Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan

Kompas.com, 20 Oktober 2026, 09:23 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sekitar 800 juta anak muda di negara-negara berkembang yang akan memasuki dunia kerja dalam beberapa tahun ke depan tidak akan mendapatkan pekerjaan kecuali negara-negara bertindak, demikian peringatan dari kepala Program Pembangunan PBB (UNDP).

"Jika kita melihat 15 tahun ke depan, akan ada 1,2 miliar anak muda yang lulus sekolah dan masuk ke dunia kerja," ujar Administrator UNDP Alexander De Croo seperti dikutip dari laman resmi United Nations, Selasa (13/10/2026).

"Sayangnya, hanya 400 juta orang yang akan mendapatkan pekerjaan. Sementara untuk 800 juta orang lainnya, tidak ada pekerjaan yang tersedia," paparnya lagi.

De Croo mengatakan bahwa kesenjangan tersebut dipicu oleh faktor kependudukan. Di banyak negara berkembang, usia median (tengah) penduduknya berkisar antara 18 hingga 25 tahun.

Baca juga: Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?

Angka proyeksi pengangguran yang besar itu dihitung berdasarkan kondisi teknologi yang ada saat ini. Artinya, jika cara kerja dan kondisi ekonomi berjalan seperti sekarang tanpa ada perubahan atau terobosan kebijakan, lapangan kerja yang tersedia tidak akan mampu menampung banyaknya anak muda yang lulus sekolah.

"Situasi ini tidak akan berjalan begitu saja. Ini adalah hasil dari kebijakan," ujar De Croo.

Dari investasi menuju lapangan kerja

Program baru bernama Investment Accelerator pun dibuat untuk membantu pemerintah di negara-negara berkembang agar proyek-proyek yang bisa membuka lapangan kerja benar-benar mendapatkan modal dan dapat berjalan dengan sukses.

Investment Accelerator akan membantu pemerintah memperbaiki kebijakan investasi dan kerangka hukum, menyiapkan proyek-proyek yang siap didanai, serta mengawalnya dari tahap persiapan hingga pelaksanaan.

Sementara itu, program Jobs for Prosperity Facility akan membantu negara-negara mengidentifikasi sektor-sektor yang memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja, menyelaraskan keterampilan pekerja dengan kebutuhan pemberi kerja, serta mengatasi berbagai hambatan bagi investasi bisnis dan perekrutan tenaga kerja.

Ketika ditanya apakah kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor dalam masalah lapangan pekerjaan, De Croo mengatakan bahwa proyeksi tersebut masih bisa berubah melalui kebijakan tenaga kerja yang aktif.

Meskipun AI berkembang sangat cepat dan menggantikan banyak pekerjaan administratif atau repetitif, ada bidang-bidang tertentu yang sangat bergantung pada sentuhan dan interaksi langsung antarmanusia.

Sektor seperti perawatan kesehatan, pertanian, dan pariwisata akan tetap menyerap dan menciptakan banyak lapangan kerja di masa depan karena tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin atau AI.

"Penciptaan lapangan kerja sebenarnya adalah satu-satunya cara nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat untuk keluar dari kemiskinan," ujarnya.

Kedua inisiatif ini didukung oleh perluasan kerja sama dengan Kelompok Bank Dunia, Bank Investasi Eropa, serta Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan. Program percontohannya sendiri sudah mulai berjalan di Nepal, Yaman, Haiti, Libanon, dan Ghana.

Baca juga: AI Permudah Pekerjaan, tapi Bisa Gerus Kemampuan Berpikir Kritis

Tiga guncangan sekaligus

Peluncuran inisiatif di atas dilakukan saat banyak negara berkembang menghadapi apa yang disebut sebagai "tiga guncangan": biaya energi yang tinggi, fenomena El Niño paling parah sejak tahun 1950, serta biaya pinjaman utang yang sangat mahal.

Berdasarkan laporan terbaru UNDP yang berjudul No Time to Recover, rata-rata negara berkembang kini harus menghabiskan 9,5 persen dari total pendapatan pemerintah hanya untuk membayar bunga utang.

Untuk pertama kalinya sejak tahun 2010, jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan multidimensional--yang mengukur tidak hanya dari pendapatan, tetapi juga akses terhadap listrik, air, layanan kesehatan, dan pendidikan--mengalami peningkatan.

"Angka-angka tersebut seharusnya menjadi peringatan keras bagi kita semua. Meskipun ekonomi global terbukti lebih tangguh dari perkiraan, ketangguhan itu tidak dirasakan secara merata oleh semua pihak," ujar De Croo.

"Beberapa negara masih memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat. Namun, negara-negara lainnya tidak memiliki fondasi yang cukup untuk bertahan dari guncangan berikutnya," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Beban Lingkungan Baru, Mayoritas Pusat Data Beroperasi di Wilayah Rentan Air
Beban Lingkungan Baru, Mayoritas Pusat Data Beroperasi di Wilayah Rentan Air
Pemerintah
Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti
Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti
LSM/Figur
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
Pemerintah
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
Pemerintah
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
LSM/Figur
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Swasta
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Swasta
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
Desa Sejahtera Astra
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Pemerintah
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
Pemerintah
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Pemerintah
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau