Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan

Kompas.com, 11 Oktober 2026, 09:45 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memilih Bentang Alam Wehea-Kelay di Kalimantan Timur sebagai salah satu lokasi percontohan implementasi Multiusaha Kehutanan (MUK).

Pendekatan ini diarahkan untuk memperluas sumber pendapatan dari kawasan hutan, sekaligus menjaga fungsi ekologis dan memperkuat kemitraan dengan masyarakat.

Di Wehea-Kelay, pengembangan MUK dilakukan melalui Bentala Kalimantan, platform kolaborasi pengelolaan lanskap berkelanjutan yang diinisiasi Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada 2024.

Baca juga: Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi

Inisiatif tersebut melibatkan pemerintah daerah, perusahaan pemegang izin usaha pemanfaatan hutan, akademisi, dan masyarakat setempat.

Saat ini, enam perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) hutan alam telah bergabung dalam Bentala Kalimantan yang mencakup 14 desa.

Ke depan, inisiatif ini akan diperluas dengan melibatkan lebih banyak perusahaan yang beroperasi di Bentang Alam Wehea-Kelay.

Direktur Eksekutif YKAN Herlina Hartanto mengatakan, Bentala Kalimantan tengah mengembangkan model bisnis kehutanan yang mengombinasikan pemanfaatan hasil hutan kayu dengan sumber pendapatan lain, seperti agroforestri regeneratif dan jasa lingkungan, termasuk nilai ekonomi karbon.

“Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi kawasan hutan alam, termasuk hutan produksi, sekaligus menjaga fungsi ekologisnya dalam jangka panjang,” ujar Herlina dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).

Model tersebut menerapkan prinsip conservation-first, yakni menempatkan konservasi sebagai prioritas. Hutan lindung dan sebagian besar kawasan produksi yang memiliki nilai konservasi tinggi akan tetap dilindungi, sementara kegiatan produksi di areal PBPH hutan alam dirancang mengikuti standar keberlanjutan yang ketat.

Baca juga: Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera

Bentang Alam Wehea-Kelay merupakan habitat berbagai satwa khas Kalimantan, di antaranya orangutan, owa, beruang madu, bekantan, dan rangkong. Karena itu, pengembangan kegiatan ekonomi di kawasan ini perlu berjalan beriringan dengan perlindungan habitat dan keanekaragaman hayati.

Mengurangi risiko konsesi tidak produktif

Pengembangan MUK juga berkaitan dengan tantangan ekonomi yang dihadapi sektor kehutanan. Ketergantungan pada hasil kayu membuat sumber pendapatan perusahaan terbatas, sementara biaya produksi kayu kerap lebih tinggi daripada harga jual di pasar.

Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah konsesi tidak aktif berproduksi. Berdasarkan penelitian YKAN, konsesi yang tidak produktif berisiko mengalami degradasi hutan, deforestasi, hingga alih fungsi lahan.

Selain mengembangkan sumber pendapatan baru, Bentala Kalimantan mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan. Kegiatannya meliputi survei hutan, pengelolaan persemaian, pengembangan agroforestri karet dan kakao, serta perlindungan hutan.

YKAN juga mendorong penguatan hak kelola masyarakat melalui skema Kemitraan Kehutanan.

Direktur Utama PT Gunung Gajah Abadi Totok Suripto menyambut penunjukan Wehea-Kelay sebagai lokasi percontohan MUK. Menurut dia, pengembangan usaha lain di kawasan hutan dapat membuka peluang ekonomi baru di tengah penurunan bisnis kayu selama lebih dari satu dekade.

Baca juga: Kemenhut Bekukan Izin Usaha 26 Perusahaan Terkait Karhutla

Perwakilan PT Wana Bakti Persada Utama Ambang Wijaya berharap Bentala Kalimantan dapat menjadi model yang menunjukkan bahwa kawasan hutan yang terjaga tetap dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.

Selain Wehea-Kelay, pemerintah menetapkan empat lokasi percontohan MUK lainnya, yakni Bukit Tiga Puluh di Jambi, Pesawaran dan Lampung Selatan di Lampung, Kubu Raya di Kalimantan Barat, serta Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) di Aceh.

Kelima lokasi dipilih dengan mempertimbangkan potensi komoditas, kesiapan perusahaan pemegang izin, kesiapan masyarakat, dan peluang pasar.

Dalam tahap awal, pengembangan MUK di Indonesia berfokus pada agroforestri dan restorasi ekosistem, termasuk komoditas kopi dan kakao yang dinilai memiliki prospek pasar global.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau