KOMPAS.com - Pemantauan keanekaragaman hayati secara berkala di area operasional PT Weda Bay Nickel (WBN), Halmahera, mengidentifikasi sekitar 249 spesies tumbuhan dan 104 spesies fauna.
Pemantauan yang dilakukan secara mingguan tersebut mencatat 53 spesies burung, 28 serangga, delapan mamalia, delapan amfibi, empat fauna tanah, dan tiga reptil.
Dari 249 spesies tumbuhan yang teridentifikasi, sekitar 81,1 persen merupakan spesies umum, 8,8 persen endemik lokal, 5,6 persen memiliki persebaran regional hingga Papua, dan 1,2 persen tersebar antarkawasan hingga Filipina.
Baca juga: Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan Sanctuary Park
Sekitar 63 persen spesies tumbuhan tersebut ditemukan di habitat primer.
Peneliti sekaligus dosen Universitas Khairun, M. Natsir Tamalene, mengatakan pemantauan bersama WBN telah berlangsung sekitar empat tahun. Jumlah titik pemantauan juga berkembang dari enam menjadi 40 titik.
“Halmahera berada di kawasan Wallacea, wilayah peralihan dengan tingkat endemisitas yang tinggi dan sebaran sejumlah spesies yang terbatas secara geografis. Karena itu, pemantauan yang dilakukan secara berulang dan di berbagai titik penting untuk melihat perubahan kondisi keanekaragaman hayati dari waktu ke waktu,” ujar Natsir dalam keterangan tertulis, Selasa (15/9/2026).
Salah satu temuan dalam pemantauan tersebut adalah Tikus Duri Boki Mekot (Halmaheramys bokimekot), mamalia endemik Halmahera yang memiliki persebaran terbatas.
Keberadaan satwa tersebut terekam melalui *camera trap* dan perangkap hidup (Sherman traps) di salah satu titik pemantauan WBN.
Menurut Natsir, temuan tersebut menambah data lapangan mengenai keberadaan fauna endemik Halmahera yang dapat digunakan dalam pengelolaan habitat di wilayah operasional.
Selain pemantauan lapangan, WBN melakukan Critical Habitat Assessment (CHA) terhadap 146 spesies target yang masuk kategori Critically Endangered, Endangered, Vulnerable, maupun spesies yang dilindungi pemerintah Indonesia.
Baca juga: IWIP Gandeng ITB Siapkan SDM untuk Industri Nikel
Kajian tersebut mengidentifikasi 111 spesies sebagai pemicu habitat kritis. Hasilnya kemudian digunakan sebagai salah satu dasar penyusunan *Biodiversity Action Plan*.
Natsir mengatakan, kemampuan setiap spesies dalam merespons perubahan habitat berbeda-beda.
Satwa dengan pergerakan terbatas dan bergantung pada koridor ekologis atau pohon untuk bertengger, misalnya, dapat lebih rentan terhadap kehilangan dan fragmentasi habitat.
Hal serupa berlaku bagi tumbuhan dengan persebaran geografis terbatas atau yang bergantung pada kondisi habitat tertentu.
Hasil pemantauan dan kajian habitat kemudian digunakan untuk mengidentifikasi area dengan nilai keanekaragaman hayati tinggi serta mendukung perencanaan area preservasi di wilayah operasional.
Di tingkat operasional, WBN juga menerapkan ketentuan perlindungan satwa bagi pekerja dan mitra kerja, termasuk larangan menangkap dan memperdagangkan satwa liar.
Mitigasi dilakukan melalui prosedur pengelolaan kegiatan operasional, pengelolaan area bernilai biodiversitas tinggi, serta pemasangan rambu dan papan peringatan perlindungan satwa.
Senior Rehabilitation Superintendent Weda Bay Nickel Fitri Rahmadani Ritonga mengatakan, pemantauan dilakukan untuk memperoleh data yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan keanekaragaman hayati.
“Ketika kami melakukan pemantauan dan mendapatkan hasil area mana yang memiliki nilai biodiversitas lebih tinggi, data tersebut menjadi pertimbangan dalam perencanaan pengembangan program keanekaragaman hayati serta pengelolaan lingkungan yang juga tertuang dalam dokumen Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di Weda Bay Nickel,” tutur Fitri.
Baca juga: Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Pemantauan saat ini juga dilengkapi dengan data kajian sebelumnya. Identifikasi spesies di wilayah proyek telah dilakukan pada 2001-2008 dan dilanjutkan melalui survei pada 2010-2014.
Kajian tersebut mencakup identifikasi keanekaragaman hayati, penyediaan data spesies flora untuk mendukung reklamasi lahan, serta identifikasi komponen flora yang memiliki nilai ekonomi dan ekologis.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya