KOMPAS.com - Para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa sekitar 450.000 orang di seluruh dunia berisiko meninggal hingga Februari mendatang akibat cuaca ekstrem yang dipicu fenomena El Nino.
Perkiraan angka ini dihitung berdasarkan lonjakan angka kematian dari bencana panas ekstrem yang pernah terjadi sebelumnya di berbagai negara.
"Kami berharap data ini dapat segera ditindaklanjuti agar bantuan dan sumber daya bisa disiapkan lebih awal," kata Emily Grover-Kopec dari Rhodium Group.
Melansir New Scientist, Rabu (23/9/2026) langkah pencegahan ini dapat berupa pengerahan tenaga medis untuk memantau kelompok rentan, memastikan pasokan air bersih mencukupi, hingga menyediakan kipas angin atau pendingin udara (AC).
Sebagian besar kasus kematian dalam enam bulan ke depan diproyeksikan terjadi di belahan bumi selatan, karena hawa panas El Niño bertepatan dengan datangnya musim semi dan musim panas di wilayah tersebut.
Namun, karena El Niño diprediksi bertahan hingga musim semi di belahan bumi utara, gelombang kematian susulan diperkirakan akan bergeser ke wilayah utara setelah bulan Februari.
Baca juga: Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
"Jumlah kematian akibat suhu panas ekstrem ini akan bergeser dan meningkat di wilayah utara. Sayangnya, angka-angka ini kemungkinan besar akan terus bertambah," ujar Grover-Kopec.
Ia menambahkan bahwa India dan Pakistan bisa menjadi wilayah yang terdampak paling parah.
Proyeksi 450.000 kematian didasarkan pada hubungan antara kenaikan suhu dan lonjakan angka kematian. Hubungan ini membentuk grafik seperti huruf "U", di mana jumlah kematian meningkat saat cuaca sangat dingin maupun sangat panas.
Bentuk pasti dari dampak ini berbeda-beda di setiap tempat, tergantung pada kesiapan warga, kualitas infrastruktur, hingga kemampuan warga membeli AC.
Sebuah studi pada tahun 2022 membagi dunia menjadi 24.000 wilayah dan menghitung dampak cuaca ini di tiap daerah berdasarkan data historis puluhan tahun maupun perbandingan dengan wilayah lain yang serupa.
Grover-Kopec dan timnya kemudian menggabungkan metode ini dengan prakiraan cuaca dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) untuk memperkirakan berapa banyak korban jiwa tambahan akibat gelombang panas El Niño.
Hasil riset menunjukkan bahwa selama periode enam bulan yakni September hingga Februari, diperkirakan akan ada 240.000 kematian tambahan akibat suhu panas. Jika ditambah dengan perkiraan korban jiwa yang sudah jatuh sejak El Niño dimulai pada bulan Juni, total potensi kematian mencapai 450.000 orang.
Afrika diperkirakan menjadi wilayah yang terdampak paling parah, dengan lebih dari 30.000 kematian tambahan di Nigeria saja dalam enam bulan ke depan. Pada periode yang sama, diperkirakan akan ada 19.000 kematian tambahan di Indonesia, 16.000 di India, dan 13.000 di Brasil.
Laporan ini juga membagi kelompok usia menjadi tiga yaitu anak-anak usia 4 tahun ke bawah, lansia usia 65 tahun ke atas, dan kelompok usia sisanya.
"Dampak gelombang panas ini terjadi di ketiga kelompok usia, namun kelompok yang paling rentan adalah lansia, diikuti oleh bayi dan anak balita," ungkap " Grover-Kopec.
"Menurut saya hasil penelitian ini sangat masuk akal," kata Christopher Callahan dari Indiana University Bloomington.
"El Niño akan membawa suhu yang sangat tinggi ke banyak wilayah di dunia, dan hubungan antara gelombang panas dengan lonjakan angka kematian memang terbukti nyata serta konsisten di seluruh dunia," paparnya lagi,
Callahan belum lama ini menggunakan metode serupa untuk mengestimasi bahwa gelombang panas di Eropa pada bulan Juni melayangkan 20.000 nyawa. Hingga saat ini, tercatat ada 35.000 kematian tambahan di Eropa akibat suhu panas ekstrem selama periode musim panas.
Baca juga: Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Proyeksi 240.000 kematian tambahan antara September dan Februari sangat bergantung pada keakuratan prakiraan cuaca tersebut, ujar Callahan.
Grover-Kopec menambahkan bahwa prediksi ECMWF berada tepat di tengah-tengah proyeksi lembaga lain, sehingga angka ini merupakan perkiraan dampak tingkat sedang.
Callahan juga menekankan bahwa laporan ini baru menghitung korban jiwa akibat dampak langsung suhu panas.
"El Niño juga memicu kebakaran hutan di Indonesia, penyebaran penyakit menular di Amerika Selatan, banjir di Amerika Serikat bagian barat, dan bencana lainnya. Jadi, total jumlah korban tewas sebenarnya bisa jauh lebih tinggi," terangnya lagi.
"Poin terpenting di sini bukanlah pada ketepatan angkanya, melainkan pada apa yang masih bisa kita lakukan untuk mencegah jatuhnya korban," tegas Raquel Nunes dari University of Warwick, Inggris.
"Laporan ini sebaiknya dijadikan peringatan bagi pemerintah untuk memperkuat kesiapsiagaan, tindakan pencegahan, dan perlindungan khusus bagi kelompok masyarakat yang paling rentan," tambahnya.
Temuan ini dipublikasikan dalam Climate Impact Lab di Universitas Chicago.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya