Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam

Kompas.com, 2 November 2026, 12:02 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Data terbaru dari lembaga Global Canopy mengungkap bahwa 140 juta lapangan pekerjaan di Uni Eropa, Inggris, dan Swiss terancam oleh kerusakan alam di dalam negeri. Jumlah ini setara dengan 60 persen dari total pekerja di kawasan tersebut.

Data ini dipublikasikan bertepatan dengan Konferensi Para Pihak ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD COP17) yang sedang berlangsung di Armenia.

Melansir Edie, Selasa (27/10/2026) di Inggris saja, Global Canopy memperkirakan ada 20,6 juta pekerjaan yang berisiko terdampak, dengan nilai upah tahunan mencapai sekitar 650 miliar poundsterling.

Sementara itu di Jerman, ada 21,8 juta pekerjaan yang terancam dengan nilai upah tahunan 1 triliun euro.

Baca juga: 800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan

Untuk Prancis, Belanda, dan Swiss, jumlah pekerjaan yang terdampak masing-masing mencapai 16,3 juta, 5,8 juta, dan 2,7 juta.

Dampak ini bisa berupa pengurangan jam kerja dan pemotongan gaji akibat gangguan operasional, perubahan tugas pekerjaan, atau masalah pada rantai pasok.

Dalam skenario terburuk di mana perusahaan gagal beradaptasi dengan risiko kerusakan alam, Global Canopy memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut bisa gulung tikar, yang berujung pada hilangnya jutaan lapangan kerja tersebut secara permanen.

Dr. Claudia Gray, Direktur Keuangan Terkait Alam di lembaga nirlaba tersebut, mencatat bahwa angka-angka ini menunjukkan banyak sekali sumber penghidupan yang bisa terganggu, mengingat ekonomi nasional sangat bergantung pada fasilitas dan ekosistem yang disediakan oleh alam.

Sebelumnya, PwC memperkirakan bahwa 55 persen Produk Domestik Bruto (PDB) global yang setara dengan 58 triliun dolar AS sangat bergantung pada alam.

Selain hilangnya lapangan kerja secara langsung, Global Canopy memperkirakan bahwa ekspor senilai 3,5 triliun euro dari Inggris, Uni Eropa, and Swiss dapat mengalami gangguan setiap tahunnya.

Ketika sumber daya dan bahan baku tertentu terganggu akibat hilangnya keanekaragaman hayati, proses pembuatan barang dan jasa tertentu akan menjadi lebih sulit. Pada akhirnya, hal ini bisa memicu lonjakan harga bagi konsumen akhir.

Berdasarkan analisis Global Canopy, kerusakan alam di dalam maupun luar negeri dapat mengurangi ketersediaan atas barang dan jasa senilai 8,2 triliun euro setiap tahunnya setara dengan separuh dari total konsumsi di negara-negara tersebut.

Baca juga: Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?

“Selama ini orang-orang khawatir pekerjaan dan taraf hidup mereka terganggu oleh AI dan konflik global. Namun, ancaman kerusakan alam terhadap lapangan kerja, upah, and rantai pasok juga sangat layak mendapat perhatian. Di saat kita menghadapi rekor kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir, kita perlu melihat bagaimana kerusakan alam memicu dan memperparah bencana ekonomi,” papar Dr. Gray.

Meskipun bank sentral, pemerintah, dan dunia usaha menyadari pentingnya infrastruktur buatan manusia secara ekonomi, infrastruktur alami yang menjadi fondasi ekonomi negara justru sering kali dianggap sepele.

Kebijakan bank sentral dan pemerintah harus mencerminkan komitmen untuk melindungi serta memulihkan alam, baik di dalam negeri maupun internasional, guna membangun ketahanan ekonomi di seluruh Eropa.

Saat ini, hampir 80 persen pelaku usaha menjadikan ketahanan iklim sebagai alasan utama untuk mengambil tindakan dalam pelestarian alam.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Pemerintah
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik  Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
LSM/Figur
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Pemerintah
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
Pemerintah
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Pemerintah
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
LSM/Figur
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
Skor Daya Saing Karbon RI Terendah di ASEAN, Tertinggal Jauh dari Filipina
LSM/Figur
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
Swasta
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Swasta
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau