KOMPAS.com - Perubahan iklim yang makin sering memicu cuaca ekstrem menjadikan upaya memperkuat ketahanan keluarga sebelum bencana terjadi sebagai langkah penting untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan anak-anak.
Hal ini disampaikan oleh Mary McKay, seorang profesor di Brown School, Washington University in St. Louis, sekaligus pakar kesehatan mental anak.
Melansir Phys, Kamis (24/9/2026) dampak perubahan iklim tidak hanya terbatas pada kerusakan lingkungan semata. Cuaca ekstrem, kekeringan, dan suhu panas menyengat juga berpotensi memicu krisis pangan, kesulitan ekonomi, pengungsian, hingga ketidakstabilan sosial. Kondisi tersebut dampaknya sangat berat dirasakan oleh anak-anak.
Sebuah karya ilmiah terbaru yang ditulis bersama oleh McKay berjudul "Strengthening Child and Family Resilience in the Context of Climate Change: A Call to Action" dan diterbitkan dalam jurnal Global Social Welfare, mengimbau pentingnya peningkatan fokus pada penguatan ketahanan keluarga sebagai bagian dari penanganan dampak perubahan iklim.
McKay dan rekan-rekannya, termasuk mahasiswa doktoral Washington University Josephine Nabayinda dan Claire Najjuuko, menegaskan bahwa mempersiapkan keluarga sebelum krisis terjadi dapat membantu mengurangi dampak buruknya bagi anak-anak.
Baca juga: Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Anak-anak sangat bergantung pada orang dewasa, sekolah, dan lingkungan sekitar untuk mendapatkan rasa aman, kestabilan, serta kesejahteraan emosional. Gangguan akibat perubahan iklim dapat merusak seluruh sistem pendukung tersebut secara bersamaan.
"Perubahan iklim merusak sistem-sistem ini secara serentak dan menciptakan kondisi yang memicu krisis pangan, pengungsian, kesulitan ekonomi, serta ketidakstabilan sosial. Hal inilah yang meningkatkan kerentanan anak terhadap gangguan kesehatan mental," jelas McKay.
Sebagai contoh, cuaca ekstrem yang parah dapat merusak rumah, mengganggu kegiatan sekolah, memisahkan anak dari teman dan lingkungan sosialnya, serta merusak rutinitas harian mereka.
Karena anak-anak memiliki keterbatasan sumber daya dan kemampuan adaptasi dibandingkan orang dewasa dalam menghadapi gangguan ini, memperkuat peran orang dewasa dan sistem di sekitar mereka dapat menjadi perlindungan yang sangat penting.
Keluarga dapat bersiap menghadapi krisis akibat perubahan iklim dengan cara mengajak anak berdiskusi mengenai potensi risiko, menyusun rencana darurat, serta menyiapkan cadangan sumber daya untuk meredam dampaknya.
"Makin siap orang dewasa untuk berkomunikasi dengan anak-anak mengenai skenario yang mungkin terjadi, memiliki rencana cadangan, serta menyiapkan sumber daya pendukung, makin kecil dampak buruk yang akan dirasakan oleh anak-anak," jelas McKay.
Tujuannya adalah menjadikan gangguan akibat iklim sebagai kondisi yang dapat dikendalikan, bukan sesuatu yang merusak kestabilan seluruh rumah tangga.
Baca juga: Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
"Perubahan lingkungan harus diposisikan sebagai kondisi yang perlu direncanakan mitigasinya, bukan sekadar keadaan darurat yang menghancurkan tatanan keluarga dan mengganggu kesejahteraan fisik maupun emosional anak," terang McKay.
Kebijakan pemerintah dan lembaga terkait juga dapat memperkuat kapasitas keluarga sebelum bencana benar-benar terjadi.
McKay menunjukkan beberapa cara yang dapat dilakukan oleh pembuat kebijakan dan pemimpin masyarakat, di antaranya memberikan bantuan darurat yang cepat untuk kebutuhan dasar, memulihkan sekolah dan fasilitas anak sesegera mungkin setelah bencana, serta mendampingi para orang tua agar dapat menjaga rasa aman dan rutinitas harian anak.
Persiapan sejak awal sangatlah krusial, terutama bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.
"Para pemimpin harus membuat dan menguji coba program kesiapsiagaan bencana yang menyasar keluarga paling rentan seperti yang tinggal di daerah rawan banjir sebelum bencana benar-benar terjadi. Sebagai contoh, program penguatan ekonomi dapat membantu keluarga mengumpulkan cadangan tabungan dan membangun jaringan saling bantu sejak dini agar mereka mampu bertahan saat krisis menghantam," jelas McKay.
Membangun ketahanan sebelum bencana terjadi akan membantu keluarga beradaptasi ketika krisis iklim tidak terhindarkan sekaligus melindungi anak-anak yang bergantung pada mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya