Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun

Kompas.com, 2 November 2026, 11:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Para ilmuwan memperingatkan dalam studi terbaru bahwa partikel mikroplastik dan nanoplastik yang berpotensi beracun terus membasahi Gunung Everest sepanjang tahun.

Melansir Independent, Jumat (30/10/2026) serpihan plastik berukuran sangat kecil (kurang dari 5 milimeter) ini kini telah menyebar di seluruh pelosok planet kita. Partikel ini ditemukan di mana-mana, mulai dari puncak gunung tertinggi bersalju hingga ke dasar samudra terdalam.

Sejumlah penelitian memperingatkan bahwa partikel-partikel ini dapat mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat. Hasil riset menunjukkan bahwa mikroplastik dapat memicu peradangan, kerusakan DNA, serta gangguan hormon pada manusia maupun hewan.

Penelitian sebelumnya telah menemukan keberadaan partikel plastik kecil ini pada sampel salju dan air sungai di kawasan Gunung Everest. Namun, seberapa parah puncak tertinggi dunia ini terpapar mikroplastik sebelumnya belum diketahui secara pasti.

Baca juga: Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut

Kini, studi baru yang memantau lereng utara Everest selama berbulan-bulan mengungkap bahwa Everest terus-menerus diselimuti mikroplastik dan nanoplastik yang terbawa udara sepanjang tahun.

Para peneliti dari China menemukan bahwa lapisan atmosfer itu sendiri terbukti menjadi sarana penyebaran yang sangat efisien dan menjadi jalur utama yang membawa sampah plastik ke kawasan Third Pole atau Kawasan Puncak Himalaya.

Para ilmuwan menemukan bahwa Stasiun Qomolangma, sebuah fasilitas penelitian dataran tinggi di Tibet, menerima 64 partikel mikroplastik per meter persegi setiap harinya.

Sebagai perbandingan, Pos Pendakian Everest (Everest Base Camp) mencatat 23 partikel per meter persegi setiap hari.

"Jumlah endapan mikroplastik di Stasiun Qomolangma jauh melebihi angka yang dicatat di Everest Base Camp," tulis para ilmuwan dalam studi yang diterbitkan di jurnal Communications Earth & Environment.

Jenis plastik yang ditemukan

Jenis plastik yang paling banyak ditemukan di lokasi tersebut antara lain poliamida, polyethylene terephthalate (PET), dan polietilena.

Stasiun Qomolangma juga mencatat tingkat nanoplastik yang lebih tinggi dibandingkan di Everest Base Camp, seperti partikel polietilena, PET, polyvinyl chloride (PVC), dan polipropilena.

Secara keseluruhan, para ilmuwan menduga bahwa lebih dari 56 ton partikel mikroplastik dapat menumpuk setiap tahunnya di Dataran Tinggi Tibet pada ketinggian di atas 4.000 meter.

Temuan terbaru ini membuktikan bahwa partikel plastik terkecil sekalipun kini mampu menjangkau wilayah paling terpencil dan terisolasi di bumi.

Baca juga: Studi Ungkap Potensi Bahaya Mikroplastik dari Gelas Kopi Sekali Pakai

Hal yang penting, studi ini menegaskan bahwa penumpukan sampah plastik di Everest bukan hanya berasal dari para pendaki dan wisatawan, melainkan juga terbawa oleh sirkulasi angin di atmosfer yang terus-menerus mengalirkan polusi plastik ke wilayah Kutub Ketiga ini.

Para peneliti menemukan bahwa musim hujan meningkatkan jumlah mikroplastik melalui proses pengendapan basah, yaitu ketika polutan ditarik turun ke permukaan bumi bersama air hujan, salju, atau kabut.

Partikel-partikel plastik tersebut umumnya melayang di atmosfer, tetapi tetesan air atau kristal es cenderung menangkap sebagian dari mereka saat awan terbentuk.

Partikel ini pada akhirnya terbawa turun ke permukaan gunung ketika hujan atau salju turun.

"Hasil riset ini membuktikan bahwa atmosfer merupakan jalur yang sangat efektif dalam menyalurkan plastik ke kawasan Kutub Ketiga, yang berpotensi menimbulkan risiko bagi ekosistem," simpul para peneliti.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Pemerintah
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
LSM/Figur
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
LSM/Figur
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Pemerintah
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Pemerintah
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik  Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
LSM/Figur
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Pemerintah
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
Pemerintah
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Pemerintah
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
LSM/Figur
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau