KOMPAS.com - Perang mempercepat hilangnya lahan pertanian. Dampaknya bisa terasa hingga bertahun-tahun setelah konflik dimulai, dan tingkat kerusakannya bergantung pada seberapa parah perang serta kondisi sosial di wilayah tersebut.
Demikian hasil penelitian baru yang diterbitkan di jurnal Nature Food pada 24 September.
Studi ini dipimpin oleh Profesor Li Guangdong, Dr. Qi Wei, dan Profesor Wang Zhenbo dari Institut Ilmu Geografi dan Penelitian Sumber Daya Alam di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China.
Penelitian ini menyajikan bukti global mengenai dampak jangka panjang konflik bersenjata terhadap lahan dan hasil pertanian.
Melansir Phys, Kamis (8/10/2026) selama ini, perang telah lama dikenal sebagai penyebab utama krisis pangan. Namun, dampak jangka panjangnya terhadap lahan pertanian secara global masih belum banyak dipahami.
Dalam penelitian ini, para ahli menggabungkan peta lahan pertanian global beresolusi 30 meter dari tahun 2000 hingga 2020 dengan data lebih dari 460.000 peristiwa konflik bersenjata yang tersebar di 155 negara.
Baca juga: PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Para peneliti mengamati perubahan lahan pertanian di zona penyangga sejauh 5 kilometer dari titik-titik konflik. Mereka kemudian menggunakan metode statistik khusus untuk memisahkan kerusakan akibat perang dari tren lingkungan dan sosial-ekonomi lainnya.
Studi ini menemukan bahwa wilayah yang terdampak konflik hanya mencakup sekitar 3 persen dari total daratan dunia, namun menampung lebih dari 6 persen lahan pertanian global pada tahun 2020.
Ini menunjukkan bahwa lahan pertanian jauh lebih rentan dan sering berada di tengah kecamuk perang. Meskipun secara keseluruhan lahan pertanian global sempat meluas antara tahun 2000 dan 2020, lahan di wilayah konflik justru mengalami sedikit penurunan.
Analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa konflik bersenjata menyebabkan penurunan rata-rata sebesar 3,01 persen pada luas lahan pertanian. Angka ini setara dengan hilangnya 14,46 hektar lahan per zona konflik setiap tahunnya. Dampak buruk ini bahkan terus dirasakan selama bertahun-tahun setelah perang meletus.
Perbandingan spasial tambahan menunjukkan bahwa wilayah yang dilanda konflik mengalami kehilangan lahan pertanian 23,7 persen lebih besar dibandingkan wilayah serupa yang tidak mengalami konflik. Kerugian terbesar terkonsentrasi di Afrika Barat, Afrika Timur, dan Asia Tenggara.
Menurut para peneliti, dampak pertanian akibat konflik bersenjata sangat bervariasi di tiap wilayah dan bergantung pada tingkat keparahan perang serta kondisi sosial setempat.
Dampak tersebut sangat dipengaruhi oleh seberapa sering dan berapa lama konflik itu terjadi. Wilayah yang sering sekali mengalami konflik mencatat kerusakan lahan yang paling parah, di mana kelompok dengan frekuensi konflik tertinggi kehilangan sekitar sepertiga dari total lahan pertanian mereka.
Konflik yang berkepanjangan dan sangat parah menyebabkan kerugian yang jauh lebih besar dibandingkan konflik yang terjadi sesekali atau berkekuatan rendah.
Sebaliknya, wilayah yang mulai beralih menuju perdamaian pasca-konflik tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan lahan pertanian yang berlanjut.
Para peneliti juga menemukan bahwa hilangnya lahan pertanian akibat perang turut dipengaruhi oleh kondisi sosial dan pemerintahan secara luas. Kerugian biasanya lebih besar di negara-negara dengan jumlah pengungsi yang tinggi, begitu pula dengan tingkat kerawanan pangan yang serupa.
Sebaliknya, wilayah dengan tingkat efektivitas pemerintahan, kualitas regulasi, dan penegakan hukum yang lebih baik mencatat kerusakan lahan yang lebih kecil. Menurut para peneliti, temuan ini mengisyaratkan bahwa kapasitas kelembagaan yang kuat dapat membantu melindungi sistem pertanian dari dampak buruk konflik.
Baca juga: Konflik dan Krisis Global Ancam Kelestarian Enam Situs Warisan Dunia
Untuk mengetahui dampaknya terhadap persediaan makanan, tim peneliti mengubah perkiraan luas lahan yang hilang menjadi potensi hasil panen dan energi makanan.
Setelah memperhitungkan pertambahan dan pengurangan lahan akibat perluasan perkotaan, wilayah yang terdampak konflik kehilangan sekitar 249.667 km² lahan pertanian antara tahun 2000 dan 2020.
Jumlah energi makanan dari tanaman yang seharusnya bisa dihasilkan di atas lahan tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori minimal tahunan bagi sekitar 255,54 juta orang.
Para peneliti menekankan bahwa angka tersebut menunjukkan potensi hasil panen yang hilang, bukan berarti makanan benar-benar dikonsumsi atau langsung menyebabkan kelaparan. Masalah ketersediaan pangan yang sebenarnya juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti perdagangan, harga, distribusi, dan akses masyarakat terhadap makanan.
Secara keseluruhan, temuan ini mengungkap dampak konflik bersenjata yang berkepanjangan dan tidak merata terhadap lahan pertanian. Hal ini juga menunjukkan bagaimana dampak tersebut sangat bergantung pada seberapa parah konflik serta kuat lemahnya sistem pemerintahan setempat.
Menurut para peneliti, temuan ini menegaskan pentingnya memantau wilayah konflik secara berbarengan dengan perubahan lahan pertanian.
Bantuan kemanusiaan jangka pendek juga harus dibarengi dengan upaya jangka panjang untuk memulihkan infrastruktur pertanian, mendukung para petani, serta memperkuat lembaga-lembaga lokal di wilayah yang terdampak perang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya