KOMPAS.com - Perluasan konflik di Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz diperkirakan memicu lonjakan harga pangan serta menekan mata pencaharian dan keuangan rumah tangga.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan 11,7 juta perempuan dan anak perempuan mengalami kerawanan pangan pada akhir tahun 2026, menurut analisis terbaru dari UN Women.
Melansir Eco Business, Rabu (4/11/2026) laporan berjudul “Food security risks of the Middle East escalation for women and girls” mengungkapkan bahwa kelompok perempuan mencakup 53 persen dari total 22 juta orang yang diproyeksikan mengalami kerawanan pangan di 28 negara yang diteliti.
Angka ini menambah daftar sekitar 208 juta perempuan dan anak perempuan di negara-negara tersebut yang sebelumnya sudah mengalami kekurangan gizi atau kerawanan pangan. Estimasi ini berbasis skenario pemodelan, bukan ramalan pasti.
"Ketimpangan gender menentukan siapa yang mendapat akses terhadap pangan dan sumber daya untuk memperolehnya. Oleh karena itu, berinvestasi pada perempuan adalah cara pasti untuk menjamin kesejahteraan keluarga dan komunitas," ujar Wakil Direktur Eksekutif UN Women, Nyaradzayi Gumbonzvanda.
Baca juga: Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi
Gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz terus menggenjot biaya energi, pupuk, dan transportasi, yang pada akhirnya mendongkrak harga pangan. Dipadukan dengan risiko kehilangan pendapatan dan mata pencaharian, kenaikan biaya ini membuat makanan makin sulit terjangkau.
Bagi banyak perempuan, ketimpangan akses terhadap lapangan kerja dan layanan keuangan membuat mereka memiliki daya tahan finansial yang lebih lemah dalam menghadapi guncangan ekonomi ini.
Negara-negara dengan populasi besar mencatat jumlah perempuan dan anak perempuan terbanyak yang berisiko mengalami kerawanan pangan. Namun, negara-negara seperti Sudan Selatan, Sudan, Haiti, Yaman, dan Palestina menghadapi risiko yang jauh lebih terkonsentrasi karena menumpuknya berbagai sumber kerentanan.
Di Sudan Selatan, lonjakan jumlah perempuan dan anak perempuan yang terancam kerawanan pangan mencakup sekitar 14 persen atau satu dari tujuh dari total populasi perempuan di sana.
Ini merupakan proporsi tertinggi di antara seluruh negara yang diteliti. Di Lebanon, proporsi tersebut mencapai hampir 4 persen dari populasi perempuannya, menjadi yang tertinggi kedua.
Di banyak negara, perempuan dan anak perempuan mendominasi porsi kelompok yang terancam krisis pangan.
Sebagai contoh, di Afganistan, perempuan diperkirakan menyumbang 60 persen dari total orang yang terancam kerawanan pangan; di Yaman mencapai lebih dari 57 persen; dan di Sudan hampir 56 persen.
Sektor lapangan kerja juga sangat memengaruhi ketahanan pangan. Di Mesir, Irak, Palestina, Sudan, dan Suriah, sekitar 80 persen perempuan berada di luar angkatan kerja alias tidak memiliki pekerjaan formal atau penghasilan sendiri.
Angka ini bahkan melonjak hingga sekitar 95 persen di Afganistan dan Yaman. Sementara itu, di antara perempuan yang memiliki pekerjaan, lebih dari 80 persen di antaranya berada dalam sektor pekerjaan yang rentan di Afganistan, Burkina Faso, Ethiopia, Haiti, Mali, dan Sudan Selatan.
Menurut analisis tersebut, akses ke layanan keuangan sebenarnya dapat menjadi bantal pengaman, tetapi banyak perempuan tidak memilikinya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya