KOMPAS.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memilih Bentang Alam Wehea-Kelay di Kalimantan Timur sebagai salah satu lokasi percontohan implementasi Multiusaha Kehutanan (MUK).
Pendekatan ini diarahkan untuk memperluas sumber pendapatan dari kawasan hutan, sekaligus menjaga fungsi ekologis dan memperkuat kemitraan dengan masyarakat.
Di Wehea-Kelay, pengembangan MUK dilakukan melalui Bentala Kalimantan, platform kolaborasi pengelolaan lanskap berkelanjutan yang diinisiasi Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada 2024.
Baca juga: Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Inisiatif tersebut melibatkan pemerintah daerah, perusahaan pemegang izin usaha pemanfaatan hutan, akademisi, dan masyarakat setempat.
Saat ini, enam perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) hutan alam telah bergabung dalam Bentala Kalimantan yang mencakup 14 desa.
Ke depan, inisiatif ini akan diperluas dengan melibatkan lebih banyak perusahaan yang beroperasi di Bentang Alam Wehea-Kelay.
Direktur Eksekutif YKAN Herlina Hartanto mengatakan, Bentala Kalimantan tengah mengembangkan model bisnis kehutanan yang mengombinasikan pemanfaatan hasil hutan kayu dengan sumber pendapatan lain, seperti agroforestri regeneratif dan jasa lingkungan, termasuk nilai ekonomi karbon.
“Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi kawasan hutan alam, termasuk hutan produksi, sekaligus menjaga fungsi ekologisnya dalam jangka panjang,” ujar Herlina dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).
Model tersebut menerapkan prinsip conservation-first, yakni menempatkan konservasi sebagai prioritas. Hutan lindung dan sebagian besar kawasan produksi yang memiliki nilai konservasi tinggi akan tetap dilindungi, sementara kegiatan produksi di areal PBPH hutan alam dirancang mengikuti standar keberlanjutan yang ketat.
Baca juga: Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Bentang Alam Wehea-Kelay merupakan habitat berbagai satwa khas Kalimantan, di antaranya orangutan, owa, beruang madu, bekantan, dan rangkong. Karena itu, pengembangan kegiatan ekonomi di kawasan ini perlu berjalan beriringan dengan perlindungan habitat dan keanekaragaman hayati.
Pengembangan MUK juga berkaitan dengan tantangan ekonomi yang dihadapi sektor kehutanan. Ketergantungan pada hasil kayu membuat sumber pendapatan perusahaan terbatas, sementara biaya produksi kayu kerap lebih tinggi daripada harga jual di pasar.
Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah konsesi tidak aktif berproduksi. Berdasarkan penelitian YKAN, konsesi yang tidak produktif berisiko mengalami degradasi hutan, deforestasi, hingga alih fungsi lahan.
Selain mengembangkan sumber pendapatan baru, Bentala Kalimantan mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan. Kegiatannya meliputi survei hutan, pengelolaan persemaian, pengembangan agroforestri karet dan kakao, serta perlindungan hutan.
YKAN juga mendorong penguatan hak kelola masyarakat melalui skema Kemitraan Kehutanan.
Direktur Utama PT Gunung Gajah Abadi Totok Suripto menyambut penunjukan Wehea-Kelay sebagai lokasi percontohan MUK. Menurut dia, pengembangan usaha lain di kawasan hutan dapat membuka peluang ekonomi baru di tengah penurunan bisnis kayu selama lebih dari satu dekade.
Baca juga: Kemenhut Bekukan Izin Usaha 26 Perusahaan Terkait Karhutla
Perwakilan PT Wana Bakti Persada Utama Ambang Wijaya berharap Bentala Kalimantan dapat menjadi model yang menunjukkan bahwa kawasan hutan yang terjaga tetap dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.
Selain Wehea-Kelay, pemerintah menetapkan empat lokasi percontohan MUK lainnya, yakni Bukit Tiga Puluh di Jambi, Pesawaran dan Lampung Selatan di Lampung, Kubu Raya di Kalimantan Barat, serta Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) di Aceh.
Kelima lokasi dipilih dengan mempertimbangkan potensi komoditas, kesiapan perusahaan pemegang izin, kesiapan masyarakat, dan peluang pasar.
Dalam tahap awal, pengembangan MUK di Indonesia berfokus pada agroforestri dan restorasi ekosistem, termasuk komoditas kopi dan kakao yang dinilai memiliki prospek pasar global.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya