Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan

Kompas.com, 29 April 2026, 21:16 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University menilai tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu diperkuat agar pelaksanaannya lebih tepat sasaran, efisien, serta memberi dampak bagi ekonomi lokal.

Hal itu mengemuka dalam "Strategic Discussion Series 1" yang digelar FEM IPB secara hybrid di Bogor, Rabu (29/4/2026), dengan menghadirkan Guru Besar Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Prof Bambang Juanda, sebagai narasumber utama.

"Keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari kecepatan perluasan program atau besarnya anggaran, tetapi harus dipastikan mampu menyediakan makanan bergizi, aman, akuntabel, dan benar-benar diterima kelompok yang membutuhkan," jelas dia dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).

Baca juga: Teruskan MBG, Prabowo: Apa Salahnya Presiden Gelontorkan Uang ke Rakyat?

Menurut dia, MBG perlu dijalankan melalui kombinasi sentralisasi standar nasional dan desentralisasi operasional berbasis sekolah serta komunitas.

Melalui skema itu, pemerintah pusat berperan menetapkan standar gizi, keamanan pangan, menu acuan, audit, hingga sanksi. Sementara pemerintah daerah, sekolah, dan komunitas dapat berperan dalam verifikasi penerima manfaat, pengadaan bahan pangan lokal, distribusi, serta pengumpulan umpan balik harian.

Bambang juga menilai ukuran keberhasilan program tidak cukup dilihat dari jumlah porsi yang diproduksi, tetapi juga berapa porsi yang benar-benar dikonsumsi, biaya per porsi yang dimakan, tingkat sisa makanan, serta seberapa besar belanja program mengalir ke petani, UMKM, koperasi, BUMDes, dan pasar lokal.

Ia menyebut indikator seperti cost per eaten meal, tingkat food waste, porsi belanja lokal, penyelesaian keluhan, dan hasil inspeksi mutu perlu masuk dalam sistem evaluasi MBG.

Distribusi manfaat belum merata

Data yang dipaparkan dalam forum menunjukkan distribusi manfaat MBG masih perlu perhatian.

Sebanyak 58,9 persen manfaat program berada di Pulau Jawa, sementara 80,4 persen diterima wilayah perkotaan dan hanya 19,6 persen di wilayah perdesaan.

Temuan itu dinilai menunjukkan perlunya afirmasi wilayah agar distribusi manfaat tidak hanya mengikuti kepadatan penduduk atau kemudahan layanan, tetapi juga mempertimbangkan kerentanan gizi di tiap daerah.

Selain itu, analisis distribusi manfaat juga menunjukkan kelompok ekonomi bawah atau desil 1-4 hanya menerima 10,2 persen manfaat, sedangkan kelompok atas atau desil 9-10 menerima 62,9 persen.

Bahkan, kelompok termiskin hanya menerima 1,1 persen manfaat, sementara kelompok terkaya menerima 46,5 persen manfaat. Padahal, empat desil terbawah tercatat memiliki konsumsi protein paling rendah, yakni 51,4 gram per kapita per hari.

Baca juga: Sebut Anak Sekolah Suka MBG, Prabowo: Menghemat Uang Mereka

Sementara itu dosen Departemen Agribisnis FEM IPB, Prof Harianto, menilai MBG perlu ditempatkan dalam ekosistem kebijakan yang lebih luas.

Ia menyebut tujuan MBG, seperti mengatasi persoalan gizi, mendukung konsentrasi belajar, dan mengurangi beban rumah tangga, berkaitan dengan program lain seperti 1.000 Hari Pertama Kehidupan, intervensi gizi spesifik, pendidikan ibu, UKS, perlindungan sosial, dan pemberdayaan UMKM.

Sementara itu, dari perspektif ekonomi syariah, Dr Deni Lubis menyoroti pentingnya ketepatan sasaran agar bantuan pangan tidak menimbulkan pemborosan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau