Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi

Kompas.com, 30 Oktober 2026, 12:18 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga karbon Indonesia yang masih jauh di bawah harga internasional dinilai menunjukkan sistem perdagangan emisi atau Emissions Trading System (ETS) belum berjalan optimal.

Senior Research and Policy Specialist Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Andree Surianta mengatakan, rendahnya harga karbon membuat Indonesia kesulitan memperoleh pengakuan internasional.

Padahal, pengakuan tersebut diperlukan agar kredit karbon Indonesia dapat digunakan untuk mengimbangi emisi dalam skema Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM).

Baca juga: Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...

CBAM merupakan mekanisme penyesuaian biaya karbon terhadap produk impor tertentu berdasarkan emisi yang dihasilkan selama proses produksinya.

"Harga karbon itu masih jauh di bawah harga internasional dan mungkin terutama biasanya referensinya sekali lagi adalah tadi dari Eropa. Harganya masih di bawah jauh sekali," ujar Andree di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Menurut Andree, perdagangan karbon di Indonesia juga masih menghadapi kendala dari sisi pengukuran, pelaporan, dan verifikasi atau *Measurement, Reporting, and Verification* (MRV) emisi gas rumah kaca (GRK).

Sistem MRV yang belum memiliki standar jelas membuat industri kesulitan menghitung besaran pengurangan emisi yang dihasilkan dari kegiatan operasional maupun investasi teknologi rendah karbon.

Akibatnya, perusahaan belum memiliki kepastian apakah upaya pengurangan emisi yang mereka lakukan dapat diakui dan dikonversi menjadi kredit karbon.

"Ini dianggap merugikan bagi industri yang justru mau berinisiatif, yang mau melakukan transisi energi sekarang, gitu kan. Dan nanti apakah, apakah akan diakui investasi yang saya lakukan dan kredit karbon yang saya klaim ini apakah benar-benar akan diakui," tutur Andree.

Ketidakpastian tersebut berpotensi membuat perusahaan menunda investasi untuk beralih ke teknologi rendah emisi. Sebab, perusahaan tidak mengetahui secara pasti bagaimana pengurangan emisi yang dihasilkan akan dihitung dan dihargai.

Baca juga: Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon

Kondisi ini juga menjadi tantangan bagi perusahaan yang lebih dahulu melakukan transisi sebelum sektornya masuk dalam skema ETS. Investasi yang telah dikeluarkan belum tentu menghasilkan kredit karbon yang dapat diperdagangkan.

Subsidi energi fosil jadi tantangan

Selain persoalan harga karbon dan standar MRV, Andree menilai kebijakan energi yang masih memberikan keuntungan bagi penggunaan bahan bakar fosil turut menghambat transisi industri.

Kebijakan seperti Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dan Domestic Market Obligation (DMO) dinilai membuat harga energi fosil menjadi lebih murah dibandingkan harga yang terbentuk melalui mekanisme pasar.

Dalam jangka pendek, kebijakan tersebut memang membantu industri menekan biaya produksi dan mempertahankan daya saing. Namun, harga energi fosil yang murah juga dapat mengurangi dorongan bagi perusahaan untuk beralih ke energi terbarukan.

Baca juga: Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon

Padahal, ketika kebijakan perdagangan karbon dan pengenaan biaya emisi semakin berkembang di tingkat internasional, industri Indonesia perlu mempersiapkan diri agar tidak terbebani biaya tambahan akibat tingginya emisi dari proses produksi.

Studi terbaru CIPS, menurut Andree, menunjukkan bahwa industri sebenarnya memiliki keinginan untuk beralih ke teknologi rendah emisi demi menjaga daya saing produk Indonesia pada masa mendatang.

Namun, upaya tersebut masih menghadapi kendala regulasi. Salah satunya pembatasan kuota pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap yang dinilai menghambat perusahaan memanfaatkan energi bersih untuk kebutuhan operasional pabrik.

"Boleh dibilang bahwa industri ini butuh kepastian, lebih daripada justru insentif berupa uang. Ya. Ini saya ingat sekali ada satu statement, 'Pak, ya insentif fiskal itu bagus, Pak. Tapi sebenarnya kami lebih butuh hal yang pasti, bahwa kalau kami bertransisi, ini ada harganya'," ujar Andree.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi: Pemanasan Global Bikin Wilayah Tropis Kian Panas dan Ekstrem
Studi: Pemanasan Global Bikin Wilayah Tropis Kian Panas dan Ekstrem
Pemerintah
IPB Temukan Gen Resistansi Antimikrob pada Bakteri E coli di Ekosistem Pemotongan Hewan
IPB Temukan Gen Resistansi Antimikrob pada Bakteri E coli di Ekosistem Pemotongan Hewan
LSM/Figur
RSPO Catat 14.500 Hektare Konsesi Sawit Bersertifikat Terdampak Kebakaran
RSPO Catat 14.500 Hektare Konsesi Sawit Bersertifikat Terdampak Kebakaran
Swasta
Jumlah Spesies dalam Perdagangan Satwa Liar Dunia Melonjak Dua Kali Lipat
Jumlah Spesies dalam Perdagangan Satwa Liar Dunia Melonjak Dua Kali Lipat
Pemerintah
Menghidupkan Kebun Kakao Masyarakat Adat agar Hutan Tak Beralih Menjadi Sawit
Menghidupkan Kebun Kakao Masyarakat Adat agar Hutan Tak Beralih Menjadi Sawit
LSM/Figur
Perusahaan Minyak Raup Laba Rp1.613 Triliun di Tengah Tekanan Global
Perusahaan Minyak Raup Laba Rp1.613 Triliun di Tengah Tekanan Global
Pemerintah
Diversifikasi Tanaman Jadi Kunci Ketahanan Iklim dan Produktivitas Lahan
Diversifikasi Tanaman Jadi Kunci Ketahanan Iklim dan Produktivitas Lahan
Pemerintah
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Pemerintah
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
LSM/Figur
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
LSM/Figur
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Pemerintah
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Pemerintah
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik  Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
LSM/Figur
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau