Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah

Kompas.com, 27 Juli 2026, 21:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Perubahan iklim karena aktivitas manusia telah memperparah kekeringan di seluruh Eropa.

Para ilmuwan internasional menyatakan bahwa kondisi yang sangat kering ini lebih dipicu oleh suhu panas yang ekstrem ketimbang karena curah hujan yang rendah.

Melansir Phys, Kamis (23/7/2026) benua Eropa saat ini sedang dilanda kekeringan hebat. Negara-negara dari Prancis hingga Rumania harus berhadapan dengan sungai yang mengering, pembatasan penggunaan air, serta kebakaran hutan yang merusak setelah gelombang panas bersejarah terjadi pada bulan Juni.

Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa suhu bumi yang makin panas saat ini telah mempercepat penguapan air dari tanah, danau, dan sungai di Eropa, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kekeringan yang sangat parah.

Baca juga: Panas Ekstrem Ancam Kesehatan Jantung, Bagaimana Cara Lindungi Diri?

Sebagian besar wilayah Eropa memang mengalami curah hujan di bawah rata-rata selama musim semi. Namun, suhu panas akibat perubahan iklim-lah yang membuat kekeringan ini menjadi jauh lebih parah.

"Secara keseluruhan, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kekeringan ini bukan sekadar cerita tentang kurangnya hujan, melainkan tentang udara yang makin panas sehingga menyedot lebih banyak kelembapan dari daratan," kata Mariam Zachariah, salah satu penulis riset dari kelompok World Weather Attribution.

"Artinya, meskipun di daerah yang curah hujannya tidak banyak berubah atau bahkan diperkirakan bertambah di musim tertentu risiko terjadinya kekeringan akan tetap terus naik," terangnya lagi.

Para ilmuwan menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena udara yang lebih panas mampu menampung sekitar 7 persen lebih banyak uap air untuk setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat C.

Suhu Bumi sendiri telah memanas sekitar 1,4 derajat C sejak tahun 1850–1900, terutama akibat pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas.

Udara yang menarik kelembapan

Para ilmuwan menyebutkan bahwa perubahan iklim membuat bencana yang merusak seperti kekeringan, banjir, dan gelombang panas terjadi lebih sering dan makin parah. Selain itu, Eropa merupakan benua dengan pemanasan paling cepat di dunia.

Layanan Perubahan Iklim Copernicus menyatakan bahwa bulan lalu merupakan bulan Juni terpanas yang pernah tercatat di Eropa Barat, di mana gelombang panas yang sangat parah telah menyebabkan ribuan kematian tambahan.

"Panasnya cuaca begitu parah sampai-sampai daerah yang sempat mengalami musim dingin yang cukup basah pun tetap kering kerontang hanya beberapa bulan setelahnya," kata Dominik Schumacher, salah satu penulis riset dari ETH Zurich.

"Jika udara makin panas, udara itu akan menyedot habis kelembapan tanah hingga kering. Setelah itu, suhu menjadi makin panas lagi, dan tanah pun makin kering," jelasnya.

Baca juga: Gelombang Panas Picu Risiko Ekonomi Struktural di Eropa, Produktivitas Anjlok dan Jam Kerja Diubah

Ia menambahkan bahwa proses pengeringan yang sangat cepat ini juga membuat daratan makin mudah memicu terjadinya kebakaran hutan.

Untuk penelitian ini, para ilmuwan dari Eropa, Amerika Serikat, dan Inggris menggunakan data cuaca serta simulasi komputer untuk membandingkan peristiwa kekeringan di dunia yang panas saat ini dengan kondisi iklim terdahulu yang suhunya 1,4 derajat C lebih sejuk.

Para peneliti menemukan bahwa kondisi tanah yang sangat kering saat ini 5 kali lebih mudah terjadi di Eropa Barat, dan 11 kali lebih mudah terjadi di Eropa Timur, dibandingkan jika dunia tidak mengalami perubahan iklim.

Tingkat daya sedot udara yang sangat tinggi atau kemampuan udara untuk menarik kelembapan dari tanah dan tumbuhan, yang terjadi antara bulan April dan Juni di Eropa Barat, kini 80 kali lebih sering terjadi.

"Karena udara sekarang menjadi jauh lebih 'haus', kekurangan hujan dalam jumlah yang sama yang dulunya mungkin tidak sampai menyebabkan kekeringan kini bisa memicu kekeringan yang jauh lebih parah," kata Zachariah.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau