Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan

Kompas.com, 1 Oktober 2026, 20:26 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Laporan terbaru tahunan Copernicus mencatat rekor baru. Sebanyak 23 zettajoule panas terserap ke dalam lautan dunia sepanjang tahun lalu. Hal ini membuat air laut menjadi lebih panas, permukaan airnya makin tinggi, serta makin sulit ditinggali oleh makhluk hidup.

Melansir Guardian, Rabu (30/9/2026) lonjakan energi panas yang sangat besar ini hampir 40 kali lipat lebih banyak daripada seluruh energi yang digunakan umat manusia dalam setahun. Penyerapan ini memicu perubahan besar pada lautan dalam yang menjadi penopang utama kehidupan di Bumi.

Lautan telah menyerap sekitar sepertiga dari seluruh karbon dioksida yang dihasilkan manusia, serta menampung sekitar 90 persen dari sisa panas berlebih yang terperangkap oleh polusi gas rumah kaca di Bumi.

Baca juga: Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut

"Lautan sedang berubah di depan mata kita," kata Pierre Bahurel, Direktur Jenderal Mercator Ocean International yang menerbitkan laporan tersebut.

"Pemanasan air laut, kenaikan permukaan air, dan rusaknya ekosistem adalah tanda-tanda yang saling berkaitan dari perubahan besar yang berjangka panjang," katanya lagi.

Di Eropa, yang suhunya meningkat dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global, Laut Mediterania dan Laut Hitam diterjang gelombang panas laut yang memecahkan rekor.

Para ilmuwan menemukan bahwa suhu tinggi ini bertahan hingga jauh ke dasar laut, dengan cuaca panas ekstrem yang berlangsung lebih dari sebulan.

Laporan tahunan Copernicus edisi ke-10 itu juga mencatat permukaan air laut naik sekitar 3,8 milimeter per tahun sejak 1999, dan lajunya makin cepat menjadi 4,2 milimeter per tahun antara 2012 dan 2025. Laporan tersebut juga menemukan bahwa tingkat keasaman laut global telah meningkat 17 persen dalam 40 tahun terakhir.

Para ilmuwan melihat kenaikan permukaan air laut yang kian cepat di Mediterania bagian barat, sementara bagian timur menunjukkan kenaikan yang tidak merata. Laporan tersebut mencatat bahwa seluruh wilayah laut di sana mengalami pemanasan sebesar 0,32 derajat C setiap sepuluh tahun, yang memicu makin seringnya gelombang panas laut, terutama dalam beberapa tahun terakhir.

Laporan ini dirilis saat Eropa bagian barat mengalami bulan September yang tidak biasanya terasa hangat tepat setelah musim panas yang penuh kebakaran hutan. Bahkan, suhu udara di beberapa wilayah Spanyol dan Portugal sempat menembus 40 derajat C pada minggu lalu.

Air laut pesisir yang memanas turut memperburuk gelombang panas di daratan karena terus melepaskan panas pada malam hari, yang seharusnya menjadi waktu bagi udara untuk mendingin.

Ángel Borja, seorang pakar ekologi laut dari lembaga penelitian AZTI di Basque yang tidak terlibat dalam laporan ini, mengatakan bahwa dampaknya sudah terlihat selama beberapa tahun terakhir dan dipastikan akan makin parah.

"Namun, masalah ini tampaknya cenderung diremehkan oleh masyarakat. Sebagai contoh, gabungan antara kenaikan permukaan air laut dan cuaca ekstrem terus mengikis pesisir Mediterania tetapi beberapa orang tetap saja memaksakan diri untuk membangun kembali bangunan di tempat-tempat yang sudah pasti akan tenggelam," terangnya.

Laporan tersebut mencatat kerusakan parah pada biota laut akibat suhu panas ini. Antara Januari 2023 hingga September 2025, sebanyak 84 persen terumbu karang di dunia mengalami stres akibat panas yang memicu pemutihan massal.

Selama 30 tahun terakhir, hampir 5 persen wilayah lautan mengalami perubahan pola pertumbuhan fitoplankton secara terus-menerus. Fitoplankton merupakan makhluk hidup mikro yang menjadi fondasi rantai makanan serta penyeimbang aliran karbon.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Pemerintah
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Pemerintah
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Pemerintah
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
LSM/Figur
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Pemerintah
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa 'Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit'
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa "Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit"
LSM/Figur
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Swasta
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Pemerintah
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
LSM/Figur
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Pemerintah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Pemerintah
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
BUMN
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Swasta
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau