Selain konstruksi, proses pengomposan juga membutuhkan pengelolaan yang sesuai, antara lain melalui pengadukan, pengaturan lapisan sampah, komposisi bahan, dan pengendalian kelembapan.
Sampah organik basah atau hijau yang menjadi sumber nitrogen perlu diseimbangkan dengan bahan kering atau cokelat sebagai sumber karbon.
Jika komposisi bahan dan kelembapan tidak terkelola, proses penguraian dapat bergeser dari pengomposan aerobik menjadi pembusukan anaerobik yang menghasilkan metana dan bau.
“Konstruksinya mempengaruhi konstruksi metana. Sisi lain operasional di lapangan. Masyarakat dan juga petugas dan lain-lain berkreativitas sendiri,” kata Ainun.
Menurut dia, pengadukan, layering, kesesuaian komposisi karbon dan nitrogen, volume pengisian, serta kelembapan perlu dikendalikan agar proses tetap berada dalam kondisi yang diharapkan.
Baca juga: TPST Bantargebang Dibayangi Risiko Kebakaran akibat Gas Metana
Karena itu, pengukuran emisi metana dari unit pengolahan sampah organik di luar tempat pemrosesan akhir (TPA) perlu dilakukan dengan metode terstandar.
Pengukuran juga perlu dikaitkan dengan karakteristik unit, konstruksi, bahan baku, serta cara pengoperasian. Kondisi internal seperti kadar oksigen (O2), kelembapan, dan temperatur juga perlu diperhatikan.
Data pengukuran tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi kondisi yang memicu pembentukan metana dan menentukan intervensi pada desain maupun operasional unit pengomposan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya