Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SELASA pagi (20/10/2026), rutinitas mekanis ibu kota di Bundaran Hotel Indonesia mendadak diinterupsi. Para pemanjat (climbers) Greenpeace mendaki Monumen Selamat Datang dan membentangkan spanduk raksasa yang menyengat mata.
Dua spanduk terpampang dengan warna kuning menyolok. "Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup" dan "Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah".
Aksi teatrikal ini tidak hanya menghentikan laju kendaraan, tetapi mau tidak mau harus diakui berhasil mencuri perhatian publik, termasuk di media sosial.
Bagi sebagian pihak, peristiwa ini mungkin dianggap sekadar gimmick pencari perhatian (attention seeking) atau pelanggaran ketertiban umum di situs cagar budaya.
Tanpa bermaksud melakukan glorifikasi, membaca melalui kacamata ilmu komunikasi, filsafat politik, dan sejarah panjang gerakan lingkungan, aksi di jantung Jakarta ini menyajikan lanskap analisis yang menarik untuk kita maknai dan bahas.
Dalam studi media dan ilmu komunikasi, aksi yang dilancarkan Greenpeace dapat dipahami melalui konsep mindbomb, istilah yang dipopulerkan salah satu pendiri Greenpeace, Bob Hunter.
Mindbomb adalah penciptaan citra visual dramatis dan dramatisasi konflik yang dirancang secara presisi untuk menembus kebalnya perhatian masyarakat modern yang diterpa ribuan informasi setiap detik.
Aksi tersebut secara instan mengubah ruang fisik Bundaran HI menjadi panggung (jika boleh disebut) pertunjukan politik atau political theater.
Dengan meletakkan spanduk protes tepat di patung yang sejatinya menyimbolkan keramahan Indonesia, Greenpeace berhasil membajak (hijack) perhatian publik.
Baca juga: AI di Kelas Anak Kita, Mencerdaskan atau Menumpulkan Akal?
Hasil lembaga riset, opini praktisi, baik yang memuji dan mengkritik di media digital mendadak terproyeksi ke Bundaran HI. Aksi ini setidaknya menunjukkan visual yang provokatif adalah mata uang paling berharga untuk memantik diskursus publik.
Ini bukan kali pertama Greenpeace secara strategis dan pastinya terencana membangun narasi ini. Nanti kita akan mambahasnya.
Infografis gerakan protes masyarakat sipil.Di tengah aksi tersebut, spanduk dan narasi yang digaungkan membawa spirit kuno, tapi fundamental. "No Protest, No Progress". Tanpa protes (atau mungkin demo kah?), tak ada kemajuan.
Dalam alam demokrasi modern, fungsi protes kerap disalahpahami sebagai "gangguan stabilitas" atau "tindakan anarkis".
Padahal, filsuf politik John Rawls dalam A Theory of Justice (1971) menegaskan bahwa pembangkangan sipil yang damai, mohon dicatat sekali lagi "damai", justru berfungsi sebagai alat stabilisasi demokrasi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya