JAKARTA, KOMPAS.com - Sistem pemantauan banjir rob berbasis kecerdasan buatan (AI) dan internet of things (IoT) dikembangkan untuk membantu mitigasi banjir pasang surut di kawasan pantai utara Jawa Tengah.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari sistem peringatan dini yang dapat diakses masyarakat melalui aplikasi ponsel bernama Tide-Eye.
Aplikasi Tide-Eye memanfaatkan radar dan drone berkamera sebagai perangkat utama untuk memantau perubahan permukaan air laut di kawasan permukiman pesisir. Data ketinggian air yang dikumpulkan kemudian diolah menggunakan sistem AI menjadi informasi peringatan dini.
Baca juga: Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Salah satu peneliti yang terlibat dalam pengembangan sistem itu, Miftadi Sudjai dari Universitas Telkom, mengatakan teknologi tersebut dirancang untuk membantu masyarakat lebih siap menghadapi banjir rob sekaligus menekan potensi kerugian.
“Kami mendesain sistem berbasis jaringan sensor IoT dan AI agar menghasilkan data yang akurat. Harapannya, ini bisa mereduksi kerugian akibat banjir rob dan menjadi sarana edukasi agar masyarakat lebih tangguh serta siap menghadapi dampaknya,” ujar Miftadi dalam "Knowledge and Innovation Exchange – Jakarta Summit Indicative Agenda" di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Pengembangan sistem dilakukan di sejumlah wilayah pesisir yang kerap terdampak rob, seperti Tambak Lorok di Semarang, kawasan muara Sungai Kalibabon, Pekalongan, dan Demak.
Tim peneliti terlebih dahulu melakukan survei lapangan untuk memetakan persoalan yang dihadapi warga, termasuk kebutuhan informasi saat banjir rob datang.
Menurut Miftadi, pendekatan berbasis data dinilai penting karena banjir rob di pesisir utara Jawa Tengah terus berulang dan memengaruhi aktivitas ekonomi maupun kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ia menjelaskan, masyarakat terdampak dilibatkan sejak awal dalam proses pengembangan aplikasi, terutama kelompok perempuan.
Baca juga: Banjir Rob Tak Cukup dengan Bangun Giant Sea Wall, BRIN Ungkap Risikonya
“Mungkin alasannya karena ibu-ibu pada siang hari lebih banyak berada di rumah, sehingga kami bisa berkonsultasi langsung. Kami berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi saat banjir rob,” katanya.
Miftadi memperkirakan sekitar 44 persen perempuan terlibat dalam desain pengembangan aplikasi tersebut. Dari sisi mitra pemerintah, sekitar 34 persen keterlibatan juga berasal dari perempuan, termasuk penanggung jawab program dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Menurut dia, kelompok ibu rumah tangga selama ini menjadi pihak yang paling aktif dalam proses evakuasi dan mitigasi ketika rob terjadi.
“Ketika kami mengadakan pelatihan di tingkat RT, sekitar 80 persen peserta yang hadir adalah ibu-ibu,” ujarnya.
Pengembang berharap Tide-Eye dapat menjadi model sistem peringatan dini berbasis teknologi yang mudah diakses masyarakat pesisir.
Selain memberi informasi ketinggian air secara real time, aplikasi tersebut diharapkan mendorong kesiapsiagaan warga menghadapi ancaman rob yang semakin sering terjadi akibat penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya