Editor
KOMPAS.com – Pemanfaatan teknologi dalam sektor pertanian tidak hanya dapat meningkatkan efisiensi budidaya, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi bagi perempuan.
Pendekatan tersebut diterapkan Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) melalui program pertanian cerdas atau *smart farming* berbasis sensor dan internet of things (IoT) di Nongsa dan Barelang, Batam.
Program yang berlangsung selama kurang lebih delapan bulan tersebut mencakup pengelolaan lahan pertanian sekitar 3 hektare dengan cabai sebagai komoditas utama. Sebanyak 20 perempuan tani terlibat sebagai penerima manfaat langsung.
Program tersebut merupakan bagian dari inisiatif Environmental, Social, and Governance (ESG) yang didukung Wonder Ladies dari China.
Melalui program ini, pemberdayaan ekonomi perempuan dipadukan dengan pemanfaatan teknologi pertanian serta praktik budidaya yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Dalam proses budidaya cabai, teknologi sensor dan IoT digunakan untuk membantu petani memantau kondisi lahan dan kebutuhan tanaman secara lebih terukur.
Dengan informasi tersebut, penggunaan berbagai input pertanian dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman sehingga menjadi lebih efisien.
Perempuan Tani HKTI mencatat, penerapan pendekatan tersebut mampu menekan penggunaan pupuk hingga 50 persen. Efisiensi ini sekaligus membantu mengurangi penggunaan input pertanian secara berlebihan dan menekan biaya produksi.
Penerapan teknologi juga memberi kesempatan kepada perempuan tani untuk mengenal dan mengoperasikan sistem pertanian modern.
Baca juga: NFT Dimanfaatkan untuk Pemberdayaan Petani Perempuan
Dengan demikian, keterlibatan perempuan tidak hanya terbatas pada aktivitas budidaya, tetapi juga mencakup pengelolaan proses produksi dengan dukungan teknologi.
Selain mendorong efisiensi lingkungan, program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan peluang ekonomi perempuan tani.
Sebanyak 20 peserta mendapatkan pelatihan dan pendampingan mengenai penggunaan sensor dan IoT dalam budidaya cabai, manajemen usaha, perencanaan produksi, serta tata kelola agribisnis.
Pendampingan juga mencakup pengelolaan usaha dari tahap budidaya hingga pengembangan kegiatan pertanian yang lebih produktif dan efisien.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan di sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap lahan dan kegiatan produksi.
Baca juga: Wirausaha untuk Ibu Rumah Tangga dan Petani Perempuan
Akses terhadap teknologi, pengetahuan, keterampilan manajerial, serta peluang untuk mengembangkan usaha juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan tani.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya