Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola

Kompas.com, 24 Juni 2026, 20:34 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

BOGOR, KOMPAS.com – Pemerintah dan penganut ekonomi arus utama dinilai masih terlalu berfokus pada indikator kuantitatif seperti pertumbuhan ekonomi, efisiensi, dan berbagai capaian statistik.

Di sisi lain, aspek moral, tata kelola, kepercayaan, dan realitas sosial masyarakat kerap luput dari perhatian dalam perumusan kebijakan ekonomi.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Budi Purwanto, mengatakan pendekatan ekonomi yang hanya bertumpu pada angka berisiko menghasilkan kebijakan yang tidak sepenuhnya mampu menjawab persoalan riil di masyarakat.

Baca juga: PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis

Menurut dia, aktivitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh faktor material dan perhitungan biaya, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai moral, tata kelola, serta hubungan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

“Selama ini ekonomi lebih banyak dilihat dari sisi angka, biaya, efisiensi, dan pertumbuhan. Padahal ada nilai lain yang juga menentukan, yaitu nilai moral dan sosial yang memengaruhi perilaku ekonomi,” ujarnya diskusi yang diselenggarakan oleh FEM IPB, Rabu (24/6/2026).

Budi menjelaskan, pendekatan yang ia sebut sebagai "Marketomics" berupaya menawarkan cara pandang yang lebih luas dalam memahami fenomena ekonomi.

Pendekatan tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan teori ekonomi yang sudah ada, melainkan melengkapi analisis ekonomi dengan memasukkan dimensi moral, sosial, dan kelembagaan.

Ilmu ekonomi jauh dari realitas sehari-hari

Ia menilai terdapat kecenderungan ilmu ekonomi berkembang semakin jauh dari realitas perekonomian yang dihadapi masyarakat sehari-hari.

Akibatnya, banyak persoalan seperti kesenjangan akses pasar, lemahnya tata kelola, hingga fragmentasi ekonomi lokal belum sepenuhnya terjawab melalui pendekatan ekonomi konvensional.

“Ilmu ekonomi dan perekonomian seharusnya terus berdialog. Jangan sampai teorinya berkembang ke satu arah, sementara praktik ekonomi masyarakat berjalan di arah yang berbeda,” kata Budi.

Dalam diskusi yang dipandu dosen FEM IPB Eko Ruddy Cahyadi tersebut, Budi juga menyoroti bahwa berbagai hambatan ekonomi sering kali bukan disebabkan oleh keterbatasan sumber daya, melainkan persoalan tata kelola dan fragmentasi pasar yang membuat potensi ekonomi sulit berkembang secara optimal.

Baca juga: Krisis Ekologi Sumatra: Sebuah Utopia Pembangunan Berkelanjutan

Karena itu, menurut Budi, diperlukan pendekatan yang mampu melihat keterkaitan antara faktor ekonomi, kelembagaan, dan perilaku sosial secara lebih utuh.

Perlu pengembangan

Dalam diskusi tersebut, hadir sejumlah penanggap, yakni Prof Dedi Budiman Hakim,
Prof Yusman Syaukat, Dr Suharno, dan Dr. Ranti Wiliasih, S.P., M.Si.

Salah satu penanggap diskusi, Yusman Syaukat menyatakan bahwa gagasan "Marketomics" masih memerlukan pengembangan lebih lanjut, terutama dalam bentuk model empiris yang dapat diuji secara ilmiah.

"Pengembangan tersebut mencakup penyusunan indikator, metode pengukuran, hingga pembuktian statistik yang mampu menjelaskan hubungan antara nilai moral, tata kelola, dan kinerja ekonomi," jelasnya.

Baca juga: IPB University Kucurkan Hibah untuk Akselerasi Startup dan Hilirisasi Riset

Untuk itu, Budi berharap kolaborasi lintas disiplin ilmu dapat mendorong lahirnya model ekonomi yang tidak hanya menjelaskan pertumbuhan dan efisiensi, tetapi juga mampu mengukur kontribusi aspek moral dan sosial terhadap pembangunan.

Menurut dia, keberhasilan pembangunan pada akhirnya tidak cukup diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi semata, melainkan juga dari kemampuan sistem ekonomi menciptakan kesejahteraan yang lebih merata, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau