"Saya ini sudah banyak menebang kayu, dosa saya banyak. Iya. Nah kalau saya menanam kembali ya setidak-tidaknya ya mungkin yang di atas itu, pikir juga kena ganti gitu. Itulah alasan saya, meski saya sombong, saya menanam pohon meranti paling banyak di Kecamatan Long Pahangai," tutur Alauwing.
Ia mengolah lahan percontohan penanaman pohon meranti dan ulin seluas 12 hektare sejak tahun 2001.
Pohon meranti dan ulin yang ditanam dengan jarak 2 meter saat ini telah tumbuh besar. Lembaga adat sudah menerbitkan instruksi kepada warga di 13 kampung untuk menanam pohon meranti atau ulin, dengan target minimal 100 pohon per orang per kepala keluarga yang dilakukan secara berkala setiap tahun.
Baca juga: Pemerintah Rayu AS Bebaskan Tarif Resiprokal untuk Produk Nanas hingga Kayu Meranti
"Tujuan saya supaya mengajarkan masyarakat ini menghadirkan kembali apa yang sudah ada, ciptaan yang sudah ada seperti ulin dan meranti. Kalau tidak kita tanam kembali, nanti anak cucu kita tidak bisa dapat lagi," ujar Alauwing.
Di sisi lain, masyarakat adat di Kecamatan Long Pahangai mengembangkan beberapa tanaman komoditas perkebunan, seperti karet, rotan, kakao, gaharu, dan gamal.
Pada masa awal pengembangannya, Alauwing mengambil langsung 6.000 bibit kakao berkualitas dari Jember, Jawa Timur, untuk dibagikan kepada warga. Kakao ditanam dengan menggunakan pohon hutan berkayu keras sebagai peneduh alami.
"Kami biasa buat perlindungan dia (kakao) itu dengan (pohon) gamal itu. Nah, sudah itu maju lagi, saya juga pesan dari Waringin Barat," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya