KOMPAS.com - Para ilmuwan memperingatkan dalam studi terbaru bahwa partikel mikroplastik dan nanoplastik yang berpotensi beracun terus membasahi Gunung Everest sepanjang tahun.
Melansir Independent, Jumat (30/10/2026) serpihan plastik berukuran sangat kecil (kurang dari 5 milimeter) ini kini telah menyebar di seluruh pelosok planet kita. Partikel ini ditemukan di mana-mana, mulai dari puncak gunung tertinggi bersalju hingga ke dasar samudra terdalam.
Sejumlah penelitian memperingatkan bahwa partikel-partikel ini dapat mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat. Hasil riset menunjukkan bahwa mikroplastik dapat memicu peradangan, kerusakan DNA, serta gangguan hormon pada manusia maupun hewan.
Penelitian sebelumnya telah menemukan keberadaan partikel plastik kecil ini pada sampel salju dan air sungai di kawasan Gunung Everest. Namun, seberapa parah puncak tertinggi dunia ini terpapar mikroplastik sebelumnya belum diketahui secara pasti.
Baca juga: Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Kini, studi baru yang memantau lereng utara Everest selama berbulan-bulan mengungkap bahwa Everest terus-menerus diselimuti mikroplastik dan nanoplastik yang terbawa udara sepanjang tahun.
Para peneliti dari China menemukan bahwa lapisan atmosfer itu sendiri terbukti menjadi sarana penyebaran yang sangat efisien dan menjadi jalur utama yang membawa sampah plastik ke kawasan Third Pole atau Kawasan Puncak Himalaya.
Para ilmuwan menemukan bahwa Stasiun Qomolangma, sebuah fasilitas penelitian dataran tinggi di Tibet, menerima 64 partikel mikroplastik per meter persegi setiap harinya.
Sebagai perbandingan, Pos Pendakian Everest (Everest Base Camp) mencatat 23 partikel per meter persegi setiap hari.
"Jumlah endapan mikroplastik di Stasiun Qomolangma jauh melebihi angka yang dicatat di Everest Base Camp," tulis para ilmuwan dalam studi yang diterbitkan di jurnal Communications Earth & Environment.
Jenis plastik yang paling banyak ditemukan di lokasi tersebut antara lain poliamida, polyethylene terephthalate (PET), dan polietilena.
Stasiun Qomolangma juga mencatat tingkat nanoplastik yang lebih tinggi dibandingkan di Everest Base Camp, seperti partikel polietilena, PET, polyvinyl chloride (PVC), dan polipropilena.
Secara keseluruhan, para ilmuwan menduga bahwa lebih dari 56 ton partikel mikroplastik dapat menumpuk setiap tahunnya di Dataran Tinggi Tibet pada ketinggian di atas 4.000 meter.
Temuan terbaru ini membuktikan bahwa partikel plastik terkecil sekalipun kini mampu menjangkau wilayah paling terpencil dan terisolasi di bumi.
Baca juga: Studi Ungkap Potensi Bahaya Mikroplastik dari Gelas Kopi Sekali Pakai
Hal yang penting, studi ini menegaskan bahwa penumpukan sampah plastik di Everest bukan hanya berasal dari para pendaki dan wisatawan, melainkan juga terbawa oleh sirkulasi angin di atmosfer yang terus-menerus mengalirkan polusi plastik ke wilayah Kutub Ketiga ini.
Para peneliti menemukan bahwa musim hujan meningkatkan jumlah mikroplastik melalui proses pengendapan basah, yaitu ketika polutan ditarik turun ke permukaan bumi bersama air hujan, salju, atau kabut.
Partikel-partikel plastik tersebut umumnya melayang di atmosfer, tetapi tetesan air atau kristal es cenderung menangkap sebagian dari mereka saat awan terbentuk.
Partikel ini pada akhirnya terbawa turun ke permukaan gunung ketika hujan atau salju turun.
"Hasil riset ini membuktikan bahwa atmosfer merupakan jalur yang sangat efektif dalam menyalurkan plastik ke kawasan Kutub Ketiga, yang berpotensi menimbulkan risiko bagi ekosistem," simpul para peneliti.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya