Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim

Kompas.com, 25 September 2026, 19:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Perubahan iklim yang makin sering memicu cuaca ekstrem menjadikan upaya memperkuat ketahanan keluarga sebelum bencana terjadi sebagai langkah penting untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan anak-anak.

Hal ini disampaikan oleh Mary McKay, seorang profesor di Brown School, Washington University in St. Louis, sekaligus pakar kesehatan mental anak.

Melansir Phys, Kamis (24/9/2026) dampak perubahan iklim tidak hanya terbatas pada kerusakan lingkungan semata. Cuaca ekstrem, kekeringan, dan suhu panas menyengat juga berpotensi memicu krisis pangan, kesulitan ekonomi, pengungsian, hingga ketidakstabilan sosial. Kondisi tersebut dampaknya sangat berat dirasakan oleh anak-anak.

Sebuah karya ilmiah terbaru yang ditulis bersama oleh McKay berjudul "Strengthening Child and Family Resilience in the Context of Climate Change: A Call to Action" dan diterbitkan dalam jurnal Global Social Welfare, mengimbau pentingnya peningkatan fokus pada penguatan ketahanan keluarga sebagai bagian dari penanganan dampak perubahan iklim.

McKay dan rekan-rekannya, termasuk mahasiswa doktoral Washington University Josephine Nabayinda dan Claire Najjuuko, menegaskan bahwa mempersiapkan keluarga sebelum krisis terjadi dapat membantu mengurangi dampak buruknya bagi anak-anak.

Baca juga: Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan

Rusak sistem pendukung anak

Anak-anak sangat bergantung pada orang dewasa, sekolah, dan lingkungan sekitar untuk mendapatkan rasa aman, kestabilan, serta kesejahteraan emosional. Gangguan akibat perubahan iklim dapat merusak seluruh sistem pendukung tersebut secara bersamaan.

"Perubahan iklim merusak sistem-sistem ini secara serentak dan menciptakan kondisi yang memicu krisis pangan, pengungsian, kesulitan ekonomi, serta ketidakstabilan sosial. Hal inilah yang meningkatkan kerentanan anak terhadap gangguan kesehatan mental," jelas McKay.

Sebagai contoh, cuaca ekstrem yang parah dapat merusak rumah, mengganggu kegiatan sekolah, memisahkan anak dari teman dan lingkungan sosialnya, serta merusak rutinitas harian mereka.

Karena anak-anak memiliki keterbatasan sumber daya dan kemampuan adaptasi dibandingkan orang dewasa dalam menghadapi gangguan ini, memperkuat peran orang dewasa dan sistem di sekitar mereka dapat menjadi perlindungan yang sangat penting.

Persiapan dini membangun ketahanan

Keluarga dapat bersiap menghadapi krisis akibat perubahan iklim dengan cara mengajak anak berdiskusi mengenai potensi risiko, menyusun rencana darurat, serta menyiapkan cadangan sumber daya untuk meredam dampaknya.

"Makin siap orang dewasa untuk berkomunikasi dengan anak-anak mengenai skenario yang mungkin terjadi, memiliki rencana cadangan, serta menyiapkan sumber daya pendukung, makin kecil dampak buruk yang akan dirasakan oleh anak-anak," jelas McKay.

Tujuannya adalah menjadikan gangguan akibat iklim sebagai kondisi yang dapat dikendalikan, bukan sesuatu yang merusak kestabilan seluruh rumah tangga.

Baca juga: Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir

"Perubahan lingkungan harus diposisikan sebagai kondisi yang perlu direncanakan mitigasinya, bukan sekadar keadaan darurat yang menghancurkan tatanan keluarga dan mengganggu kesejahteraan fisik maupun emosional anak," terang McKay.

Kebijakan pemerintah dan lembaga terkait juga dapat memperkuat kapasitas keluarga sebelum bencana benar-benar terjadi.

McKay menunjukkan beberapa cara yang dapat dilakukan oleh pembuat kebijakan dan pemimpin masyarakat, di antaranya memberikan bantuan darurat yang cepat untuk kebutuhan dasar, memulihkan sekolah dan fasilitas anak sesegera mungkin setelah bencana, serta mendampingi para orang tua agar dapat menjaga rasa aman dan rutinitas harian anak.

Persiapan sejak awal sangatlah krusial, terutama bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.

"Para pemimpin harus membuat dan menguji coba program kesiapsiagaan bencana yang menyasar keluarga paling rentan seperti yang tinggal di daerah rawan banjir sebelum bencana benar-benar terjadi. Sebagai contoh, program penguatan ekonomi dapat membantu keluarga mengumpulkan cadangan tabungan dan membangun jaringan saling bantu sejak dini agar mereka mampu bertahan saat krisis menghantam," jelas McKay.

Membangun ketahanan sebelum bencana terjadi akan membantu keluarga beradaptasi ketika krisis iklim tidak terhindarkan sekaligus melindungi anak-anak yang bergantung pada mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau