Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan

Kompas.com, 29 September 2026, 20:32 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 menghasilkan Deklarasi New Delhi yang menggarisbawahi pentingnya membangun rantai pasok mineral kritis berkelanjutan.

Deklarasi New Delhi juga menekankan urgensi menjamin pembagian manfaat dan nilai tambah, serta diversifikasi ekonomi di negara-negara yang kaya dengan sumber daya alam (SDA).

Prinsip-prinsip tersebut perlu dipertimbangkan Indonesia yang sedang memperkuat posisi sebagai salah satu negara utama dalam rantai pasok mineral kritis global melalui pengembangan industri nikel dan hilirisasi. 

‎Dalam KTT BRICS 2026, Presiden Prabowo Subianto menegaskan, Indonesia akan memperhatikan ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan untuk membangun ekonomi yang lebih kuat, adil, serta memberi manfaat nyata bagi rakyat.

Salah satunya, melalui pemanfaatan mineral kritis. Prabowo menyebut, mineral kritis, tanah jarang, sumber daya terbarukan, sampai hutan yang bernapas bagi dunia sebagai fondasi abad hijau. 

‎Policy Strategist Coordinator Cerah, Naomi Devi Larasati meminta komitmen tersebut harus diterjemahkan dalam kebijakan konkret.

Baca juga: Wamen LH Ungkap Aksi Mitigasi Iklim di Desa pada Pertemuan BRICS

Itu agar pengembangan mineral kritis dapat memenuhi prinsip keberlanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat daerah penghasil, bukan sekadar menghasilkan peningkatan ekonomi. Apalagi, saat ini pembagian manfaat atas kegiatan nikel dan hilirisasi masih menjadi tantangan.

‎Ia mencontohkan Sulawesi Tengah sebagai wilayah penyumbang terbesar pendapatan negara dari sektor tambang pada 2025 menghasilkan Rp570 triliun. Namun, daerah tersebut hanya menerima Rp200 miliar per tahun melalui dana bagi hasil (DBH).

Dari sisi keberlanjutan, analisis Greenpeace menemukan bahwa aktivitas penambangan nikel telah memicu deforestasi seluas 26.837 hektare. Aktivitas tambang melonjak hingga 600 persen selama tahun 2016 dan 2023. 

‎“Kami menyambut baik komitmen BRICS untuk tidak sekadar menambang, tetapi juga membangun hilirisasi yang adil," ujar Naomi dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9/2026).

‎Namun, tanpa jaminan tata kelola yang hijau dan partisipatif, hilirisasi hanya akan menjadi nama lain dari eksploitasi yang merusak lingkungan sekaligus meminggirkan masyarakat adat maupun petani. Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia semestinya menjadi teladan bagi rantai pasok mineral kritis yang adil dan berkelanjutan, dari hulu ke hilir. 

‎"Kita tidak sepatutnya mempromosikan mineral kritis sebagai bagian dari masa depan yang ramah lingkungan, sementara proses di baliknya masih jauh dari ramah lingkungan,” tutur Naomi.

Baca juga: Gabung BRICS, RI Komitmen Jalankan Transisi Energi Bersih

‎Rantai pasok hijau harus dibangun sejak tahap awal penambangan dengan meminimalkan dampak lingkungan.

Kemudian, perlu dilanjutkan dengan proses pengolahan yang efisien dan bebas polusi, hingga daur ulang dan pengelolaan limbah yang bertanggung jawab. 

‎Selain itu, manfaat ekonomi dari hilirisasi seperti penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan daerah, dan transfer teknologi harus dipastikan mengalir kepada masyarakat di sekitar proyek, bukan hanya untuk korporasi dan investor asing. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Enam Aksi Iklim Kunci Berpotensi Selamatkan 1,6 Juta Jiwa Tiap Tahun
Enam Aksi Iklim Kunci Berpotensi Selamatkan 1,6 Juta Jiwa Tiap Tahun
Pemerintah
Hilirisasi Sumbang 34 Persen Investasi Nasional, Mineral Kritis Jadi Penggerak
Hilirisasi Sumbang 34 Persen Investasi Nasional, Mineral Kritis Jadi Penggerak
Pemerintah
6 Perusahaan Indonesia Sabet Penghargaan Emas ESG Tingkat Asia
6 Perusahaan Indonesia Sabet Penghargaan Emas ESG Tingkat Asia
Swasta
40 Perusahaan Malaysia, Indonesia, dan Filipina Raih 52 Penghargaan ESG Asia 2026
40 Perusahaan Malaysia, Indonesia, dan Filipina Raih 52 Penghargaan ESG Asia 2026
Swasta
Karhutla Ancam Penghidupan dan Pendidikan di Kalimantan
Karhutla Ancam Penghidupan dan Pendidikan di Kalimantan
LSM/Figur
Ketika China Menjadi Ruang Belajar bagi Siswa
Ketika China Menjadi Ruang Belajar bagi Siswa
Swasta
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Pemerintah
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
LSM/Figur
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
LSM/Figur
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
LSM/Figur
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
LSM/Figur
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Pemerintah
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Pemerintah
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau