JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 361 kilogram lebih sampah dikumpulkan dalam aksi pembersihan bantaran Sungai Ciliwung yang digelar PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia).
Sampah yang dikumpulkan relawan didominasi tekstil, styrofoam, karet, serta plastik, baik yang memiliki nilai ekonomi tinggi maupun rendah. Setelah ditimbang dan dipilah, sampah tersebut diarahkan untuk dikelola lebih lanjut.
Founder Veritas Edukasi Lingkungan (VEL) Benedict Wermter mengatakan, edukasi mengenai solusi pengelolaan sampah secara bertanggung jawab perlu terus diperluas kepada masyarakat.
Baca juga: Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
"Masyarakat Indonesia sudah memiliki kesadaran terhadap permasalahan sampah, tetapi kita masih perlu terus belajar mengenai solusi yang dapat dilakukan," ucap Benedict dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10/2026).
Aksi tersebut melibatkan karyawan dan tenaga pemasar Prudential Indonesia, bekerja sama dengan Langit Biru Pertiwi dan Yayasan Ciliwung Lestari.
Selain membersihkan bantaran sungai, kegiatan tersebut juga diisi edukasi pengelolaan sampah, kesehatan, dan literasi finansial bagi 50 siswa SMPN 34 Depok.
Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia Karin Zulkarnaen mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah sekaligus mendorong perilaku hidup bersih dan sehat.
Menurut dia, upaya menjaga lingkungan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesadaran kesehatan dan kemampuan masyarakat mempersiapkan masa depan finansial.
"Kami percaya perlindungan yang bermakna harus hadir secara holistik, mulai dari menjaga kelestarian alam, memelihara kesehatan fisik, hingga memperkuat ketahanan finansial. Kolaborasi aksi nyata ini kami harapkan dapat memberi dampak positif jangka panjang bagi generasi muda dan warga sekitar," ujar Karin.
Ia berharap perubahan perilaku dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi sampah dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: 92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
"Perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, dan mengurangi sampah dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap setiap orang dapat mulai mengubah kebiasaannya, bahkan mulai besok hari, dan mengajak orang lain untuk melakukan perubahan yang sama," tutur Karin.
Persoalan sampah di bantaran sungai merupakan bagian dari tantangan pencemaran yang lebih luas di Sungai Ciliwung.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) per Agustus 2025, sekitar 87,09 persen pencemaran Sungai Ciliwung bersumber dari limbah domestik.
Sumber pencemaran lainnya berasal dari limbah peternakan sebesar 4,91 persen, sampah 4,85 persen, limbah industri 3,37 persen, dan pertanian 0,05 persen.
Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Al-Azhar Indonesia Dewi Elfidasari mengatakan, Sungai Ciliwung mengalami degradasi ekosistem secara sistemik. Kondisi tersebut menurunkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup (D3TLH).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya