Editor
KOMPAS.com - Perempuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Surabaya didorong memperkuat kemampuan mengelola keuangan, memanfaatkan teknologi digital, serta mengakses pembiayaan untuk mengembangkan usaha.
Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak dalam program pemberdayaan perempuan pelaku UMKM yang menjadi bagian dari Program LAKSMI (Langkah Akselerasi Kapasitas Usaha Mikro Inklusif) di Surabaya.
Program tersebut melibatkan pemerintah daerah, lembaga keuangan, komunitas, dan akademisi. Pendekatan yang digunakan mencakup penguatan ketahanan keuangan perempuan pelaku UMKM sekaligus memperluas peluang usaha mereka.
Baca juga: Strategi IFG dan Jamkrindo Dorong UMKM Naik Kelas lewat Kekayaan Budaya
Dalam rangkaian peluncuran Program LAKSMI di Surabaya, Mercy Corps Indonesia dan DBS Foundation menerima apresiasi dari Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Menteri Sosial sebagai kolaborator program.
Program LAKSMI merupakan pendampingan usaha berbasis ekosistem yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pengusaha mikro menuju kemandirian sosial dan ekonomi.
Perwakilan Mercy Corps Indonesia mengatakan, pemberdayaan perempuan pelaku usaha mikro membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan komunitas.
Menurut dia, penguatan kapasitas perempuan pelaku UMKM perlu mencakup kemampuan mengelola keuangan, memanfaatkan teknologi digital, serta mengakses pembiayaan.
“Ke depan kami akan terus mendorong agar semakin banyak perempuan memiliki kapasitas mengelola keuangan, memanfaatkan digital, dan mengakses pembiayaan secara tepat,” ujarnya.
Di Surabaya, kegiatan tersebut juga bersinergi dengan sejumlah agenda pemberdayaan wirausaha, termasuk Inspirational Talks yang digelar dalam rangkaian Bursa Wirausaha Unggulan oleh Kementerian UMKM.
Selain pelatihan, program Financial Inclusion for Women Entrepreneurs yang dijalankan Mercy Corps Indonesia dengan dukungan DBS Foundation juga membangun ruang belajar bagi peserta untuk saling berbagi pengalaman, memperluas jejaring, dan mendapatkan akses pasar.
Program tersebut berlangsung sejak 1 Oktober 2025 hingga 30 September 2027 dan menargetkan 40.000 perempuan pemilik atau pengelola UMKM di Medan, Semarang, dan Surabaya.
Baca juga: Bantu UMKM Baru, Wali Kota Solo Gratiskan Sewa Lapak di Pasar Jongke Selama 6 Bulan
Hingga Agustus 2026, program tersebut telah menjangkau lebih dari 20.000 perempuan melalui pelatihan literasi keuangan, literasi digital, manajemen usaha, pemasaran digital, serta akses terhadap produk dan layanan keuangan.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan, kolaborasi dengan pemerintah dan mitra organisasi nonpemerintah diperlukan untuk memperkuat dukungan bagi pelaku UMKM.
“Kami berharap kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk pemerintah dan mitra NGO dapat membangun ekosistem yang lebih kuat lagi untuk kemajuan UMKM di Indonesia,” ujar Mona.
Pembelajaran dari rangkaian kegiatan di Medan, Semarang, dan Surabaya akan dirangkum dalam dokumen rekomendasi yang disampaikan kepada Kementerian UMKM sebagai masukan kebijakan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya