Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WHO Naikkan Status Kesiapsiagaan Ebola di 22 Negara

Kompas.com, 20 Oktober 2026, 16:02 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini tengah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman Ebola di tengah situasi konflik dan pengungsian yang melanda jutaan jiwa di wilayah yang membentang dari Afrika, Asia, hingga Eropa.

Wilayah Mediterania Timur versi badan PBB ini mencakup 22 negara dan wilayah.

Bantuan intensif kini difokuskan ke Djibouti, Somalia, dan Sudan yang ditetapkan sebagai negara prioritas utama.

Melansir laman resmi United Nations, Jumat (16/10/2026) langkah ini diambil setelah munculnya wabah mematikan virus Ebola jenis Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda, serta ditemukannya satu kasus terkonfirmasi di Kenya yang memiliki riwayat perjalanan dari Kongo.

Baca juga: Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular

Tantangan penanganan Ebola

Meskipun sejauh ini belum ada kasus Ebola yang ditemukan di wilayah tersebut, perang, krisis pengungsi, serta fasilitas kesehatan yang sudah sangat terbatas di beberapa negara membuat upaya persiapan dan penanganan menjadi amat sulit jika situasi mendadak memburuk.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Gebreyesus, menyebut kawasan tersebut sebagai "pusat krisis kemanusiaan global".

Antara bulan Juli dan September, WHO telah mengirimkan tim ke Djibouti, Somalia, dan Sudan untuk menilai kesiapan negara-negara tersebut serta memetakan tantangan dalam pemantauan Ebola, kapasitas laboratorium, pencegahan infeksi, penanganan pasien, dan koordinasi darurat.

Badan PBB ini membantu pemerintah setempat menutup celah kekurangan melalui pelatihan, bantuan teknis, pasokan medis, serta latihan simulasi.

WHO juga telah menyusun panduan teknis, alat perencanaan darurat, serta checklist kesiapan wilayah, selain memperketat koordinasi antara negara-negara di Afrika dan Mediterania Timur.

Selain itu, WHO menyalurkan perlengkapan laboratorium, panduan bagi pelaku perjalanan, serta materi edukasi untuk masyarakat.

Meski ada kemajuan, hambatan masih ditemukan pada sistem deteksi dini, konfirmasi uji laboratorium, serta ketersediaan alat pelindung diri (APD) dan dana tanggap darurat.

"Konflik, rasa tidak aman, dan akses lokasi yang terbatas menjadi tantangan tambahan, terutama bagi negara-negara yang sedang mengalami krisis kemanusiaan besar," ungkap WHO.

Sementara itu, upaya terus dilakukan guna memastikan pemerintah dan mitra terkait dapat dengan cepat mendeteksi, menyelidiki, serta menangani kasus yang dicurigai sebagai Ebola.

Kemenkes imbau tetap waspada

Melansir laman resmi Kemenkes, Senin (18/5/2026) Kemenkes mengungkapkan hingga saat ini kasus Ebola belum ditemukan di wilayah Indonesia. Kendati demikian Kemenkes terus memantau situasi global dan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor.

"Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman dalam keterangan persnya.

Baca juga: Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus

Lebih lanjut, ia menjelaskan langkah konkret yang dilakukan pemerintah meliputi penyiagaan petugas kesehatan di lapangan, penguatan skrining pelaku perjalanan, serta penyiapan prosedur rujukan ke rumah sakit berstandar internasional apabila ditemukan penumpang dengan gejala yang mengarah pada Ebola.

Seluruh laporan dari pintu masuk negara juga akan terintegrasi selama 24 jam melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta pusat operasi darurat kesehatan Kapasitas laboratorium nasional pun telah disiagakan penuh untuk mendukung deteksi cepat dan respons dini.

Kemenkes juga meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak valid atau hoaks terkait Ebola yang beredar di media sosial. Edukasi mengenai penyakit ini dinilai penting agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
WHO Naikkan Status Kesiapsiagaan Ebola di 22 Negara
WHO Naikkan Status Kesiapsiagaan Ebola di 22 Negara
Pemerintah
Beban Lingkungan Baru, Mayoritas Pusat Data Beroperasi di Wilayah Rentan Air
Beban Lingkungan Baru, Mayoritas Pusat Data Beroperasi di Wilayah Rentan Air
Pemerintah
Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti
Cerita Kepala Adat Long Pahangai Tolak Suap dari Perusahaan dan Pilih Tanam Pohon Meranti
LSM/Figur
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
Pemerintah
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
Pemerintah
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
LSM/Figur
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Swasta
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Swasta
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
Desa Sejahtera Astra
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Pemerintah
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
Pemerintah
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Pemerintah
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau