Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jumlah Spesies dalam Perdagangan Satwa Liar Dunia Melonjak Dua Kali Lipat

Kompas.com, 3 November 2026, 18:57 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber phys

KOMPAS.com - Riset terbaru menunjukkan lebih dari 107.000 spesies tumbuhan, hewan, dan jamur dimanfaatkan serta diperdagangkan di seluruh dunia.

Angka ini mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding perkiraan sebelumnya. Skala sebenarnya bahkan diperkirakan jauh lebih besar karena masih banyaknya celah data.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances dan dipimpin oleh University of Melbourne ini menyajikan estimasi menyeluruh pertama mengenai jumlah spesies yang dimanfaatkan dan diperdagangkan secara global.

Melansir Phys, Jumat (30/10/2026) perkiraan terdahulu mencatat ada sekitar 50.000 spesies yang diperdagangkan di seluruh dunia. Namun, analisis baru yang menggabungkan berbagai data pemantauan lintas sektor menemukan bahwa jumlahnya minimal dua kali lipat dari angka tersebut, yakni mencapai 107.356 spesies.

Baca juga: AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal

Cakupan perdagangan yang lebih luas

Ketua peneliti Alice Hughes, profesor dari School of BioSciences di University of Melbourne, menyatakan bahwa meskipun perdagangan satwa dan tumbuhan liar sudah terbukti menjadi pendorong utama hilangnya keanekaragaman hayati, informasi mengenai sejauh mana dan seberapa berkelanjutannya perdagangan tersebut masih belum lengkap dan sangat terpecah-pecah.

"Saat kita memikirkan tentang perdagangan satwa liar, kita cenderung hanya membayangkan perdagangan ilegal gajah, harimau, dan trenggiling. Namun kenyataannya, cakupannya jauh lebih luas dari itu," ujar Hughes.

"Perdagangan satwa dan tumbuhan liar mencakup segala hal, mulai dari kayu, hasil laut, dan tanaman obat, hingga hewan peliharaan, bunga potong, ikan hias, dan jamur dan sebagian besar dari perdagangan tersebut berstatus legal," paparnya.

Perdagangan legal tidak hanya bernilai sekitar 10 kali lipat lebih besar dibandingkan perdagangan ilegal, namun analisis juga menunjukkan bahwa jumlah spesies yang diperdagangkan setidaknya dua kali lipat lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya.

"Untuk sebagian besar dari spesies ini, kita hanya memiliki sedikit data atau bahkan tidak ada sama sekali. Tidak ada data mengenai jumlah maupun asal-usulnya, apalagi data tingkat populasi yang dibutuhkan untuk menilai apakah perdagangan tersebut mengancam kelangsungan hidup mereka," kata Hughes.

"Tanpa data yang lebih baik, kita tidak bisa menilai risiko terhadap keanekaragaman hayati secara akurat atau mengetahui kapan aktivitas perdagangan mulai mendorong suatu spesies menuju kepunahan," tambahnya.

Pelaporan yang tidak merata

Hughes menyatakan bahwa temuan ini membongkar celah besar dalam sistem pemantauan perdagangan satwa liar dunia, serta menegaskan perlunya perubahan besar-besaran dalam cara mencatat dan melaporkan perdagangan tersebut.

"Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang secara sistematis mencatat dan membagikan data perdagangan secara terbuka untuk berbagai jenis kelompok organisme (taxa). Bagi sebagian besar wilayah dunia lainnya, data setara seperti itu tidak ada sama sekali," kata Hughes.

Untuk beberapa kelompok spesies, sebanyak 75 persen spesies yang diperdagangkan hanya muncul dalam basis data milik Amerika Serikat. Padahal untuk wilayah seperti Eropa, tingkat pembeli atau perdagangannya bisa jadi setara atau bahkan lebih tinggi.

Masalah utamanya adalah kita benar-benar tidak mengetahuinya karena datanya tidak tersedia secara terbuka dan tidak menggunakan standar yang memadai untuk mengukur skala perdagangan yang sebenarnya.

Para peneliti menyatakan bahwa pembenahan sistem pemantauan global sangat penting untuk menutup celah pengetahuan yang terus terjadi selama ini.

Baca juga: Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu

"Meskipun kerangka kerja keanekaragaman hayati global memiliki target terkait perdagangan, berdasarkan perkiraan kami target tersebut hanya mencakup sekitar 2 persen hingga 3 persen spesies yang diperdagangkan, dan melewatkan 97 persen sisanya," ujar Hughes.

Untuk mengubah kondisi saat ini, kita harus menyelaraskan dan mengumpulkan data perdagangan secara terstandar.

Saat ini, data yang ada sangat terbatas dan tiadanya sistem pengumpulan data yang teratur ini menghambat penilaian keberlanjutan serta kemampuan kita dalam mengelola dampak perdagangan.

"Jika negara-negara memanfaatkan ulang proses kepabeanan dan pemeriksaan kesehatan hewan (zoosanitary) yang sudah ada, kita dapat membangun sistem yang kuat untuk memantau perdagangan. Namun, hal ini membutuhkan komitmen lebih lanjut untuk diterapkan dalam skala luas," ungkap Hughes.

"Kalau kita benar-benar serius ingin menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati, kita membutuhkan pelaporan perdagangan satwa dan tumbuhan liar yang jauh lebih menyeluruh, transparan, serta terkoordinasi secara global," katanya lagi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi: Pemanasan Global Bikin Wilayah Tropis Kian Panas dan Ekstrem
Studi: Pemanasan Global Bikin Wilayah Tropis Kian Panas dan Ekstrem
Pemerintah
IPB Temukan Gen Resistansi Antimikrob pada Bakteri E coli di Ekosistem Pemotongan Hewan
IPB Temukan Gen Resistansi Antimikrob pada Bakteri E coli di Ekosistem Pemotongan Hewan
LSM/Figur
RSPO Catat 14.500 Hektare Konsesi Sawit Bersertifikat Terdampak Kebakaran
RSPO Catat 14.500 Hektare Konsesi Sawit Bersertifikat Terdampak Kebakaran
Swasta
Jumlah Spesies dalam Perdagangan Satwa Liar Dunia Melonjak Dua Kali Lipat
Jumlah Spesies dalam Perdagangan Satwa Liar Dunia Melonjak Dua Kali Lipat
Pemerintah
Menghidupkan Kebun Kakao Masyarakat Adat agar Hutan Tak Beralih Menjadi Sawit
Menghidupkan Kebun Kakao Masyarakat Adat agar Hutan Tak Beralih Menjadi Sawit
LSM/Figur
Perusahaan Minyak Raup Laba Rp1.613 Triliun di Tengah Tekanan Global
Perusahaan Minyak Raup Laba Rp1.613 Triliun di Tengah Tekanan Global
Pemerintah
Diversifikasi Tanaman Jadi Kunci Ketahanan Iklim dan Produktivitas Lahan
Diversifikasi Tanaman Jadi Kunci Ketahanan Iklim dan Produktivitas Lahan
Pemerintah
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Pemerintah
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
LSM/Figur
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
LSM/Figur
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Pemerintah
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Pemerintah
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik  Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
LSM/Figur
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau