KOMPAS.com - Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa para ilmuwan yang percaya teknologi dapat menyelesaikan sebagian besar masalah krisis iklim ternyata cenderung kurang aktif dalam aksi sosial terkait isu tersebut.
Melansir Guardian, Rabu (7/10/2026) laporan dari London School of Economics menemukan bahwa para ilmuwan yang tergolong optimistis pada teknologi ini 23 persen lebih kecil kemungkinannya untuk menandatangani petisi atau ikut serta dalam aksi protes dibanding rekan-rekan mereka yang meragukan teknologi sebagai satu-satunya jawaban.
Selain itu, mereka juga memiliki lebih kecil kemungkinannya untuk melakukan perubahan gaya hidup berdampak besar, seperti mengurangi penerbangan atau beralih ke pola makan vegan atau vegetaris.
Fabian Dablander, penulis utama studi tersebut, menjelaskan bahwa kepercayaan bahwa teknologi dapat mengatasi perubahan iklim yang disebut sebagai “techno-optimism” dapat memicu ketergantungan berlebih pada solusi yang belum terbukti.
Baca juga: Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Hal ini berisiko mengabaikan perubahan sosial-ekonomi mendasar yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk mengatasi krisis iklim dan alam.
“Solusi teknologi sering kali terlihat menarik secara politik karena menawarkan janji untuk mengatasi perubahan iklim tanpa menuntut perubahan pada gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat,” ujar Dablander.
“Yang menarik, kita melihat kecenderungan yang sama pada tingkat individu. Makin besar kepercayaan pada solusi teknologi, makin rendah keterlibatan mereka dalam aksi nyata untuk iklim. Padahal, teknologi tidak bisa menggantikan perubahan sosial yang lebih luas dan pergeseran pola konsumsi secara besar-besaran yang sebenarnya sangat dibutuhkan,” katanya lagi.
Studi ini menyoroti hasil survei terhadap lebih dari 9.000 ilmuwan di 115 negara. Secara keseluruhan, 27 persen ilmuwan setuju dengan pernyataan bahwa teknologi akan menyelesaikan sebagian besar masalah akibat perubahan iklim, sementara 44 persen tidak setuju dan 29 persen sisanya berada di posisi netral.
Para ilmuwan yang tergolong optimistis pada teknologi ini tercatat lebih jarang terlibat dalam aksi sosial, demonstrasi, penandatanganan petisi, maupun kampanye advokasi iklim. Mereka juga cenderung lebih enggan mengurangi penerbangan, membatasi penggunaan mobil, atau beralih ke pola makan vegan atau vegetaris.
Laporan yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters ini juga menemukan bahwa pandangan optimistis pada teknologi paling banyak ditemukan di kalangan ilmuwan konservatif serta mereka yang bekerja di bidang ilmu terapan dan ilmu alam.
Baca juga: AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim
Profesor Kevin Anderson, salah satu ilmuwan iklim terkemuka dari Tyndall Centre for Climate Change Research di University of Manchester yang tidak terlibat dalam studi ini, mengungkapkan bahwa berdasarkan pengalamannya, banyak akademisi iklim yang berpenghasilan sangat tinggi dan menikmati reputasi besar justru memilih jalan pintas yang nyaman.
“Ini memberi alasan yang nyaman untuk melarikan diri dari rasa tanggung jawab pribadi. Hal ini memungkinkan mereka untuk tetap mempertahankan ilusi seolah-olah sangat peduli pada masa depan anak-anak mereka, padahal di saat yang sama terus menjalani gaya hidup yang justru menjadi penyumbang terbesar masalah iklim,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kepercayaan pada penyelamatan teknologi di masa depan memberi satu lagi tempat bersandar yakni cara untuk menunda keputusan sulit hari ini dengan menggantungkan harapan pada solusi yang belum tentu ada besok.
“Namun anehnya, bukti ilmiah di balik janji-janji teknologi ini sering kali jauh di bawah standar pengujian ketat yang biasanya mereka tuntut dari penelitian orang lain. Hasilnya adalah kebalikan dari praktik ilmiah yang sebenarnya: makin tidak nyaman dampak dari fakta ilmiah yang ada, makin besar antusiasme mereka untuk percaya pada masa depan yang sebenarnya tidak didukung oleh fakta tersebut,” katanya lagi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya