Asia ESG Positive Impact Awards 2026 akan mengumumkan perusahaan dengan inisiatif keberlanjutan terbaik dari Indonesia, Malaysia dan Filipina pada 4 November.
KOMPAS.com - Upaya keberlanjutan di dunia usaha Asia terus menunjukkan perubahan menggembirakan.
Prinsip lingkungan, sosial dan tata kelola atau environmental, social and governance (ESG) tidak lagi hanya diwujudkan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), tetapi semakin terintegrasi ke dalam strategi dan kegiatan inti bisnis.
Perubahan tersebut terlihat dari berbagai inisiatif perusahaan yang dinilai dalam ajang Asia ESG Positive Impact Awards (PIA) 2026.
Para juri menilai, pendekatan keberlanjutan yang lebih bermakna adalah ketika kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat menjadi bagian dari cara perusahaan menjalankan bisnis, bukan sekadar program tambahan.
Presiden sekaligus Kepala Ilmuwan Center for Conservation Innovations, Dr Neil Aldrin Mallari, mengatakan, sejumlah inisiatif terbaik yang dinilainya telah menunjukkan bagaimana upaya pelestarian lingkungan dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan bisnis.
"Program terbaik yang saya baca bukan sekadar proyek CSR. Inisiatif-inisiatif tersebut membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari cara sebuah bisnis dijalankan," ujarnya.
Menurut Mallari, rencana jangka panjang menjadi salah satu hal penting yang membedakan program CSR biasa dengan inisiatif keberlanjutan yang terintegrasi dalam perusahaan.
Program CSR dapat berakhir ketika anggaran selesai, sedangkan inisiatif yang telah menjadi bagian dari tata kelola dan budaya perusahaan berpeluang bertahan lebih lama.
Baca juga: Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata
Pandangan serupa disampaikan Kepala Unit ESG Malaysia External Trade Development Corporation, Haris Abdul Latiff.
Dia menilai, inisiatif perusahaan yang memberikan dampak nyata adalah inisiatif yang memanfaatkan kemampuan, teknologi, dan model bisnis perusahaan itu sendiri sehingga manfaatnya dapat berkelanjutan dan dikembangkan dalam skala lebih luas.
Sejumlah contoh yang ditemukan dalam penilaian antara lain menghubungkan masyarakat pedesaan dengan pasar ekspor, memperluas akses melalui platform digital, memanfaatkan aset tidak terpakai untuk kegiatan produktif rendah karbon serta membuka kesempatan ekonomi bagi kelompok rentan.
Namun, upaya keberlanjutan juga perlu disertai pengukuran dampak yang jelas. Haris menekankan pentingnya pengukuran hasil jangka panjang, penggunaan data yang dapat dipertanggungjawabkan serta verifikasi independen jika memungkinkan.
"Semakin penting bagi perusahaan untuk menunjukkan bukan hanya apa yang telah dilakukan atau berapa banyak orang yang berpartisipasi, melainkan juga perubahan bermakna yang terjadi dari waktu ke waktu dan apakah manfaat tersebut dapat terus berlanjut setelah periode program berakhir," katanya.
Sementara itu, Ketua Indonesian Society of Sustainability Professionals, Satrio Prakoso, menyoroti perkembangan aspek sosial ESG di Asia dari berbagai inisiatif yang mencakup kesejahteraan karyawan, keberagaman dan inklusi serta pengembangan talenta.
Dia melihat semakin banyak perusahaan yang mulai menghubungkan program sosial dengan tujuan pelestarian lingkungan.
Dengan demikian, dampak suatu inisiatif tidak hanya dilihat dari manfaatnya bagi lingkungan, tetapi juga bagi karyawan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
Baca juga: Perusahaan RI Paling Banyak Raih Penghargaan Asia ESG Positive Impact Awards
Berbagai inisiatif tersebut menjadi bagian dari penilaian Asia ESG PIA 2026, ajang penghargaan regional yang memasuki tahun kedua penyelenggaraan.
Sebanyak 52 peraih penghargaan Gold dari tiga ajang ESG nasional di Indonesia, Malaysia dan Filipina melaju ke tahap regional.
Mereka adalah pemenang penghargaan dari ESG Positive Impact Awards yang diselenggarakan Star Media Group (Malaysia), ESG Edge Impact Awards dari Inquirer Group of Companies (Filipina) serta Lestari Awards dari Grup Media Kompas Gramedia (Indonesia).
Peserta terdiri dari perusahaan besar, usaha kecil dan menengah (UKM), serta perusahaan kelas menengah. Seluruhnya dinilai oleh delapan juri dari berbagai negara pada September 2026.
Pemenang dari 12 kategori akan diumumkan dalam malam penganugerahan Asia ESG PIA pada 4 November 2026 di KLGCC Convention Centre, Kuala Lumpur, Malaysia.
Baca juga: Asia ESG Summit 2025 Digelar di Malaysia, Bahas Ekonomi Masa Depan Berbasis Keberlanjutan
Asia ESG PIA merupakan inisiatif Asia ESG Positive Impact Consortium, konsorsium media yang mempertemukan Star Media Group, Inquirer Group of Companies dan Grup Media Kompas Gramedia.
Sebelum malam penganugerahan, akan digelar sesi networking yang mempertemukan peserta penghargaan dan para pemimpin di bidang keberlanjutan dari ketiga negara.
Kegiatan ini ditujukan untuk memperluas jejaring regional sekaligus mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan lokakarya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung penerapan ESG. Bertajuk "AI for Practical ESG Execution: Turning Data into Actionable Insights", lokakarya ini akan dipandu praktisi AI sekaligus Kepala Ilmuwan Data, Dr Lau Cher Han.
Peserta akan mempelajari penggunaan berbagai aplikasi AI untuk membantu pekerjaan terkait ESG, mulai dari pengumpulan dan pengolahan data, penyusunan draf dokumen, pemeriksaan hingga pelaporan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya