Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia

Kompas.com, 26 September 2026, 18:36 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Di tengah ancaman krisis iklim global, perguruan tinggi kini memegang peran kunci sebagai laboratorium hidup dalam menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

Kampus bukan lagi sekadar tempat mentransfer ilmu di dalam ruang kelas, melainkan ruang fisik yang harus mencerminkan nilai-nilai kepedulian lingkungan melalui tata kelola infrastruktur yang hijau, efisien, dan ramah lingkungan.

Desain gedung kampus modern kini makin diarahkan untuk meminimalkan jejak karbon—mulai dari optimalisasi pencahayaan alami, perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH), pengelolaan air mandiri, hingga efisiensi energi yang terukur.

Kesadaran akademis yang kian meningkat ini menemukan wadah pengukurannya melalui instrumen global seperti UI GreenMetric Sustainable University Rankings.

Pemeringkatan ini hadir sebagai tolak ukur bagi perguruan tinggi di seluruh dunia untuk mengevaluasi komitmen dan kinerja keberlanjutan mereka secara komprehensif, mencakup pilar infrastruktur, energi, pengelolaan sampah, konservasi air, transportasi ramah lingkungan, pendidikan, hingga tata kelola berbasis digital.

Kesadaran inilah yang terus dipraktikkan oleh Unika Atma Jaya. Unika Atma Jaya berhasil menembus jajaran 50 besar perguruan tinggi paling berkelanjutan di Indonesia pada ajang UI GreenMetric 2026 dengan menempati peringkat ke-34 nasional.

Capaian ini menjadi bukti konkret bagaimana integrasi infrastruktur hijau dan pembentukan kebiasaan ramah lingkungan di lingkungan kampus dapat berjalan secara selaras demi masa depan bumi yang lebih baik.

UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026 menilai keberlanjutan perguruan tinggi melalui tujuh pilar, yaitu Setting and Infrastructure (SI), Energy and Climate Change (EC), Waste (WS), Water (WR), Transportation (TR), Education (ED), dan Governance & Digitalization (GD).

Pemeringkatan ini melibatkan lebih dari 1.745 perguruan tinggi dari 105 negara dan mengangkat pentingnya tata kelola, digitalisasi, serta kinerja yang terintegrasi dalam mewujudkan kampus berkelanjutan, sekaligus menyoroti kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadirkan solusi terhadap berbagai tantangan lingkungan dan sosial.

Sejalan dengan semangat tersebut, Unika Atma Jaya telah menjalankan berbagai upaya untuk membangun lingkungan kampus yang mendukung praktik keberlanjutan, salah satunya melalui pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kampus Semanggi.

RTH tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang hijau, tetapi juga menjadi ruang interaksi, rekreasi, dan pembelajaran bagi sivitas akademika.

Upaya tersebut turut mencakup penambahan jumlah pohon dan sumur resapan sebagai bagian dari upaya memperluas ruang hijau, menghadirkan lingkungan kampus yang lebih nyaman, serta mendukung pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Upaya membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan juga dilakukan melalui penyediaan drinking water fountain di lingkungan kampus yang mendorong warga kampus menggunakan wadah minum yang dapat digunakan kembali sekaligus mendukung pengurangan penggunaan botol plastik sekali pakai.

Di sisi lain, Unika Atma Jaya menjalankan gerakan penghematan energi sebagai bagian dari upaya pengurangan emisi karbon serta mendorong pemilahan sampah dalam aktivitas sehari-hari.

Komitmen terhadap praktik berkelanjutan juga diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi, salah satunya melalui kerja sama dengan DigiFlora yang menghadirkan alternatif papan bunga digital untuk berbagai kegiatan akademik dan institusional sebagai bagian dari upaya mendorong praktik yang lebih ramah lingkungan.

Berbagai inisiatif tersebut menjadi bagian dari langkah Unika Atma Jaya dalam memperkuat praktik keberlanjutan di lingkungan kampus.

Baca juga: Kampus Hijau dan Tanggung Jawab Perguruan Tinggi bagi Keberlanjutan Bumi

“Pencapaian ini menunjukkan bahwa upaya keberlanjutan tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga pada bagaimana seluruh komunitas Atma Jaya dapat terlibat dan membangun kebiasaan yang mendukung keberlanjutan,” ungkap Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Yuda Turana.

Pencapaian ini menjadi langkah bagi Unika Atma Jaya untuk terus memperkuat budaya keberlanjutan di lingkungan kampus, sekaligus mengajak seluruh sivitas akademika untuk mengambil bagian dalam menjaga lingkungan dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau