KOMPAS.com - Laporan terbaru tahunan Copernicus mencatat rekor baru. Sebanyak 23 zettajoule panas terserap ke dalam lautan dunia sepanjang tahun lalu. Hal ini membuat air laut menjadi lebih panas, permukaan airnya makin tinggi, serta makin sulit ditinggali oleh makhluk hidup.
Melansir Guardian, Rabu (30/9/2026) lonjakan energi panas yang sangat besar ini hampir 40 kali lipat lebih banyak daripada seluruh energi yang digunakan umat manusia dalam setahun. Penyerapan ini memicu perubahan besar pada lautan dalam yang menjadi penopang utama kehidupan di Bumi.
Lautan telah menyerap sekitar sepertiga dari seluruh karbon dioksida yang dihasilkan manusia, serta menampung sekitar 90 persen dari sisa panas berlebih yang terperangkap oleh polusi gas rumah kaca di Bumi.
Baca juga: Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
"Lautan sedang berubah di depan mata kita," kata Pierre Bahurel, Direktur Jenderal Mercator Ocean International yang menerbitkan laporan tersebut.
"Pemanasan air laut, kenaikan permukaan air, dan rusaknya ekosistem adalah tanda-tanda yang saling berkaitan dari perubahan besar yang berjangka panjang," katanya lagi.
Di Eropa, yang suhunya meningkat dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global, Laut Mediterania dan Laut Hitam diterjang gelombang panas laut yang memecahkan rekor.
Para ilmuwan menemukan bahwa suhu tinggi ini bertahan hingga jauh ke dasar laut, dengan cuaca panas ekstrem yang berlangsung lebih dari sebulan.
Laporan tahunan Copernicus edisi ke-10 itu juga mencatat permukaan air laut naik sekitar 3,8 milimeter per tahun sejak 1999, dan lajunya makin cepat menjadi 4,2 milimeter per tahun antara 2012 dan 2025. Laporan tersebut juga menemukan bahwa tingkat keasaman laut global telah meningkat 17 persen dalam 40 tahun terakhir.
Para ilmuwan melihat kenaikan permukaan air laut yang kian cepat di Mediterania bagian barat, sementara bagian timur menunjukkan kenaikan yang tidak merata. Laporan tersebut mencatat bahwa seluruh wilayah laut di sana mengalami pemanasan sebesar 0,32 derajat C setiap sepuluh tahun, yang memicu makin seringnya gelombang panas laut, terutama dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan ini dirilis saat Eropa bagian barat mengalami bulan September yang tidak biasanya terasa hangat tepat setelah musim panas yang penuh kebakaran hutan. Bahkan, suhu udara di beberapa wilayah Spanyol dan Portugal sempat menembus 40 derajat C pada minggu lalu.
Air laut pesisir yang memanas turut memperburuk gelombang panas di daratan karena terus melepaskan panas pada malam hari, yang seharusnya menjadi waktu bagi udara untuk mendingin.
Ángel Borja, seorang pakar ekologi laut dari lembaga penelitian AZTI di Basque yang tidak terlibat dalam laporan ini, mengatakan bahwa dampaknya sudah terlihat selama beberapa tahun terakhir dan dipastikan akan makin parah.
"Namun, masalah ini tampaknya cenderung diremehkan oleh masyarakat. Sebagai contoh, gabungan antara kenaikan permukaan air laut dan cuaca ekstrem terus mengikis pesisir Mediterania tetapi beberapa orang tetap saja memaksakan diri untuk membangun kembali bangunan di tempat-tempat yang sudah pasti akan tenggelam," terangnya.
Laporan tersebut mencatat kerusakan parah pada biota laut akibat suhu panas ini. Antara Januari 2023 hingga September 2025, sebanyak 84 persen terumbu karang di dunia mengalami stres akibat panas yang memicu pemutihan massal.
Selama 30 tahun terakhir, hampir 5 persen wilayah lautan mengalami perubahan pola pertumbuhan fitoplankton secara terus-menerus. Fitoplankton merupakan makhluk hidup mikro yang menjadi fondasi rantai makanan serta penyeimbang aliran karbon.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya