengenai lingkungan terasa lebih dekat dengan keseharian siswa. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga mencoba sendiri kegiatan menanam, merawat tanaman, dan memilah sampah.

Siswa dan guru peserta sekolah alam yang hadir dalam agenda bersama beberapa awak media berfoto bersama Panji Petualang (tengah) yang hadir sebagai tamu undangan PT KSI pada Rabu (9/9/2026). KOMPAS.com/Muhammad Rizqan Alfarisi Siswa dan guru peserta sekolah alam yang hadir dalam agenda bersama beberapa awak media berfoto bersama Panji Petualang (tengah) yang hadir sebagai tamu undangan PT KSI pada Rabu (9/9/2026).

Belajar dari lingkungan sekitar

Kegiatan di luar kelas juga menjadi pengalaman yang berbeda bagi para siswa. Andin, salah seorang siswi kelas 6 SD YPTSS yang mengikuti agenda sekolah alam tersebut, mengaku senang karena dapat belajar langsung dari lingkungan sekitar.

Baca juga: Warga dan Hutan Konservasi, Menjaga Ruang Hidup di Solok Selatan

"Belajar di luar kelas itu seru banget karena kita bisa lihat langsung pohon-pohon dan hewan yang biasanya cuma ada di buku," tutur Andin.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau