Berbagai darurat baru-baru ini di Nepal, Venezuela, dan Kolombia telah menunjukkan bagaimana perencanaan bencana dan pengumpulan data sangat memengaruhi proses pemulihan.
Di Nepal, banjir bandang akibat runtuhnya gletser pada bulan Agustus lalu berdampak pada lebih dari 84.000 orang dan merusak sekitar 7.500 rumah. Penilaian IOM di 48 lokasi pengungsian menemukan 3.650 orang mengungsi dan 28 lokasi masih beroperasi.
Baca juga: Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Di Venezuela, setelah gempa bumi pada bulan Juni, lembaga tersebut membantu 50.600 orang dengan menyediakan tempat tinggal sementara, kebutuhan pokok, layanan kesehatan, dan perlindungan.
Survei menunjukkan bahwa lebih dari separuh keluarga terdampak menganggap perbaikan rumah sebagai prioritas utama.
" Pelajarannya sudah jelas: perencanaan pemulihan harus dimulai sejak dini, sebelum pengungsian sementara berlarut-larut," tegas Moita.
Di Kolombia, gempa bumi pada bulan Agustus dilaporkan berdampak pada hampir 500.000 orang dan merusak lebih dari 200.000 rumah, serta menyebabkan sekitar 20.000 keluarga mengungsi di Cali.
"Membangun kembali rumah saja tidak cukup, masyarakat juga membutuhkan fasilitas umum yang berfungsi dan kesempatan untuk menata kembali hidup mereka," catat pejabat IOM tersebut.
"Kita memerlukan investasi yang berkelanjutan untuk peringatan dini, kesiapsiagaan lokal, perumahan yang lebih aman, serta upaya pemulihan yang dimulai sejak awal guna membangun ketahanan. Bencana bisa datang secara tiba-tiba, tetapi pengungsian bisa berlangsung jauh lebih lama," pungkas Moita.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya