Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Rob Tak Cukup dengan Bangun Giant Sea Wall, BRIN Ungkap Risikonya

Kompas.com, 4 Februari 2026, 19:21 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai giant sea wall atau tanggul laut raksasa bukan solusi untuk mengantisipasi banjir di kawasan pesisir seperti Jakarta Utara dan Pantai Utara Jawa (Pantura).

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menjelaskan bahwa secara geologis wilayah pesisir Jakarta didominasi tanah aluvial yang bersifat lunak.

"Giant sea wall seberat itu sudah tepat enggak sih? Tanahnya aluvial, lembek, tanahnya landai dikasih beban begitu saya yakin enggak ada 10 tahun itu (tanggul) akan sama nanti tingginya dengan laut," ungkap Eddy dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).

Baca juga: Krisis Iklim, Banjir dan Badai di Asia Makin Sering Sejak 1988

Namun, ia menyebut kondisi tersebut tidak sepenuhnya berlaku di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) lantaran pengembangan kawasan PIK menerapkan desain rekayasa yang lebih matang, termasuk sistem pengendalian air dan tata ruang yang terencana dengan baik.

"Itu enggak berlaku untuk daerah PIK, karena (pengembang) Cina lebih unggul dalam mendesain bagaimana bebas dari banjir," imbuh dia.

Eddy mengusulkan penanganan banjir rob di kawasan pesisir dengan cara alami, salah satunya penanaman hutan mangrove untuk pemecah gelombang dan zona penyangga pantai. Selain itu, pemerintah harus merelokasi permukiman masyarakat menjauh dari garis pantai lalu meninggikan area yang ditinggali.

Baca juga: Banjir dan Longsor: Bangkit dari Dua Lapis Kelemahan

"Kembali ke alam, bikin pemecah gelombang, bikin supaya masyarakat aman, pindahkan mereka bikin (area) yang lebih tinggi insya Allah aman. Itu teknologi tidak buang (dana) gede, lebih natural, lebih realistis," tutur dia.

Eddy mengingatkan ancaman kawasan pesisir mengintai pantai selatan Jawa apalagi jika pembangunan dilakukan di atas lahan gambut yang tebal dan rentan mengalami penurunan tanah.

Di sisi lain, ia menyoroti dampak pemanasan global yang memperparah ancaman di wilayah pesisir. Setidaknya ada tiga dampak utama perubahan iklim, yakni kenaikan muka laut (rising ocean level), pengasaman laut (ocean acidification), dan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem.

"Jadi ada serangan baru namanya tropical cyclone (siklon tropis), ini merupakan ancaman baru. 20 tahun-30 tahun kita enggak mengenal tropical cyclone, enggak mengenal badai, kita bebas dari siklon tropis," jelas Eddy.

"Satu badai saja Dahlia Cempaka sudah enggak berdaya itu di Yogyakarta, ini sudah bisa menghantam, menghancurkan yang ada di Yogya," lanjut dia 

Wacana Pembangunan Tanggul

Sebagai informasi, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan, pemerintah tengah mempersiapkan proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall sebagai bagian untuk mengatasi banjir di Pulau Jawa. Ia menjelaskan, penyelesaian masalah banjir di Jawa dari hulu ke hilir menjadi perhatian dari Presiden Prabowo Subianto.

"Jadi, perhatian Bapak Presiden untuk bagaimana kita bisa menyelesaikan itu dari hulu ke hilir, termasuk dengan tim otorita pengelolaan pantai utara Jawa atau yang selama ini lebih dikenal dengan yang sedang mempersiapkan untuk proyek giant sea wall," ujar Prasetyo di Istana, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Prabowo telah meminta Bappenas, Kemenko Infrastruktur, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian ATR/BPN, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kemendagri untuk mengatasi persoalan banjir di Jawa.

Termasuk membuat rancangan besar atau grand design dalam mencari solusi dari masalah banjir di Jawa.

"Bapak Presiden memerintahkan kepada kami untuk secepat-cepatnya membentuk tim kajian untuk mencoba menganalisis dan kemudian membuat grand design penyelesaian masalah-masalah yang berkenaan dengan air, pengelolaan air di Jawa, terutama khususnya di Pulau Jawa," ucap Prasetyo.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Krisis Iklim Bikin Negara Tropis Menghangat Lebih Cepat
Krisis Iklim Bikin Negara Tropis Menghangat Lebih Cepat
LSM/Figur
UNEP Ungkap Ketimpangan Pembiayaan Perlindungan Alam
UNEP Ungkap Ketimpangan Pembiayaan Perlindungan Alam
LSM/Figur
Bau RDF Rorotan Dikeluhkan, Warga Minta Dilibatkan Jadi Pengawas
Bau RDF Rorotan Dikeluhkan, Warga Minta Dilibatkan Jadi Pengawas
Pemerintah
BRIN: Efektivitas Operasi Modifikasi Cuaca Masih Harus Dikaji
BRIN: Efektivitas Operasi Modifikasi Cuaca Masih Harus Dikaji
Pemerintah
OJK Dituntut Lebih Berani Usut Pembiayaan yang Sebabkan Deforestasi
OJK Dituntut Lebih Berani Usut Pembiayaan yang Sebabkan Deforestasi
LSM/Figur
Banjir Rob Tak Cukup dengan Bangun Giant Sea Wall, BRIN Ungkap Risikonya
Banjir Rob Tak Cukup dengan Bangun Giant Sea Wall, BRIN Ungkap Risikonya
Pemerintah
DLH DKI Jelaskan Alasan Lokasi RDF Rorotan, Bantu Kurangi Beban TPST Bantargebang
DLH DKI Jelaskan Alasan Lokasi RDF Rorotan, Bantu Kurangi Beban TPST Bantargebang
Pemerintah
Sejumlah Lembaga Lakukan Pelepasliaran Elang Brontok dan Kukang Jawa di Sukabumi
Sejumlah Lembaga Lakukan Pelepasliaran Elang Brontok dan Kukang Jawa di Sukabumi
LSM/Figur
Pemotongan Bantuan Global Diprediksi Picu 23 Juta Kematian Tambahan pada 2030
Pemotongan Bantuan Global Diprediksi Picu 23 Juta Kematian Tambahan pada 2030
Pemerintah
Peneliti Sebut Perjanjian Plastik Global Mandek, tapi Masih Mungkin Dicapai
Peneliti Sebut Perjanjian Plastik Global Mandek, tapi Masih Mungkin Dicapai
LSM/Figur
Bagaimana RDF Rorotan Olah Sampah di Jakarta hingga Jadi Bahan Bakar?
Bagaimana RDF Rorotan Olah Sampah di Jakarta hingga Jadi Bahan Bakar?
Pemerintah
WHO Sebut Hampir 40 Persen Kanker di Dunia Bisa Dicegah
WHO Sebut Hampir 40 Persen Kanker di Dunia Bisa Dicegah
Pemerintah
RDF Rorotan Dinilai Bukan Solusi Sampah Jakarta
RDF Rorotan Dinilai Bukan Solusi Sampah Jakarta
LSM/Figur
AdaKami Salurkan Bantuan  Kemanusiaan Senilai Rp 1 Miliar untuk Pemulihan Pascabencana di Aceh
AdaKami Salurkan Bantuan Kemanusiaan Senilai Rp 1 Miliar untuk Pemulihan Pascabencana di Aceh
Swasta
4 SD Negeri di Kabupaten Tangerang Dapat Edukasi Hidup Bersih dan Sehat
4 SD Negeri di Kabupaten Tangerang Dapat Edukasi Hidup Bersih dan Sehat
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau