KOMPAS.com - Sebuah studi menemukan bahwa tutupan salju di pegunungan Yunani telah berkurang lebih dari 50 persen selama empat dekade terakhir. Padahal, salju tersebut merupakan sumber air yang sangat penting bagi penduduk, pertanian, dan ekosistem alam saat musim kemarau yang kering.
Melansir Phys, Kamis (30/4/2026) tim peneliti internasional yang dipimpin oleh University of Cambridge, menggunakan gabungan citra satelit, data iklim, peta wilayah, dan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis dampak kenaikan suhu di wilayah Mediterania terhadap salju di pegunungan Yunani.
Wilayah tersebut selama ini jauh lebih jarang diteliti dibandingkan pegunungan lain di Eropa seperti Alpen atau Pyrenees.
Dengan menggunakan alat yang mereka kembangkan bernama snowMapper, para peneliti menemukan bahwa tutupan salju telah berkurang 58 persen dalam empat puluh tahun terakhir.
Baca juga: Pakar UGM Sebut Salju Abadi Puncak Jaya Bakal Hilang, Ini Penyebabnya
Parahnya, laju penurunan ini semakin cepat sejak awal abad ke-21. Selain itu, musim salju kini datang lebih lambat dan berakhir lebih cepat.
Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Cryosphere ini menunjukkan bahwa hilangnya salju disebabkan oleh kenaikan suhu, bukan karena perubahan jumlah curah hujan.
Udara yang lebih panas menyebabkan air jatuh sebagai hujan, bukan salju, di dataran tinggi. Hal ini membuat sungai-sungai di hilir kehilangan pasokan air "pelepasan lambat" yang biasanya disediakan oleh lelehan salju.
"Salju itu ibarat waduk alami. Karena salju mencair secara perlahan dan tidak langsung mengalir hilang seperti air hujan, salju sangat berharga untuk irigasi, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan kebutuhan air rumah tangga selama musim panas yang panas dan kering. Salju menjaga sungai, danau, dan air tanah tetap terisi," kata Konstantis Alexopoulos, penulis utama dari Scott Polar Research Institute (SPRI) Cambridge.
Untuk menghitung seberapa besar hilangnya tutupan salju, para peneliti menggunakan citra satelit milik NASA dan ESA untuk melihat di mana ada salju pada hari-hari yang cerah antara tahun 1984 hingga 2025.
Namun, karena awan atau bayangan sering kali menghalangi pandangan, tim tersebut menggunakan teknik AI untuk membantu mengisi celah-celah data yang hilang tersebut.
Mereka menggunakan data iklim Eropa dan peta digital wilayah untuk menyimulasikan kemungkinan adanya salju pada hari yang berawan, berdasarkan data suhu, curah hujan, ketinggian tempat, dan apakah sebelumnya di lokasi tersebut memang ada salju.
Algoritma machine learning mereka dilatih menggunakan ribuan data observasi salju langsung dari stasiun cuaca di pegunungan Alpen dan Pyrenees.
Hasilnya adalah sebuah alat yang mampu menyediakan peta tutupan salju harian dengan ketajaman 100 meter untuk sepuluh pegunungan tertinggi di Yunani dari tahun 1984 hingga 2025.
Para peneliti mengatakan bahwa meskipun sebagian data dasar snowMapper berasal dari wilayah Eropa lainnya, alat ini terbukti bekerja akurat di Yunani. Ini menunjukkan bahwa snowMapper bisa berguna untuk memetakan pegunungan lain di seluruh dunia yang kekurangan data.
"Sangat penting untuk memahami bagaimana perubahan salju terjadi, namun sebagian besar pegunungan di dunia tidak memiliki banyak sistem pemantauan langsung di lapangan," kata Alexopoulos, yang juga tergabung dalam National Observatory of Athens dan pendiri Hellenic Mountain Observatory.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya