Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali

Kompas.com, 11 Oktober 2026, 21:13 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Permasalahan sampah laut di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari aliran sungai. Sampah yang berasal dari daratan bisa terbawa melalui sungai-sungai besar hingga akhirnya masuk ke laut dan terakumulasi di sejumlah kawasan pesisir.

‎Berdasarkan model simulasi yang digunakan dalam penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebanyak 92 persen aliran sampah berakhir di pantai Indonesia. Akumulasi sampah tersebut cukup tinggi di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Jawa dan Bali.

‎Peneliti Pusat Riset Oseanografi (PRO) BRIN, Budhi Gunadharma Gautama mengatakan, ada sejumlah titik di pesisir Jawa menjadi lokasi akumulasi sampah laut. Jakarta menjadi salah satu wilayah yang terdampak akumulasi sampah laut.

‎“Jawa ini ternyata terakumulasi di beberapa titik yang tinggi. Di Jakarta ya. Ini titik-titik yang di pantai Indonesia yang banyak sampah-sampah ini terdampar. Bali juga salah satu daerah yang terdampak. Jadi, memang Indonesia sampahnya memang lebih banyak berkumpul di Indonesia sendiri,” ujar Budhi, dilansir dari laman resmi BRIN, Selasa (6/10/2026).

‎Penanganan sampah laut tidak cukup dilakukan dengan membersihkan pantai atau laut usai sampah terlanjur masuk ke perairan. Menurut Budhi, upaya pencegahan justru perlu dimulai dari daratan, terutama melalui pengelolaan sampah dan pengendalian aliran sampah menuju sungai.

‎“Pencegahan masalah sampah itu harus memang dimulai dari darat, dan jangan sampai dirilis ke laut,” tutur Budhi.

Baca juga: Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA

‎Selain memetakan pergerakan sampah, pendekatan pemodelan yang dipakai dalam penelitian ini juga berpotensi mendukung penanganan pencemaran laut dan penegakan hukum lingkungan. Ia menganggap, simulasi pergerakan partikel dapat digunakan untuk memperkirakan penyebaran berbagai bentuk pencemaran di laut, termasuk tumpahan bahan berbahaya. 

‎Informasi tersebut bisa membantu memberikan gambaran ilmiah mengenai arah dan pola penyebaran material pencemar. Indonesia sebenarnya telah mempunyai regulasi yang cukup lengkap untuk mengatasi permasalahan lingkungan, seperti sampah laut. 

‎Dalam pelaksanaannya, tantangannya terletak pada pengawasan, pembuktian ilmiah dan konsistensi penegakan hukum.

Untuk konteks ini, temuan penelitian berperan penting menyediakan data dasar, bukti ilmiah, dan informasi yang dapat digunakan pemerintah maupun masyarakat dalam menangani kasus pencemaran lingkungan.

‎Karena itu, penyelesaian persoalan kelautan membutuhkan pemahaman terhadap proses yang berlangsung secara menyeluruh.

Data dan model ilmiah bisa membantu menunjukkan bagaimana material bergerak, di mana material tersebut terakumulasi, serta dampak yang mungkin ditimbulkannya terhadap lingkungan dan masyarakat.

Baca juga: Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular

‎Banjir pendorong polusi plastik 

‎Penelitian dari Tokyo University of Science di Jepang mengungkapkan bahwa banjir menjadi pendorong terbesar polusi plastik di sungai. Polusi plastik termasuk masalah lingkungan utama. Mayoritas sampah plastik berakhir di laut, dengan sungai sebagai jalur transportasi utama dari daerah perkotaan, pertanian, dan lanskap lainnya.

‎"Sungai disebut sebagai jalur utama masuknya plastik dari daratan ke laut. Namun, peran sungai yang banjir dalam mengangkut mikroplastik dan mesoplastik (MMP) masih belum jelas," tulis peneliti, dilansir dari Science Direct, Kamis (12/2/2026).

‎Seiring waktu, benda-benda plastik yang lebih besar akan terurai menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. Khususnya mikroplastik dengan ukuran kurang dari lima milimeter dan mesoplastik berukuran antara lima sampai 25 milimeter. Partikel-partikel kecil ini dapat menyebar melalui berbagai ekosistem. Saat ini, polusi plastik memengaruhi kehidupan di laut dan ditemukan di banyak organisme hidup, termasuk manusia.

‎Untuk mengembangkan penanganan yang efektif, perlu upaya untuk memperkirakan secara akurat berapa banyak plastik yang terbawa sungai dan menuju ke laut.

‎

‎

‎

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau