JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai giant sea wall atau tanggul laut raksasa bukan solusi untuk mengantisipasi banjir di kawasan pesisir seperti Jakarta Utara dan Pantai Utara Jawa (Pantura).
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menjelaskan bahwa secara geologis wilayah pesisir Jakarta didominasi tanah aluvial yang bersifat lunak.
"Giant sea wall seberat itu sudah tepat enggak sih? Tanahnya aluvial, lembek, tanahnya landai dikasih beban begitu saya yakin enggak ada 10 tahun itu (tanggul) akan sama nanti tingginya dengan laut," ungkap Eddy dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).
Baca juga: Krisis Iklim, Banjir dan Badai di Asia Makin Sering Sejak 1988
Namun, ia menyebut kondisi tersebut tidak sepenuhnya berlaku di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) lantaran pengembangan kawasan PIK menerapkan desain rekayasa yang lebih matang, termasuk sistem pengendalian air dan tata ruang yang terencana dengan baik.
"Itu enggak berlaku untuk daerah PIK, karena (pengembang) Cina lebih unggul dalam mendesain bagaimana bebas dari banjir," imbuh dia.
Eddy mengusulkan penanganan banjir rob di kawasan pesisir dengan cara alami, salah satunya penanaman hutan mangrove untuk pemecah gelombang dan zona penyangga pantai. Selain itu, pemerintah harus merelokasi permukiman masyarakat menjauh dari garis pantai lalu meninggikan area yang ditinggali.
Baca juga: Banjir dan Longsor: Bangkit dari Dua Lapis Kelemahan
"Kembali ke alam, bikin pemecah gelombang, bikin supaya masyarakat aman, pindahkan mereka bikin (area) yang lebih tinggi insya Allah aman. Itu teknologi tidak buang (dana) gede, lebih natural, lebih realistis," tutur dia.
Eddy mengingatkan ancaman kawasan pesisir mengintai pantai selatan Jawa apalagi jika pembangunan dilakukan di atas lahan gambut yang tebal dan rentan mengalami penurunan tanah.
Di sisi lain, ia menyoroti dampak pemanasan global yang memperparah ancaman di wilayah pesisir. Setidaknya ada tiga dampak utama perubahan iklim, yakni kenaikan muka laut (rising ocean level), pengasaman laut (ocean acidification), dan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem.
"Jadi ada serangan baru namanya tropical cyclone (siklon tropis), ini merupakan ancaman baru. 20 tahun-30 tahun kita enggak mengenal tropical cyclone, enggak mengenal badai, kita bebas dari siklon tropis," jelas Eddy.
"Satu badai saja Dahlia Cempaka sudah enggak berdaya itu di Yogyakarta, ini sudah bisa menghantam, menghancurkan yang ada di Yogya," lanjut dia
Sebagai informasi, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan, pemerintah tengah mempersiapkan proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall sebagai bagian untuk mengatasi banjir di Pulau Jawa. Ia menjelaskan, penyelesaian masalah banjir di Jawa dari hulu ke hilir menjadi perhatian dari Presiden Prabowo Subianto.
"Jadi, perhatian Bapak Presiden untuk bagaimana kita bisa menyelesaikan itu dari hulu ke hilir, termasuk dengan tim otorita pengelolaan pantai utara Jawa atau yang selama ini lebih dikenal dengan yang sedang mempersiapkan untuk proyek giant sea wall," ujar Prasetyo di Istana, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Prabowo telah meminta Bappenas, Kemenko Infrastruktur, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian ATR/BPN, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kemendagri untuk mengatasi persoalan banjir di Jawa.
Termasuk membuat rancangan besar atau grand design dalam mencari solusi dari masalah banjir di Jawa.
"Bapak Presiden memerintahkan kepada kami untuk secepat-cepatnya membentuk tim kajian untuk mencoba menganalisis dan kemudian membuat grand design penyelesaian masalah-masalah yang berkenaan dengan air, pengelolaan air di Jawa, terutama khususnya di Pulau Jawa," ucap Prasetyo.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya