Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Timur Tengah Ancam Ketahanan Pangan 11,7 Juta Perempuan

Kompas.com, 5 November 2026, 16:07 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perluasan konflik di Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz diperkirakan memicu lonjakan harga pangan serta menekan mata pencaharian dan keuangan rumah tangga.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan 11,7 juta perempuan dan anak perempuan mengalami kerawanan pangan pada akhir tahun 2026, menurut analisis terbaru dari UN Women.

Melansir Eco Business, Rabu (4/11/2026) laporan berjudul “Food security risks of the Middle East escalation for women and girls” mengungkapkan bahwa kelompok perempuan mencakup 53 persen dari total 22 juta orang yang diproyeksikan mengalami kerawanan pangan di 28 negara yang diteliti.

Angka ini menambah daftar sekitar 208 juta perempuan dan anak perempuan di negara-negara tersebut yang sebelumnya sudah mengalami kekurangan gizi atau kerawanan pangan. Estimasi ini berbasis skenario pemodelan, bukan ramalan pasti.

"Ketimpangan gender menentukan siapa yang mendapat akses terhadap pangan dan sumber daya untuk memperolehnya. Oleh karena itu, berinvestasi pada perempuan adalah cara pasti untuk menjamin kesejahteraan keluarga dan komunitas," ujar Wakil Direktur Eksekutif UN Women, Nyaradzayi Gumbonzvanda.

Baca juga: Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi

Gangguan di Selat Hormuz

Gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz terus menggenjot biaya energi, pupuk, dan transportasi, yang pada akhirnya mendongkrak harga pangan. Dipadukan dengan risiko kehilangan pendapatan dan mata pencaharian, kenaikan biaya ini membuat makanan makin sulit terjangkau.

Bagi banyak perempuan, ketimpangan akses terhadap lapangan kerja dan layanan keuangan membuat mereka memiliki daya tahan finansial yang lebih lemah dalam menghadapi guncangan ekonomi ini.

Negara-negara dengan populasi besar mencatat jumlah perempuan dan anak perempuan terbanyak yang berisiko mengalami kerawanan pangan. Namun, negara-negara seperti Sudan Selatan, Sudan, Haiti, Yaman, dan Palestina menghadapi risiko yang jauh lebih terkonsentrasi karena menumpuknya berbagai sumber kerentanan.

Di Sudan Selatan, lonjakan jumlah perempuan dan anak perempuan yang terancam kerawanan pangan mencakup sekitar 14 persen atau satu dari tujuh dari total populasi perempuan di sana.

Ini merupakan proporsi tertinggi di antara seluruh negara yang diteliti. Di Lebanon, proporsi tersebut mencapai hampir 4 persen dari populasi perempuannya, menjadi yang tertinggi kedua.

Di banyak negara, perempuan dan anak perempuan mendominasi porsi kelompok yang terancam krisis pangan.

Sebagai contoh, di Afganistan, perempuan diperkirakan menyumbang 60 persen dari total orang yang terancam kerawanan pangan; di Yaman mencapai lebih dari 57 persen; dan di Sudan hampir 56 persen.

Sektor lapangan kerja juga sangat memengaruhi ketahanan pangan. Di Mesir, Irak, Palestina, Sudan, dan Suriah, sekitar 80 persen perempuan berada di luar angkatan kerja alias tidak memiliki pekerjaan formal atau penghasilan sendiri.

Angka ini bahkan melonjak hingga sekitar 95 persen di Afganistan dan Yaman. Sementara itu, di antara perempuan yang memiliki pekerjaan, lebih dari 80 persen di antaranya berada dalam sektor pekerjaan yang rentan di Afganistan, Burkina Faso, Ethiopia, Haiti, Mali, dan Sudan Selatan.

Akses keuangan terbatas

Menurut analisis tersebut, akses ke layanan keuangan sebenarnya dapat menjadi bantal pengaman, tetapi banyak perempuan tidak memilikinya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pabrik Coca-Cola di Bekasi Pasang PLTS Atap 1,45 MWp, Tekan Emisi 1500 ton CO2e
Pabrik Coca-Cola di Bekasi Pasang PLTS Atap 1,45 MWp, Tekan Emisi 1500 ton CO2e
Swasta
Krisis Timur Tengah Ancam Ketahanan Pangan 11,7 Juta Perempuan
Krisis Timur Tengah Ancam Ketahanan Pangan 11,7 Juta Perempuan
Pemerintah
Kesenjangan Keterampilan Hambat Perpindahan Pekerja Sektor Energi Asia Pasifik
Kesenjangan Keterampilan Hambat Perpindahan Pekerja Sektor Energi Asia Pasifik
LSM/Figur
Harganya Mahal, Peduli Bumi Belum Tentu Beli Pakaian Ramah Lingkungan
Harganya Mahal, Peduli Bumi Belum Tentu Beli Pakaian Ramah Lingkungan
Pemerintah
Karhutla 2026 Lebih Parah dari 2019, Puncaknya Bulan September di Kalbar
Karhutla 2026 Lebih Parah dari 2019, Puncaknya Bulan September di Kalbar
LSM/Figur
Krisis Iklim Memburuk, PBB Soroti Kerusakan Parah pada Lapisan Es Dunia
Krisis Iklim Memburuk, PBB Soroti Kerusakan Parah pada Lapisan Es Dunia
Pemerintah
Perempuan Tani HKTI Kembangkan Smart Farming Berbasis IoT di Batam
Perempuan Tani HKTI Kembangkan Smart Farming Berbasis IoT di Batam
LSM/Figur
Studi: Pemanasan Global Bikin Wilayah Tropis Kian Panas dan Ekstrem
Studi: Pemanasan Global Bikin Wilayah Tropis Kian Panas dan Ekstrem
Pemerintah
IPB Temukan Gen Resistansi Antimikrob pada Bakteri E coli di Ekosistem Pemotongan Hewan
IPB Temukan Gen Resistansi Antimikrob pada Bakteri E coli di Ekosistem Pemotongan Hewan
LSM/Figur
RSPO Catat 14.500 Hektare Konsesi Sawit Bersertifikat Terdampak Kebakaran
RSPO Catat 14.500 Hektare Konsesi Sawit Bersertifikat Terdampak Kebakaran
Swasta
Jumlah Spesies dalam Perdagangan Satwa Liar Dunia Melonjak Dua Kali Lipat
Jumlah Spesies dalam Perdagangan Satwa Liar Dunia Melonjak Dua Kali Lipat
Pemerintah
Menghidupkan Kebun Kakao Masyarakat Adat agar Hutan Tak Beralih Menjadi Sawit
Menghidupkan Kebun Kakao Masyarakat Adat agar Hutan Tak Beralih Menjadi Sawit
LSM/Figur
Perusahaan Minyak Raup Laba Rp1.613 Triliun di Tengah Tekanan Global
Perusahaan Minyak Raup Laba Rp1.613 Triliun di Tengah Tekanan Global
Pemerintah
Diversifikasi Tanaman Jadi Kunci Ketahanan Iklim dan Produktivitas Lahan
Diversifikasi Tanaman Jadi Kunci Ketahanan Iklim dan Produktivitas Lahan
Pemerintah
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau