Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung

Kompas.com, 30 September 2026, 10:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Saat hutan terbakar, dampak langsungnya sudah jelas: rumah-rumah hangus dilalap api dan habitat hancur. Namun, kerusakan akibat asap yang menyebar jauh melampaui area kebakaran tidak terlalu terlihat.

Sarah Meier, seorang ekonom lingkungan di ETH Zurich, mencoba untuk meneliti hal tersebut.

Melansir Phys, Senin (14/9/2026) setelah meneliti populasi burung di Amerika Serikat, ia menemukan jika suatu wilayah terdampak cukup parah oleh asap kebakaran pada tahun sebelumnya, keanekaragaman burung di wilayah tersebut menjadi lebih rendah pada musim kawin berikutnya.

Selain itu jika tingkat asap meningkat dari kondisi rata-rata tahunan menjadi kondisi dengan asap jauh lebih pekat, jumlah spesies turun sekitar 3 persen.

Baca juga: Studi: Kebakaran Hutan Kanada Bikin Puluhan Spesies Burung di New York Lebih Sulit Ditemukan

"Dampaknya memang tidak masif, namun tidak dapat diukur. Kita tidak pernah tahu spesies mana yang akan punah dan spesies mana yang sangat penting bagi ekosistem. Oleh karena itu, penurunan kecil sekalipun dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem," kata Meir.

Apakah asap kebakaran penyebabnya?

Kebakaran hutan sering terjadi selama periode cuaca panas dan kekeringan. Oleh karena itu peneliti menerapkan metode ekonometrika, di mana peneliti memisahkan dampak asap dari faktor-faktor lainnya.

Mereka membandingkan wilayah yang sama selama bertahun-tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti cuaca, penggunaan lahan, dan perbedaan metode penghitungan populasi burung.

Selain itu, mereka memeriksa dua alasan yang paling masuk akal.

Pertama, berkurangnya jenis burung bisa jadi merupakan dampak langsung dari hancurnya tempat tinggal mereka. Namun, bahkan di jalur pengamatan yang tidak tersentuh api sama sekali dalam radius 5 kilometer, dampak dari kabut asap tetap terlihat.

Kedua, burung-burung mungkin hanya berpindah ke daerah tetangga untuk menghindari asap. Akan tetapi setelah para peneliti memperhitungkan perpindahan burung ke daerah sekitar dalam analisis mereka, penurunan jumlah jenis burung tetap terlihat jelas.

Studi ini belum mengungkapkan secara pasti apa yang sebenarnya terjadi pada burung-burung tersebut. Riset lain menunjukkan bahwa asap dapat melemahkan burung, yang berpotensi menyebabkan penurunan berat badan dan kerusakan saluran pernapasan. Perilaku mereka saat musim berkembang biak juga bisa berubah.

Apa dampaknya bagi ekonomi dan ekosistem?

Bagi Meier, temuan studi ini mempertegas dampak kebakaran hutan yang sangat sulit diukur dalam penilaian kerusakan tradisional. Burung menjalankan fungsi penting dalam banyak ekosistem. Mereka menyebarkan benih tanaman, membantu penyerbukan bunga, dan mengendalikan hama.

Baca juga: Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun

Penurunan keanekaragaman jenis burung dapat memengaruhi spesies hewan dan tumbuhan lain serta pada akhirnya berdampak pada sektor-sektor seperti pertanian dan kehutanan.

Studi ini sengaja tidak menghitung besarnya kerugian ekonomi yang disebabkan oleh berkurangnya jenis burung. Meier memilih untuk berfokus membuktikan dampak-dampak tersebut secara pasti dan terpercaya terlebih dahulu.

"Untuk bangunan yang terbakar, kita bisa menghitung biaya kerusakannya dengan cukup mudah. Namun untuk keanekaragaman hayati, urusannya jauh lebih rumit," kata Meier.

"Ada dampak-dampak lain dari kebakaran hutan yang selama ini hampir tidak kita perhitungkan, padahal hal tersebut berdampak nyata bagi masyarakat," tambahnya.

Penelitian dipublikasikan dalam Journal of Environmental Economics and Management.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
LSM/Figur
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Swasta
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Pemerintah
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Pemerintah
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan 'Gluten Free' Bernilai Ekonomi Tinggi
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan "Gluten Free" Bernilai Ekonomi Tinggi
LSM/Figur
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Pemerintah
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Pemerintah
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Pemerintah
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
LSM/Figur
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
LSM/Figur
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Pemerintah
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
Pemerintah
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Pemerintah
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
BrandzView
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau