BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Pertamina

Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat

Kompas.com, 27 Juli 2026, 21:41 WIB
Hotria Mariana,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Pengujung 2025 menjadi masa yang berat bagi masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera. Hujan berintensitas tinggi selama berhari-hari memicu banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Jalan terputus, permukiman tertimbun lumpur, dan ribuan warga terpaksa mengungsi setelah rumah mereka diterjang arus deras.

Di tengah situasi tersebut, tantangan tidak hanya terletak pada proses evakuasi, tetapi juga memastikan bantuan dapat menjangkau daerah yang terisolasi. Ketika akses darat lumpuh, kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan pasokan energi harus tetap tersedia agar kehidupan masyarakat dapat terus berjalan.

Kondisi tersebut menjadi tantangan yang dihadapi Pertamina saat terlibat dalam penanganan banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera.

Bagi perusahaan, memastikan pasokan energi tetap tersedia tidak sekadar menjaga operasional, tetapi juga mendukung berbagai layanan dasar agar penyelamatan dan penanganan warga terdampak dapat terus berlangsung.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengatakan, pengalaman menangani bencana di Sumatera memperlihatkan bahwa energi merupakan fondasi bagi berbagai layanan dasar selama masa tanggap darurat.

"Inti dari survival adalah energi," ujar Arya dalam pemaparan "Real Action for Sumatera Disaster Relief" pada ajang KG Media Lestari Summit 2026 di Hotel Raffles Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Pernyataan tersebut menjadi benang merah dari berbagai langkah yang dilakukan Pertamina, mulai dari membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, mendukung proses tanggap darurat dan pemulihan, membangun kembali infrastruktur serta memberdayakan masyarakat, hingga memastikan pasokan energi tetap tersedia di setiap tahap penanganan bencana.

Pertamina tidak hanya menyalurkan bantuan darurat, tetapi juga hadir memberikan pendampingan sosial bagi anak-anak dan warga terdampak bencana di Sumatera.Dok. Pertamina Pertamina tidak hanya menyalurkan bantuan darurat, tetapi juga hadir memberikan pendampingan sosial bagi anak-anak dan warga terdampak bencana di Sumatera.

Menjaga pasokan energi tetap mengalir

Pertamina mulai mengerahkan bantuan sejak hari kedua setelah bencana. Sebanyak 508 Perwira Pertamina terjun ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat untuk memastikan bantuan kemanusiaan dan distribusi energi tetap berjalan.

Operasi tersebut dilakukan melalui empat posko utama yang berkoordinasi dengan BNPB, BPBD, TNI, Polri, pemerintah daerah, organisasi kemanusiaan, dan relawan. Dari posko-posko tersebut, bantuan disalurkan ke lebih dari 100 titik pengungsian di wilayah terdampak.

Selama masa tanggap darurat, Pertamina menyalurkan bantuan kepada 191.087 penerima manfaat, berupa 405,2 kiloliter BBM, 253 kiloliter avtur, serta 3.287 tabung Bright Gas guna menjaga pasokan energi tetap tersedia di berbagai wilayah terdampak.

Pada saat yang sama, perusahaan juga menyalurkan bantuan kebutuhan pokok pada 164 posko bantuan, 111 dapur umum, mendistribusikan lebih dari 5 juta liter air bersih melalui 191 mobil tangki, menghadirkan 15 unit pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), serta memberikan layanan kesehatan kepada 4.142 pasien.

Distribusi bantuan dilakukan melalui berbagai jalur. Ketika akses darat terputus akibat banjir dan longsor, logistik dikirim melalui laut menggunakan armada PT Pertamina Trans Kontinental ataupun jalur udara dengan dukungan pesawat Hercules TNI dan Pelita Air Service agar kebutuhan masyarakat tetap dapat dipenuhi secepat mungkin.

Salah satu tantangan terbesar terjadi di Aceh ketika distribusi LPG tidak dapat dilakukan menggunakan truk karena seluruh akses darat tertutup lumpur dan longsoran. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pertamina menggunakan metode sling load, yakni mengangkut tabung LPG dengan helikopter agar pasokan dapat langsung menjangkau wilayah yang masih terisolasi.

Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Pertamina pada 10 Desember 2025, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri memimpin langsung pengiriman LPG menggunakan helikopter di Aceh.

Menurut Arya, langkah tersebut diambil karena pasokan energi menjadi penentu keberlangsungan layanan dasar, mulai dari dapur umum hingga rumah sakit.

Arya mengatakan, prioritas utama Pertamina saat itu adalah memastikan pasokan energi dapat menjangkau wilayah terdampak agar berbagai layanan dasar tetap berjalan.

“Yang terpenting adalah memastikan energi sampai di sana,” kata Arya.

Seiring mulai terpenuhinya kebutuhan darurat, fokus penanganan kemudian bergeser dari penyelamatan menuju pemulihan agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitasnya.

Melalui posko bantuan yang tersebar di wilayah terdampak, Pertamina memastikan kebutuhan dasar hingga pendampingan warga pengungsi tetap terpenuhi.Dok. Pertamina Melalui posko bantuan yang tersebar di wilayah terdampak, Pertamina memastikan kebutuhan dasar hingga pendampingan warga pengungsi tetap terpenuhi.

Pemulihan berlanjut setelah masa tanggap darurat

Bagi banyak penyintas, tantangan terbesar justru dimulai ketika masa tanggap darurat dinyatakan selesai. Air mulai surut dan akses jalan perlahan kembali terbuka.

Namun, banyak keluarga masih kehilangan tempat tinggal, masalah akses air bersih, sekolah belum dapat digunakan, fasilitas kesehatan belum berfungsi normal, sementara sumber penghidupan masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Karena itu, Pertamina memandang penanganan bencana tidak berhenti pada distribusi bantuan darurat. Setelah kebutuhan dasar masyarakat mulai terpenuhi, perusahaan melanjutkan dukungan melalui berbagai program pemulihan agar masyarakat dapat kembali menjalankan kehidupan secara mandiri.

Salah satu fokusnya adalah penyediaan air bersih. Pertamina mereaktivasi 33 sumur di Aceh Tamiang dengan kapasitas produksi sekitar 1,6 juta liter air per tahun.

Perusahaan juga membangun 25 sumur bor baru yang masing-masing memiliki debit sekitar 75.000 liter per hari, serta menghadirkan 58 titik akses air bersih di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara agar masyarakat tidak lagi bergantung pada distribusi air bersih menggunakan mobil tangki.

Pemulihan juga diarahkan pada kebutuhan dasar yang menjadi persoalan utama setelah banjir, yakni hunian. Pertamina membangun 186 unit hunian sementara (huntara) yang tersebar di tiga wilayah terdampak, terdiri atas 69 unit di Aceh Utara, 82 unit di Pidie Jaya, dan 35 unit di Agam, Sumatera Barat.

Selain itu, perusahaan juga mendukung pembangunan 20 unit hunian tetap (huntap) di Gampong Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, yang diperuntukkan bagi 80 penerima manfaat.

Di sektor pendidikan, bantuan tidak berhenti pada penyediaan perlengkapan sekolah. Pertamina menyalurkan 1.344 paket seragam dan peralatan sekolah, sekaligus merevitalisasi TK Islam Ar-Rahmaniyah dan SLB Aceh Tamiang sehingga sekitar 250 anak dapat kembali belajar di lingkungan yang lebih layak.

Langkah serupa dilakukan pada sektor kesehatan. Sebanyak lima fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Aceh Tamiang dan sejumlah puskesmas, dibersihkan serta direaktivasi agar layanan kesehatan masyarakat dapat kembali berjalan setelah terdampak banjir.

Namun, bagi Pertamina, membangun kembali bangunan fisik saja belum cukup.

Pemulihan juga harus diikuti dengan kembalinya roda ekonomi masyarakat. Untuk itu, Pertamina menghadirkan Rumah Kreatif UMKM yang memberikan pelatihan dan pendampingan kepada 25 pelaku usaha, mengembangkan Program Bengkel Berdaya di Aceh Tamiang yang memberi manfaat kepada sekitar 350 penerima, serta mendukung pengembangan smart farming di lahan seluas 1,5 hektare yang sebelumnya terdampak banjir.

Melalui program tersebut, lahan yang sempat tidak produktif kembali dimanfaatkan untuk budi daya padi dan tanaman hortikultura sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Menurut Arya, pengalaman menangani bencana di Sumatera memberikan pelajaran bahwa pemulihan tidak bisa hanya diukur dari cepatnya bantuan disalurkan. Hal yang jauh lebih penting adalah memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk kembali berdiri di atas kaki sendiri.

Karena itulah, sebelum menjalankan program-program pemberdayaan, Pertamina terlebih dahulu melakukan social mapping dan potential mapping untuk memahami kebutuhan, karakteristik, serta potensi setiap daerah.

Pendampingan kemudian dilakukan selama tiga hingga lima tahun sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu mengelola program secara mandiri setelah pendampingan berakhir.

"Bagi kami, kegiatan yang dilakukan harus memberikan dampak positif bagi masyarakat. Karena itu, kami tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat agar bisa tumbuh dan berkembang bersama," ujar Arya.

Pengalaman tersebut memperkuat keyakinan Pertamina bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang merespons bencana saat terjadi, tetapi juga bagaimana membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi krisis berikutnya.

Dari sanalah lahir pendekatan yang kemudian diwujudkan melalui Program Desa Energi Berdikari.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita di ajang KG Media Lestari Summit 2026 di Hotel Raffles Jakarta, Rabu (22/7/2026). KOMPAS.com/Hotria Mariana Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita di ajang KG Media Lestari Summit 2026 di Hotel Raffles Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Membangun ketangguhan sebelum bencana datang

Pengalaman di Sumatera juga menjadi titik refleksi bagi Pertamina. Perusahaan menyadari bahwa sebaik apa pun respons ketika bencana terjadi, masyarakat tetap akan menghadapi kerugian besar jika tidak memiliki kesiapsiagaan sejak awal.

Karena itu, Pertamina mulai mengembangkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penanganan saat krisis, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat sebelum bencana datang.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui Program Desa Energi Berdikari yang mengintegrasikan ketahanan energi, pemberdayaan ekonomi, edukasi kebencanaan, hingga pelestarian lingkungan.

Menurut Arya, gagasan tersebut berangkat dari pengalaman selama pandemi Covid-19. Saat itu, banyak wilayah mengalami keterbatasan akses sehingga masyarakat dituntut mampu bertahan dengan sumber daya yang dimiliki di daerahnya masing-masing.

Pengalaman itu kemudian berkembang menjadi pemikiran bahwa masyarakat juga perlu memiliki kemampuan serupa ketika menghadapi bencana alam.

Melalui program tersebut, Pertamina tidak memperkenalkan energi fosil sebagai solusi utama.

Sebaliknya, masyarakat didorong untuk mengenali potensi energi terbarukan yang tersedia di lingkungan mereka, seperti biogas, tenaga surya, hingga sumber energi lain yang dapat dimanfaatkan sesuai karakteristik wilayah masing-masing.

Pendekatan itu kemudian dipadukan dengan penguatan ekonomi agar masyarakat memperoleh manfaat yang berkelanjutan.

Arya menjelaskan, pengembangan desa dilakukan secara bertahap. Masyarakat terlebih dahulu diajak mengenali potensi yang dimiliki daerahnya, kemudian memperoleh pendampingan untuk mengelola potensi tersebut, sebelum akhirnya mengembangkan nilai ekonomi yang dihasilkan.

"Yang terakhir adalah bagaimana bisa memiliki ekonomi. Karena yang membuat kondisi masyarakat berubah kemudian adalah kemandirian," jelas Arya.

Hingga Mei 2026, Pertamina telah membina 262 Program Desa Energi Berdikari sebagai Desa Tangguh Bencana.

Program tersebut tidak hanya memperkuat akses energi, tetapi juga membangun kelembagaan tim siaga bencana desa, menyelenggarakan pelatihan kebencanaan dan simulasi evakuasi, membangun jalur evakuasi serta Early Warning System (EWS), melakukan rehabilitasi mangrove dan pengendalian abrasi, hingga meningkatkan literasi masyarakat mengenai perubahan iklim dan mitigasi bencana.

Bagi Pertamina, ketahanan masyarakat tidak dapat dibangun hanya melalui satu program. Karena itu, aspek energi, lingkungan, ekonomi, dan kesiapsiagaan bencana dijalankan secara bersamaan agar desa memiliki kemampuan untuk bertahan sekaligus pulih lebih cepat ketika menghadapi krisis.

Salah satu contoh penerapan pendekatan tersebut dapat dilihat di Desa Energi Berdikari Bondan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Wilayah pesisir tersebut selama bertahun-tahun menghadapi banjir rob musiman, keterbatasan akses air bersih, serta sulitnya transportasi dan komunikasi. Untuk menjawab persoalan ini, Pertamina bersama masyarakat mengembangkan sistem Early Warning System Rob Flood (EWSRF), fasilitas desalinasi air berbasis komunitas, serta budi daya perikanan menggunakan biofilter dan aerator.

Hasilnya tidak hanya terlihat pada meningkatnya kesiapsiagaan masyarakat menghadapi banjir rob. Program tersebut juga mampu menyediakan sekitar 720 liter air bersih per hari bagi masyarakat, memberi akses air bersih kepada 78 keluarga, satu masjid, dan satu rumah produksi, sekaligus meningkatkan pendapatan komunitas hingga sekitar Rp 120 juta per tahun melalui usaha akuakultur.

Keberadaan sistem peringatan dini juga membantu mengurangi kerugian tambak hingga 80 persen ketika banjir rob terjadi.

Menurut Arya, contoh di Bondan menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah program keberlanjutan tidak diukur dari banyaknya bantuan yang diberikan, melainkan dari kemampuan masyarakat untuk tetap bertahan, menjaga aktivitas ekonominya, dan pulih lebih cepat ketika menghadapi situasi darurat.

Pendekatan itulah yang, menurut Pertamina, juga menjadi pelajaran paling berharga dari pengalaman menangani bencana di Sumatera.

Atas pendekatan tersebut, Pertamina pun menerima penghargaan "Special Appreciation: Real Action for Sumatera Disaster Relief" dalam ajang KG Media Lestari Awards 2026 yang digelar di Hotel Raffles Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi perusahaan dalam mendukung penanganan banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mulai dari fase tanggap darurat hingga pemulihan masyarakat.

Namun, bagi Arya, penghargaan bukanlah tujuan akhir dari berbagai program yang dijalankan Pertamina.

"Pada saat kami bercerita tentang program sustainability, tujuannya bukan untuk pamer. Kami ingin memberikan inspirasi. Siapa tahu ide-ide ini bisa diterapkan oleh pihak lain sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat Indonesia," ujarnya.

 

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau