Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Save the Children dan KFIF Perkuat Ketangguhan Masyarakat dari Risiko Banjir di Rancaekek

Kompas.com, 2 Februari 2025, 08:37 WIB
Sri Noviyanti

Editor


KOMPAS.com – Save the Children Indonesia bersama Yayasan Industri Keuangan Korea (KFIF) memperkuat ketangguhan masyarakat di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, dari risiko banjir melalui program Ketangguhan Masyarakat Berbasis Lanskap (KMBL).

Dalam 10 bulan terakhir, program tersebut telah menjangkau 43.800 masyarakat, dengan 15.260 anak kini lebih terlindungi dan 28.554 orang dewasa mendapatkan pelatihan kesiapsiagaan serta pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir menjadi bencana paling sering terjadi di Indonesia sepanjang 2024, dengan 962 kejadian tercatat hingga 8 Desember. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Kecamatan Rancaekek, di mana setiap kali banjir melanda, rumah warga terendam dan aktivitas sekolah terganggu.

Baca juga: Atasi Banjir Rancaekek, Dua Sungai Dinormalisasi

Adapun anak-anak menjadi kelompok paling rentan dalam menghadapi risiko kesehatan, serta hambatan dalam akses pendidikan.

Save the Children Indonesia menekankan bahwa perlindungan anak menjadi prioritas utama dalam menghadapi bencana.

Upaya mitigasi yang dilakukan mencakup peningkatan kesiapsiagaan komunitas, penguatan sistem peringatan dini, hingga edukasi bagi anak-anak tentang langkah-langkah menghadapi banjir.

"Ketika banjir terjadi, anak-anak menghadapi risiko yang lebih besar. Kami memastikan mereka mendapatkan informasi yang tepat tentang cara bertindak saat bencana terjadi agar dampaknya dapat diminimalkan," ujar Chief of Partnership Strategic and Program Operation Save the Children Indonesia, Rosianto Hamid, dalam rilis yang diterima Kompas.com, Sabtu (1/2/2025).

Baca juga: Kerap Terendam Banjir, Candi Bojong Menje di Rancaekek Terancam Rusak

Sebagai informais, program KMBL dijalankan bersama Yayasan SHEEP Indonesia dengan dukungan KFIF dan Save the Children Korea. Inisiatif ini mengusung pendekatan lanskap dari hulu ke hilir, serta memastikan keterlibatan kelompok rentan seperti anak-anak, penyandang disabilitas, dan perempuan dalam strategi pengurangan risiko bencana.

KFIF sendiri merupakan satu-satunya yayasan di Korea yang didanai dan dikelola bersama oleh serikat pekerja dan manajemen dari 33 lembaga keuangan utama. Dengan kontribusi sebesar 200 miliar KRW (sekitar 150 juta dollar AS), KFIF berkomitmen untuk menjalankan berbagai proyek sosial di Korea maupun secara global, termasuk upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia.

Adapun program KMBL menerapkan beberapa strategi utama guna menciptakan pendekatan yang lebih efektif dan berkelanjutan dalam menghadapi banjir.

Pertama, mengidentifikasi kesenjangan dalam sistem peringatan dini serta kerentanan infrastruktur terhadap banjir untuk memahami titik lemah yang harus diperkuat agar respons terhadap banjir menjadi lebih efektif.

Kedua, pembentukan Satuan Tugas Siaga Warga Rancaekek, penyusunan rencana aksi, dan pengembangan standard operating procedures (SOP) untuk memastikan bahwa komunitas memiliki panduan yang jelas dalam merespons banjir.

Baca juga: Sungai Cimande Meluap, Perumahan di Rancaekek Bandung Terendam Banjir

Ketiga, bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Daearah (BPBD) setempat untuk memperkuat sistem peringatan dini yang telah ada dengan menginstalasi alat tambahan di lokasi-lokasi strategis. Upaya ini bertujuan untuk mendukung dan memperkuat sistem yang telah diterapkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sehingga sistem peringatan dini di wilayah tersebut menjadi lebih efektif dan menyeluruh.

Keempat, melakukan pelatihan kapasitas, simulasi, serta edukasi kepada masyarakat, termasuk anak-anak, terkait langkah-langkah menghadapi banjir dan pentingnya menjaga lingkungan, seperti menanam pohon sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko banjir.

Hal itu dilakukan untuk menanamkan kesadaran dan mendorong keterlibatan anak dan orang muda dalam menciptakan lingkungan yang tangguh dan berkelanjutan.

Baca juga: Banjir di Rancaekek Bandung, Seorang Nenek Ditemukan Tewas Terseret Arus

Kolaborasi yang erat antara berbagai pihak sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan berkelanjutan bagi anak-anak dan masyarakat.

Melalui program tersebut, seluruh pihak berharap agar masyarakat tidak hanya lebih siap dalam menghadapi banjir, tetapi juga memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya menjaga lingkungan, serta berperan aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program LAKSMI Dorong Perempuan Pelaku UMKM Surabaya Perkuat Kapasitas Usaha
Program LAKSMI Dorong Perempuan Pelaku UMKM Surabaya Perkuat Kapasitas Usaha
LSM/Figur
Aturan EPR Direvisi, Industri Minta Mekanisme dan Pengawasan Diperjelas
Aturan EPR Direvisi, Industri Minta Mekanisme dan Pengawasan Diperjelas
Swasta
Infrastruktur dan Kesiapan Operator Jadi Kunci Adopsi Kendaraan Komersial Listrik
Infrastruktur dan Kesiapan Operator Jadi Kunci Adopsi Kendaraan Komersial Listrik
Swasta
Habitat Terbakar, IUCN Peringatkan Risiko Kepunahan Orang Utan
Habitat Terbakar, IUCN Peringatkan Risiko Kepunahan Orang Utan
Pemerintah
Melihat Kera Berkelompok dan Menyatu dengan Alam di Kemenuh Monkey River Bali
Melihat Kera Berkelompok dan Menyatu dengan Alam di Kemenuh Monkey River Bali
LSM/Figur
Di Mining Expo 2026, PT Indotruck Utama Soroti Kesiapan Ekosistem Elektrifikasi Tambang
Di Mining Expo 2026, PT Indotruck Utama Soroti Kesiapan Ekosistem Elektrifikasi Tambang
Swasta
Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun
Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun
Pemerintah
Perdagangan Karbon Sektor Pertanian, Indonesia Belum Punya Metodologi Hitung Biochar
Perdagangan Karbon Sektor Pertanian, Indonesia Belum Punya Metodologi Hitung Biochar
Pemerintah
Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas Tetap Sebabkan Kerusakan Mutu Gizi
Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas Tetap Sebabkan Kerusakan Mutu Gizi
LSM/Figur
AI Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan Industri Manufaktur
AI Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan Industri Manufaktur
Pemerintah
Cegah Kematian Usia Muda, PBB Dorong Investasi Penanganan Kanker
Cegah Kematian Usia Muda, PBB Dorong Investasi Penanganan Kanker
Pemerintah
Bukan Sekadar Genjot Produksi, Perlu 3 Langkah Strategis Perkuat Sistem Pangan Nasional
Bukan Sekadar Genjot Produksi, Perlu 3 Langkah Strategis Perkuat Sistem Pangan Nasional
Pemerintah
Wamen LH Minta Pemda Susun Roadmap 100 Persen Sampah Terkelola
Wamen LH Minta Pemda Susun Roadmap 100 Persen Sampah Terkelola
Pemerintah
Merancang Transisi Mulus Pasokan Listrik Hijau
Merancang Transisi Mulus Pasokan Listrik Hijau
Swasta
Upaya Restorasi dan Konservasi EIGER Nature Dapat Apresiasi WWF-Indonesia dan WWF Global
Upaya Restorasi dan Konservasi EIGER Nature Dapat Apresiasi WWF-Indonesia dan WWF Global
BrandzView
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau