KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini tengah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman Ebola di tengah situasi konflik dan pengungsian yang melanda jutaan jiwa di wilayah yang membentang dari Afrika, Asia, hingga Eropa.
Wilayah Mediterania Timur versi badan PBB ini mencakup 22 negara dan wilayah.
Bantuan intensif kini difokuskan ke Djibouti, Somalia, dan Sudan yang ditetapkan sebagai negara prioritas utama.
Melansir laman resmi United Nations, Jumat (16/10/2026) langkah ini diambil setelah munculnya wabah mematikan virus Ebola jenis Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda, serta ditemukannya satu kasus terkonfirmasi di Kenya yang memiliki riwayat perjalanan dari Kongo.
Baca juga: Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular
Meskipun sejauh ini belum ada kasus Ebola yang ditemukan di wilayah tersebut, perang, krisis pengungsi, serta fasilitas kesehatan yang sudah sangat terbatas di beberapa negara membuat upaya persiapan dan penanganan menjadi amat sulit jika situasi mendadak memburuk.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Gebreyesus, menyebut kawasan tersebut sebagai "pusat krisis kemanusiaan global".
Antara bulan Juli dan September, WHO telah mengirimkan tim ke Djibouti, Somalia, dan Sudan untuk menilai kesiapan negara-negara tersebut serta memetakan tantangan dalam pemantauan Ebola, kapasitas laboratorium, pencegahan infeksi, penanganan pasien, dan koordinasi darurat.
Badan PBB ini membantu pemerintah setempat menutup celah kekurangan melalui pelatihan, bantuan teknis, pasokan medis, serta latihan simulasi.
WHO juga telah menyusun panduan teknis, alat perencanaan darurat, serta checklist kesiapan wilayah, selain memperketat koordinasi antara negara-negara di Afrika dan Mediterania Timur.
Selain itu, WHO menyalurkan perlengkapan laboratorium, panduan bagi pelaku perjalanan, serta materi edukasi untuk masyarakat.
Meski ada kemajuan, hambatan masih ditemukan pada sistem deteksi dini, konfirmasi uji laboratorium, serta ketersediaan alat pelindung diri (APD) dan dana tanggap darurat.
"Konflik, rasa tidak aman, dan akses lokasi yang terbatas menjadi tantangan tambahan, terutama bagi negara-negara yang sedang mengalami krisis kemanusiaan besar," ungkap WHO.
Sementara itu, upaya terus dilakukan guna memastikan pemerintah dan mitra terkait dapat dengan cepat mendeteksi, menyelidiki, serta menangani kasus yang dicurigai sebagai Ebola.
Melansir laman resmi Kemenkes, Senin (18/5/2026) Kemenkes mengungkapkan hingga saat ini kasus Ebola belum ditemukan di wilayah Indonesia. Kendati demikian Kemenkes terus memantau situasi global dan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor.
"Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman dalam keterangan persnya.
Baca juga: Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Lebih lanjut, ia menjelaskan langkah konkret yang dilakukan pemerintah meliputi penyiagaan petugas kesehatan di lapangan, penguatan skrining pelaku perjalanan, serta penyiapan prosedur rujukan ke rumah sakit berstandar internasional apabila ditemukan penumpang dengan gejala yang mengarah pada Ebola.
Seluruh laporan dari pintu masuk negara juga akan terintegrasi selama 24 jam melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta pusat operasi darurat kesehatan Kapasitas laboratorium nasional pun telah disiagakan penuh untuk mendukung deteksi cepat dan respons dini.
Kemenkes juga meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak valid atau hoaks terkait Ebola yang beredar di media sosial. Edukasi mengenai penyakit ini dinilai penting agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya