Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim

Kompas.com, 6 Oktober 2026, 18:39 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Anak-anak dari masyarakat adat di seluruh dunia tengah mengalami dampak kesehatan yang serius akibat perubahan iklim, mulai dari gizi buruk dan penyakit menular, hingga gangguan kesehatan mental, rusaknya kesejahteraan budaya, serta masalah kesehatan sejak sebelum lahir.

Melansir Medical Xpress, Sabtu (3/10/2026) para peneliti dari The Kids Research Institute Australia, The University of Western Australia, dan Flinders University mengulas bukti dari 53 penelitian di berbagai belahan dunia.

Mereka menemukan bahwa anak-anak adat sudah merasakan dampak iklim ini di berbagai kondisi lingkungan, budaya, dan wilayah geografis.

Diterbitkan dalam jurnal Globalization and Health, studi ini merupakan penelitian pertama yang merangkum bukti global mengenai bagaimana perubahan iklim memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan anak-anak adat.

Bukan hanya soal lingkungan

Penulis utama studi ini, Jaime Turnbull, menyatakan bahwa ulasan ini mempertegas bahwa perubahan iklim bukan hanya masalah lingkungan, melainkan juga masalah kesehatan anak, di mana anak-anak adat menghadapi kerentanan yang saling tumpang tindih.

"Yang tak kalah penting, dampak-dampak ini tidak terjadi sendirian. Perubahan iklim merusak hubungan anak-anak adat dengan tanah leluhur, budaya, keluarga, dan komunitas mereka, padahal hal-hal itulah yang menjadi fondasi utama bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka," kata Turnbull.

Tinjauan ini menemukan enam bentuk ancaman utama akibat iklim yaitu tekanan panas, perubahan pola musim dan lautan, perubahan siklus air, polusi udara, bencana alam terkait iklim, serta risiko lingkungan lainnya.

Ancaman-ancaman tersebut kemudian berdampak langsung pada lima masalah kesehatan utama di antaranya kesejahteraan psikologis dan budaya, gizi buruk, penyakit menular, kesehatan ibu dan bayi saat melahirkan, serta peningkatan angka kesakitan dan kematian.

Temuan yang paling kuat dan paling konsisten adalah dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis dan budaya.

Di berbagai penelitian, kerusakan lingkungan terbukti memutuskan ikatan anak-anak adat dengan tanah leluhur, identitas budaya, bahasa, serta pengetahuan dan tradisi lokal mereka yang pada akhirnya memicu stres, kecemasan, depresi, trauma, dan rasa duka.

Penulis pendamping sekaligus tetua suku Yamatji, Dr. Mara West dari The Kids, menyampaikan bahwa temuan ini mempertegas pentingnya melihat kesehatan masyarakat adat secara menyeluruh.

"Bagi masyarakat adat, kesehatan terikat erat dengan budaya, tanah leluhur, keluarga, dan komunitas. Ketika perubahan iklim merusak lingkungan, hal itu juga mengganggu tradisi budaya dan hubungan sosial yang menjaga anak-anak tetap kuat dan sehat," ujar West.

"Temuan ini memperjelas mengapa pengetahuan lokal dan kepemimpinan masyarakat adat harus menjadi pusat dari setiap upaya penanganan krisis iklim," katanya lagi.

Alih-alih hanya memandang anak-anak adat sebagai korban yang rentan terhadap perubahan iklim, para peneliti menegaskan bahwa generasi muda ini harus diakui sebagai bagian penting dari solusi.

Tinjauan ini menemukan bahwa keterlibatan aktif generasi muda dalam aksi iklim yang dipimpin oleh masyarakat adat dapat memperkuat identitas budaya, hak menentukan nasib sendiri, pemindahan ilmu antar generasi, serta ketangguhan komunitas.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau