Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Target PLTS 100 GW Butuh Perencanaan Ketenagalistrikan yang Lebih Transparan

Kompas.com, 3 Oktober 2026, 21:09 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ambisi Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) hingga 2029 membutuhkan perencanaan ketenagalistrikan yang konsisten dan transparan.

Program tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 73 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.305,24 triliun.

Namun, studi Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) berjudul Indonesia's Electricity Planning Framework Needs a Single, Transparent Benchmark menemukan adanya perbedaan target pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan antara Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dan kontrak kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan PLN.

Baca juga: PLTS 100 GWp Bisa Jadi Mesin Baru Investasi, Ini Syaratnya

IEEFA menilai keselarasan target diperlukan agar pemerintah dapat mengukur kemajuan pembangunan secara konsisten sekaligus memberikan kepastian bagi investor dan lembaga pembiayaan.

Energy Finance Specialist IEEFA untuk Indonesia Randi Bachtiar mengatakan, perbedaan target dapat menghasilkan penilaian yang berbeda mengenai capaian pembangunan ketenagalistrikan.

Sebagai contoh, PLN melaporkan penambahan jaringan transmisi sepanjang 2.317 kilometer sirkuit (kms) pada 2025.

Angka tersebut setara dengan 26 persen dari target 8.756 kms dalam RUPTL 2025-2034. Namun, jika dibandingkan dengan target 2.070 kms dalam kontrak kinerja, realisasi tersebut mencapai 112 persen.

Perbedaan juga terlihat pada target investasi ketenagalistrikan.

RUPTL memperkirakan kebutuhan investasi sebesar 14,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 244,7 triliun. Sementara itu, laporan kinerja Kementerian ESDM mencantumkan target investasi sebesar 3,1 miliar dollar AS atau Rp 55,37 triliun.

Adapun PLN melaporkan realisasi investasi sebesar 4,63 miliar dollar AS atau sekitar Rp 82,88 triliun. Angka tersebut setara dengan 149 persen dari target dalam laporan kinerja ESDM, tetapi baru sekitar 32 persen dari proyeksi dalam RUPTL.

Menurut Randi, perbedaan tersebut dapat menimbulkan kesimpulan yang berbeda mengenai kemajuan pelaksanaan program ketenagalistrikan.

"Indonesia membutuhkan suatu kerangka perencanaan dan pelaksanaan yang transparan untuk menyelaraskan target RUPTL, target kinerja tahunan, dan daftar proyek PLN," ujar Randi dalam keterangan tertulis, Kamis (1/10/2026).

PLTS 100 GW butuh perubahan perencanaan

Menurut IEEFA, kebutuhan untuk menyelaraskan perencanaan semakin penting karena pemerintah menargetkan pengembangan PLTS hingga 100 GWp pada 2029.

Baca juga: Kejar Pembangunan PLTS 100 GWp, Airlangga Dorong Revisi RUPTL

Sementara itu, RUPTL 2025-2034 menargetkan tambahan pembangkit listrik energi terbarukan sebesar 42,6 GW dan kapasitas penyimpanan energi sebesar 10,3 GW.

IEEFA juga mencatat kapasitas PLTS yang terpasang pada awal 2026 baru sekitar 1,5 GWp.

Dengan demikian, pencapaian target 100 GWp membutuhkan peningkatan kapasitas secara signifikan dalam waktu sekitar tiga tahun.

Menurut IEEFA, perubahan tersebut tidak hanya menyangkut kapasitas pembangkit, tetapi juga perencanaan transmisi, storage, pengadaan, pembiayaan, serta integrasi PLTS terdistribusi dan PLTS atap.

RUPTL 2025-2034 sendiri mengalokasikan kapasitas PLTS atap sebesar 3 GW. IEEFA menilai angka tersebut menunjukkan adanya perbedaan skala antara perencanaan yang berlaku dengan target PLTS 100 GWp yang diumumkan pemerintah pada Agustus 2026.

Butuh investasi 73 miliar Dollar AS

Dari sisi pendanaan, IEEFA memperkirakan program PLTS 100 GWp membutuhkan investasi sekitar 73 miliar dollar AS dalam tiga tahun, atau rata-rata sekitar 24 miliar dollar AS per tahun.

Kebutuhan tersebut sekitar 15 kali lipat dibandingkan realisasi investasi pembangkit pada 2025.

Karena itu, IEEFA menilai pencapaian target tersebut membutuhkan mobilisasi modal dari sektor swasta dan lembaga pembiayaan, terutama di tengah keterbatasan ruang fiskal pemerintah.

Baca juga: Lewat PLTBg dan PLTS, Pertamina NRE Buktikan Bisnis EBT Menguntungkan

Randi mengatakan, kepastian mengenai daftar proyek dan jadwal pengadaan menjadi salah satu faktor penting untuk menarik investasi.

Daftar proyek yang jelas dan dapat diprediksi akan membantu pengembang dan pemberi pinjaman menyiapkan investasi serta pembiayaan sejak awal.

Selain itu, dukungan pemerintah melalui mekanisme tarif, akses terhadap lahan milik negara, dan pembiayaan lunak dinilai dapat meningkatkan kelayakan proyek untuk memperoleh pembiayaan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Target PLTS 100 GW Butuh Perencanaan Ketenagalistrikan yang Lebih Transparan
Target PLTS 100 GW Butuh Perencanaan Ketenagalistrikan yang Lebih Transparan
LSM/Figur
Pembangunan Data Center Jatiluhur Dihentikan, IESR Minta Kajian Dampak Dibuka
Pembangunan Data Center Jatiluhur Dihentikan, IESR Minta Kajian Dampak Dibuka
LSM/Figur
'Loading Ramp' Sawit Tak Berizin Dinilai Ganggu Ketertelusuran
"Loading Ramp" Sawit Tak Berizin Dinilai Ganggu Ketertelusuran
Swasta
Limbah B3 Medis Tak Terpantau, Risiko Pencemaran hingga Resistensi Antibiotik Mengintai
Limbah B3 Medis Tak Terpantau, Risiko Pencemaran hingga Resistensi Antibiotik Mengintai
LSM/Figur
Mendongkrak Skor PISA, Gerakan 'Ayo Menulis' Dorong Budaya Berpikir Kritis Pelajar
Mendongkrak Skor PISA, Gerakan "Ayo Menulis" Dorong Budaya Berpikir Kritis Pelajar
LSM/Figur
Luas Karhutla 2026 Melonjak, Perbaikan Tata Kelola Lahan dan Gambut Jadi Sorotan
Luas Karhutla 2026 Melonjak, Perbaikan Tata Kelola Lahan dan Gambut Jadi Sorotan
LSM/Figur
Peringatan PBB: 10 Persen Lahan Dunia Rusak, Asia Terbanyak
Peringatan PBB: 10 Persen Lahan Dunia Rusak, Asia Terbanyak
Pemerintah
Polusi Udara Tak Minta Izin Saat Berpindah, Bappenas Minta Daerah Kenali Risiko Iklim
Polusi Udara Tak Minta Izin Saat Berpindah, Bappenas Minta Daerah Kenali Risiko Iklim
Pemerintah
Mayoritas Perusahaan Tetap Bikin Laporan ESG, tapi Kurangi Publikasi
Mayoritas Perusahaan Tetap Bikin Laporan ESG, tapi Kurangi Publikasi
Pemerintah
Spesies Invasif Diperkirakan Makin Merajalela Seiring Naiknya Air Laut
Spesies Invasif Diperkirakan Makin Merajalela Seiring Naiknya Air Laut
Pemerintah
Karhutla Bakar 1,32 Juta Hektar hingga Agustus 2026, Lahan Gambut Banyak Jadi Kebun Sawit
Karhutla Bakar 1,32 Juta Hektar hingga Agustus 2026, Lahan Gambut Banyak Jadi Kebun Sawit
LSM/Figur
Menjahit Reforma Agraria ke Revisi UU Kehutanan
Menjahit Reforma Agraria ke Revisi UU Kehutanan
Pemerintah
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Pemerintah
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Pemerintah
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau