Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Puncak El Nino hingga Februari: Risiko Kematian Capai Setengah Juta Jiwa

Kompas.com, 23 September 2026, 19:56 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa sekitar 450.000 orang di seluruh dunia berisiko meninggal hingga Februari mendatang akibat cuaca ekstrem yang dipicu fenomena El Nino.

Perkiraan angka ini dihitung berdasarkan lonjakan angka kematian dari bencana panas ekstrem yang pernah terjadi sebelumnya di berbagai negara.

"Kami berharap data ini dapat segera ditindaklanjuti agar bantuan dan sumber daya bisa disiapkan lebih awal," kata Emily Grover-Kopec dari Rhodium Group.

Melansir New Scientist, Rabu (23/9/2026) langkah pencegahan ini dapat berupa pengerahan tenaga medis untuk memantau kelompok rentan, memastikan pasokan air bersih mencukupi, hingga menyediakan kipas angin atau pendingin udara (AC).

Sebagian besar kasus kematian dalam enam bulan ke depan diproyeksikan terjadi di belahan bumi selatan, karena hawa panas El Niño bertepatan dengan datangnya musim semi dan musim panas di wilayah tersebut.

Namun, karena El Niño diprediksi bertahan hingga musim semi di belahan bumi utara, gelombang kematian susulan diperkirakan akan bergeser ke wilayah utara setelah bulan Februari.

Baca juga: Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut

"Jumlah kematian akibat suhu panas ekstrem ini akan bergeser dan meningkat di wilayah utara. Sayangnya, angka-angka ini kemungkinan besar akan terus bertambah," ujar Grover-Kopec.

Ia menambahkan bahwa India dan Pakistan bisa menjadi wilayah yang terdampak paling parah.

Indonesia terdampak

Proyeksi 450.000 kematian didasarkan pada hubungan antara kenaikan suhu dan lonjakan angka kematian. Hubungan ini membentuk grafik seperti huruf "U", di mana jumlah kematian meningkat saat cuaca sangat dingin maupun sangat panas.

Bentuk pasti dari dampak ini berbeda-beda di setiap tempat, tergantung pada kesiapan warga, kualitas infrastruktur, hingga kemampuan warga membeli AC.

Sebuah studi pada tahun 2022 membagi dunia menjadi 24.000 wilayah dan menghitung dampak cuaca ini di tiap daerah berdasarkan data historis puluhan tahun maupun perbandingan dengan wilayah lain yang serupa.

Grover-Kopec dan timnya kemudian menggabungkan metode ini dengan prakiraan cuaca dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) untuk memperkirakan berapa banyak korban jiwa tambahan akibat gelombang panas El Niño.

Hasil riset menunjukkan bahwa selama periode enam bulan yakni September hingga Februari, diperkirakan akan ada 240.000 kematian tambahan akibat suhu panas. Jika ditambah dengan perkiraan korban jiwa yang sudah jatuh sejak El Niño dimulai pada bulan Juni, total potensi kematian mencapai 450.000 orang.

Afrika diperkirakan menjadi wilayah yang terdampak paling parah, dengan lebih dari 30.000 kematian tambahan di Nigeria saja dalam enam bulan ke depan. Pada periode yang sama, diperkirakan akan ada 19.000 kematian tambahan di Indonesia, 16.000 di India, dan 13.000 di Brasil.

Laporan ini juga membagi kelompok usia menjadi tiga yaitu anak-anak usia 4 tahun ke bawah, lansia usia 65 tahun ke atas, dan kelompok usia sisanya.

"Dampak gelombang panas ini terjadi di ketiga kelompok usia, namun kelompok yang paling rentan adalah lansia, diikuti oleh bayi dan anak balita," ungkap " Grover-Kopec.

"Menurut saya hasil penelitian ini sangat masuk akal," kata Christopher Callahan dari Indiana University Bloomington.

"El Niño akan membawa suhu yang sangat tinggi ke banyak wilayah di dunia, dan hubungan antara gelombang panas dengan lonjakan angka kematian memang terbukti nyata serta konsisten di seluruh dunia," paparnya lagi,

Callahan belum lama ini menggunakan metode serupa untuk mengestimasi bahwa gelombang panas di Eropa pada bulan Juni melayangkan 20.000 nyawa. Hingga saat ini, tercatat ada 35.000 kematian tambahan di Eropa akibat suhu panas ekstrem selama periode musim panas.

Baca juga: Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi

Proyeksi 240.000 kematian tambahan antara September dan Februari sangat bergantung pada keakuratan prakiraan cuaca tersebut, ujar Callahan.

Grover-Kopec menambahkan bahwa prediksi ECMWF berada tepat di tengah-tengah proyeksi lembaga lain, sehingga angka ini merupakan perkiraan dampak tingkat sedang.

Callahan juga menekankan bahwa laporan ini baru menghitung korban jiwa akibat dampak langsung suhu panas.

"El Niño juga memicu kebakaran hutan di Indonesia, penyebaran penyakit menular di Amerika Selatan, banjir di Amerika Serikat bagian barat, dan bencana lainnya. Jadi, total jumlah korban tewas sebenarnya bisa jauh lebih tinggi," terangnya lagi.

"Poin terpenting di sini bukanlah pada ketepatan angkanya, melainkan pada apa yang masih bisa kita lakukan untuk mencegah jatuhnya korban," tegas Raquel Nunes dari University of Warwick, Inggris.

"Laporan ini sebaiknya dijadikan peringatan bagi pemerintah untuk memperkuat kesiapsiagaan, tindakan pencegahan, dan perlindungan khusus bagi kelompok masyarakat yang paling rentan," tambahnya.

Temuan ini dipublikasikan dalam  Climate Impact Lab di Universitas Chicago.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau