KOMPAS.com - Studi global terbaru menemukan bencana iklim meningkatkan risiko pernikahan anak, kehamilan remaja, dan kekerasan terhadap anak perempuan.
Hal ini terjadi karena banjir, kekeringan, dan gelombang panas ekstrem merusak layanan kesehatan dan pendidikan yang mereka butuhkan.
Melansir Independent, Minggu (4/10/2026) analisis dari lembaga kemanusiaan Plan International ini memeriksa data kesehatan dan iklim dari lebih 50 negara selama tiga dekade terakhir. Riset ini juga dilengkapi survei terhadap 5.000 anak perempuan serta wawancara mendalam di Bangladesh, Kenya, Peru, Senegal, dan Zimbabwe.
Hasilnya menunjukkan bahwa 1 dari 10 anak perempuan mengaku mengalami kehamilan tak direncanakan setelah terjadinya bencana iklim. Sementara itu, sepertiga responden melihat adanya peningkatan kasus kehamilan tak direncanakan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Selain itu, 1 dari 10 anak perempuan yang disurvei menyatakan telah menikah sebelum usia 18 tahun dengan 36 persen melaporkan melihat lebih banyak kasus pernikahan anak setelah bencana iklim terjadi.
Baca juga: Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
"Ketika banjir membuat warga kehilangan segalanya, keluarga yang mengalami kesulitan keuangan akhirnya menikahkan anak perempuan mereka di usia yang sangat muda," ujar Shahina (19 tahun) dari Bangladesh.
Para peserta riset menceritakan bahwa anak perempuan di Peru mengalami kehamilan bahkan sejak usia 12 dan 13 tahun, sementara responden di Zimbabwe mencatat kasus kehamilan dialami oleh anak perempuan yang masih duduk di bangku SD dan SMP.
"Bagi anak perempuan, krisis iklim bukanlah ancaman masa depan yang jauh. Krisis ini sudah mengganggu pendidikan mereka dan memperbesar risiko bahaya saat mereka tidak bisa mengakses layanan kesehatan," tegas Reena Ghelani, CEO Plan International.
"Hanya separuh dari rencana iklim nasional yang menyebutkan kesehatan perempuan atau anak perempuan. Dan meski dampak krisis iklim terhadap sistem kesehatan makin parah, hanya 0,5 persen dari dana iklim global yang dialokasikan untuk sektor kesehatan," katanya lagi.
Pernyataan ini disampaikan di tengah peringatan dari berbagai lembaga bantuan kemanusiaan mengenai dampak gelombang ekstrem El Nino tahun ini yang kian memperburuk kesehatan perempuan.
Krisis iklim juga memicu meningkatnya kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Studi Plan International menemukan bahwa lebih dari seperempat anak perempuan mengaku menyaksikan kenaikan kasus kekerasan setelah terjadinya bencana iklim.
Anak perempuan juga lebih berisiko terpaksa putus sekolah akibat bencana iklim, padahal sekolah merupakan salah satu perlindungan terkuat dari ancaman pernikahan dini, kehamilan remaja, dan kekerasan.
Baca juga: Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
Menurut penelitian tersebut, anak perempuan yang pendidikannya terganggu memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi untuk menikah muda atau mengalami kehamilan yang tidak direncanakan.
Meski lebih dari tiga perempat responden menyatakan bahwa perempuan muda di komunitas mereka kesulitan mengakses setidaknya satu layanan kesehatan, angka ini melonjak hingga 84 persen pada mereka yang terdampak kekeringan.
Di antara 50 negara yang diteliti, kekeringan berkepanjangan menjadi bencana yang paling konsisten memicu peningkatan angka pernikahan anak.
"Ayah saya tidak lagi memiliki hewan ternak untuk dijual demi membiayai saya ke perguruan tinggi, karena itulah saya akhirnya menerima untuk dinikahkan," ungkap Galgalo (22 tahun) dari Kenya.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa semua risiko ini dipastikan akan makin parah seiring bencana iklim yang terjadi semakin sering dan hebat, terutama bagi anak-anak perempuan yang sudah hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya