Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim

Kompas.com, 11 Oktober 2026, 09:27 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa para ilmuwan yang percaya teknologi dapat menyelesaikan sebagian besar masalah krisis iklim ternyata cenderung kurang aktif dalam aksi sosial terkait isu tersebut.

Melansir Guardian, Rabu (7/10/2026) laporan dari London School of Economics menemukan bahwa para ilmuwan yang tergolong optimistis pada teknologi ini 23 persen lebih kecil kemungkinannya untuk menandatangani petisi atau ikut serta dalam aksi protes dibanding rekan-rekan mereka yang meragukan teknologi sebagai satu-satunya jawaban.

Selain itu, mereka juga memiliki lebih kecil kemungkinannya untuk melakukan perubahan gaya hidup berdampak besar, seperti mengurangi penerbangan atau beralih ke pola makan vegan atau vegetaris.

Fabian Dablander, penulis utama studi tersebut, menjelaskan bahwa kepercayaan bahwa teknologi dapat mengatasi perubahan iklim yang disebut sebagai “techno-optimism” dapat memicu ketergantungan berlebih pada solusi yang belum terbukti.

Baca juga: Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif

Hal ini berisiko mengabaikan perubahan sosial-ekonomi mendasar yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk mengatasi krisis iklim dan alam.

“Solusi teknologi sering kali terlihat menarik secara politik karena menawarkan janji untuk mengatasi perubahan iklim tanpa menuntut perubahan pada gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat,” ujar Dablander.

“Yang menarik, kita melihat kecenderungan yang sama pada tingkat individu. Makin besar kepercayaan pada solusi teknologi, makin rendah keterlibatan mereka dalam aksi nyata untuk iklim. Padahal, teknologi tidak bisa menggantikan perubahan sosial yang lebih luas dan pergeseran pola konsumsi secara besar-besaran yang sebenarnya sangat dibutuhkan,” katanya lagi.

Studi ini menyoroti hasil survei terhadap lebih dari 9.000 ilmuwan di 115 negara. Secara keseluruhan, 27 persen ilmuwan setuju dengan pernyataan bahwa teknologi akan menyelesaikan sebagian besar masalah akibat perubahan iklim, sementara 44 persen tidak setuju dan 29 persen sisanya berada di posisi netral.

Para ilmuwan yang tergolong optimistis pada teknologi ini tercatat lebih jarang terlibat dalam aksi sosial, demonstrasi, penandatanganan petisi, maupun kampanye advokasi iklim. Mereka juga cenderung lebih enggan mengurangi penerbangan, membatasi penggunaan mobil, atau beralih ke pola makan vegan atau vegetaris.

Laporan yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters ini juga menemukan bahwa pandangan optimistis pada teknologi paling banyak ditemukan di kalangan ilmuwan konservatif serta mereka yang bekerja di bidang ilmu terapan dan ilmu alam.

Baca juga: AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim

Profesor Kevin Anderson, salah satu ilmuwan iklim terkemuka dari Tyndall Centre for Climate Change Research di University of Manchester yang tidak terlibat dalam studi ini, mengungkapkan bahwa berdasarkan pengalamannya, banyak akademisi iklim yang berpenghasilan sangat tinggi dan menikmati reputasi besar justru memilih jalan pintas yang nyaman.

“Ini memberi alasan yang nyaman untuk melarikan diri dari rasa tanggung jawab pribadi. Hal ini memungkinkan mereka untuk tetap mempertahankan ilusi seolah-olah sangat peduli pada masa depan anak-anak mereka, padahal di saat yang sama terus menjalani gaya hidup yang justru menjadi penyumbang terbesar masalah iklim,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kepercayaan pada penyelamatan teknologi di masa depan memberi satu lagi tempat bersandar yakni cara untuk menunda keputusan sulit hari ini dengan menggantungkan harapan pada solusi yang belum tentu ada besok.

“Namun anehnya, bukti ilmiah di balik janji-janji teknologi ini sering kali jauh di bawah standar pengujian ketat yang biasanya mereka tuntut dari penelitian orang lain. Hasilnya adalah kebalikan dari praktik ilmiah yang sebenarnya: makin tidak nyaman dampak dari fakta ilmiah yang ada, makin besar antusiasme mereka untuk percaya pada masa depan yang sebenarnya tidak didukung oleh fakta tersebut,” katanya lagi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau