Survei terbaru terhadap hampir 2.000 pimpinan bisnis di 18 negara menemukan dukungan kuat bagi penggunaan listrik berbasis energi terbarukan yang didukung penyimpanan baterai.
Sekitar 90 persen meyakini operasional bisnis mereka akan sebagian besar beralih ke listrik bersih pada tahun 2035.
Alasan politik di balik elektrifikasi kini juga makin dikaitkan dengan daya saing ekonomi, bukan lagi sekadar pengurangan emisi semata.
Baca juga: Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
"Sangat jelas terlihat adanya komitmen dan dorongan kuat menuju elektrifikasi. Ini tidak hanya bagus untuk iklim, tetapi juga berdampak positif bagi masyarakat karena membuka lapangan kerja baru serta memberikan akses ke energi yang stabil dan terjangkau," kata Miatta Fahnbulleh, Menteri Keamanan Energi dan Net Zero Inggris.
Diskusi ini sejalan dengan Electrify Now, sebuah inisiatif yang diluncurkan pada Juni 2026 untuk mempercepat elektrifikasi bersih melalui kerja sama internasional, penarikan investasi, dan berbagi solusi.
Bagi para eksekutif dan investor, fokus pembahasan kini bergeser dari sekadar menetapkan target energi terbarukan ke penyiapan infrastruktur pendukungnya. Kapasitas jaringan listrik, penyimpanan energi, perizinan, skema pasar, dan akses modal akan menentukan seberapa cepat elektrifikasi ini dapat berjalan.
Menjelang COP31, isu-isu tersebut juga makin mendesak dalam agenda diplomatik dunia.
Tantangannya saat ini adalah mengubah cita-cita politik dan kebutuhan industri menjadi investasi nyata di bidang pembangkit, penyimpanan, dan jaringan listrik demi mendukung ekonomi global yang berbasis listrik bersih.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya