KOMPAS.com - Philanthropy Asia Alliance (PAA) mendukung pengembangan lanjutan Global Heat Health Information Network (GHHIN) Southeast Asia Hub untuk memperkuat koordinasi penanganan dampak panas ekstrem di Asia Tenggara.
Dukungan tersebut mencakup pendanaan bagi sejumlah langkah di Indonesia dan Thailand pada 2027, serta persiapan penyelenggaraan Southeast Asia Heat Health Forum kedua.
Dukungan itu diumumkan dalam Global Heat Forum di Bangkok, Thailand, Jumat (9/10/2026).
Baca juga: Cuaca Ekstrem Terjang Cicurug Sukabumi, Sekolah hingga Kendaraan Rusak
Meski sistem peringatan dini dan rencana aksi di sejumlah kota mulai berkembang, banyak negara belum memiliki mekanisme koordinasi berkelanjutan yang menghubungkan sektor kesehatan, ketenagakerjaan, perkotaan, dan penanggulangan bencana.
Ketersediaan data antarnegara juga belum merata. Sementara itu, sejumlah program percontohan menghadapi kesulitan untuk berlanjut setelah pendanaan berakhir.
Chief Executive Officer PAA Shaun Seow mengatakan, panas ekstrem merupakan persoalan yang berkaitan erat dengan perubahan iklim, kesehatan, dan ekonomi. Namun, penanganannya kerap terbagi di antara lembaga yang bekerja secara terpisah.
“Tantangannya adalah menghubungkan sains dengan lembaga pemerintah dan komunitas lokal secara berkelanjutan, sehingga kita dapat melangkah dari melindungi ratusan ribu orang menjadi ratusan juta orang,” ujar Seow dalam keterangan tertulis, Senin (12/10/2026).
Menurut Seow, dukungan PAA ditujukan untuk memperkuat fondasi regional yang telah dibangun GHHIN Southeast Asia Hub sekaligus mendorong penanganan panas ekstrem yang dipimpin oleh masing-masing negara.
Di Indonesia, GHHIN Southeast Asia Hub melanjutkan Proyek KATALIS-HEAT yang dijalankan bersama Pusat Lingkungan dan Kesehatan Asia-Pasifik WHO (ACE), WHO Indonesia, dan Kementerian Kesehatan.
Program tersebut bertujuan memperkuat koordinasi di tingkat nasional serta mendorong pengembangan aksi penanganan panas ekstrem di tingkat kota. Makassar menjadi salah satu lokasi pelaksanaan, dengan dua kota tambahan direncanakan masuk dalam program tersebut.
Adapun di Thailand, upaya masih berada pada tahap awal. Konsultasi dengan mitra dan pemetaan cepat sedang dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi yang ada serta menyepakati prioritas penanganan pada tahap berikutnya.
Pembelajaran dari kedua negara akan dihimpun dalam platform regional agar dapat dimanfaatkan oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dengan pendekatan ini, pemerintah di kawasan diharapkan dapat mengadaptasi praktik yang telah diuji tanpa harus memulai pengembangan program dari awal.
GHHIN Southeast Asia Hub bekerja sama dengan pemerintah, peneliti, penyandang dana, dan mitra pelaksana untuk menghubungkan bukti ilmiah dengan kebijakan serta praktik penanganan panas ekstrem.
Kegiatannya mencakup penguatan bukti ilmiah dan sistem data kesehatan terkait panas, peningkatan kapasitas masyarakat melalui intervensi yang sesuai dengan kondisi lokal, serta pertukaran pembelajaran antarnegara.
Sejak diluncurkan pada Januari 2025, Hub tersebut mulai membangun fondasi respons regional dengan Indonesia sebagai negara pertama yang menjadi fokus keterlibatan. Dukungan untuk pengembangan aksi di Kamboja dan Filipina juga mulai tumbuh.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya