KOMPAS.com - Perubahan iklim yang memicu kenaikan suhu dan cuaca ekstrem mulai berdampak pada keselamatan dan kesehatan petani serta nelayan di Indonesia.
Survei terhadap 300 petani dan nelayan di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, serta Kota dan Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan 78,3 persen responden pernah mengalami keluhan seperti kram otot berat, pusing hebat, hingga hampir pingsan saat bekerja di bawah terik matahari.
Survei tersebut menjadi salah satu pijakan LaporIklim dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dalam menyusun kertas posisi mengenai dampak perubahan iklim terhadap petani dan nelayan.
Baca juga: Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Di Indramayu, sekitar 47 persen nelayan yang disurvei mengaku pernah hampir pingsan saat melaut.
Selain itu, 94,7 persen nelayan di Indramayu pernah mengalami kejadian cuaca ekstrem secara langsung di tengah laut.
Kondisi tersebut berdampak pada aktivitas kerja. Sebanyak 91 persen responden mengaku terpaksa menghentikan aktivitas sementara, 92,3 persen mengalami penurunan kecepatan kerja, dan 84 persen merasa beban kerja saat ini lebih melelahkan.
Risiko kesehatan juga muncul pada petani, terutama ketika mereka harus bekerja di tengah suhu tinggi sekaligus menggunakan alat pelindung diri (APD) saat mengaplikasikan pestisida.
Berdasarkan survei tersebut, 95-96 persen petani menggunakan pestisida. Namun, tingkat kepatuhan terhadap penggunaan APD lengkap hanya sekitar 35-40 persen.
LaporIklim menyebut pakaian pelindung yang tebal dapat membuat tubuh semakin panas sehingga petani menghadapi dilema antara menggunakan APD untuk mengurangi paparan bahan kimia atau melepasnya karena kondisi panas.
Program Officer LaporIklim Fajar Sanintan mengatakan, kondisi panas ekstrem bahkan mendorong sebagian warga di Indramayu menggunakan obat-obatan agar dapat bertahan bekerja.
Ia mencontohkan adanya warga yang mengonsumsi parasetamol saat sarapan sebelum bekerja di tengah paparan suhu panas. Menurut Fajar, praktik tersebut belum tercatat dalam sistem kesehatan nasional.
Dampak perubahan iklim juga dirasakan melalui ketidakpastian pendapatan nelayan akibat hasil tangkapan yang tidak menentu.
Kondisi tersebut, menurut temuan LaporIklim dan KRKP, membuat sebagian nelayan di Indramayu dan Kupang harus mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan keluarga.
Baca juga: Perubahan Iklim Bisa Ganggu Keuangan Perusahaan, Ini Risikonya
Dalam beberapa kasus, hasil penjualan ikan digunakan untuk membeli kipas angin agar keluarga dapat beristirahat pada malam hari. Kondisi ekonomi tersebut juga berdampak pada pola konsumsi pangan keluarga.
Di tengah berbagai dampak tersebut, respons kebijakan di tingkat daerah dinilai masih terbatas.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya